| Rida K Liamsi, Penerima Anugerah Seniman Perdana DKR 2007 |
| Minggu, 17 Pebruari 2008 | |
|
”Keinginan untuk Menulis Itu Tak Bisa Dibunuh”
Rida K Liamsi telah terpilih menjadi Seniman Perdana (SP). Sebuah anugerah yang diberikan Dewan Kesenian Riau (DKR) kepada seseorang yang dinilai tunak, kreatif, mandiri dan karya seninya memiliki pengaruh di blantika dunia kesenian hingga tingkat nasional. Bagaimana ungkapan perasaan Rida K Liamsi atas anugerah yang akan diterimanya secara resmi Ahad malam ini (17/2)? Berikut petikan wawancara wartawan Riau Pos, Andi Noviriyanti dengan Chief Executive Officer (CEO) Riau Pos Group ini. Bagaimana perasaan Anda, mendapatkan penghargaan ini? Ya, biasalah. Bagi saya, penghargaan itu suatu kehormatan yang diberikan. Saya merasa dihargai, merasa kerja diperhatikan, dinilai orang dan saya merasa berterima kasih. Walaupun secara pribadi, saya merasa belum maksimal berbuat suatu sebagai seorang seniman. Saya belum pernah merasa bahwa karya saya merasa betul-betul bagus dalam artian tertentu. Tapi saya bangga karena dalam kondisi bagaimanapun tetap mencoba, terus berusaha untuk menjadi serorang seniman, seorang penyair. Tetap menulis sajak, menulis esai, tetap tampil di pentas-pentas pembaca sajak dan lain seperti itu. Adakah manfaat gelar ini bagi Anda? Mendapat penghargaan ini membuat saya lebih yakin, lebih percaya diri, makin eksislah di dunia kesenian. Engkau ini kan seniman, budayawan, bekerjalah. Konsekuensi seperti itu selalu memberikan dorongan untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Sepadan dengan penghargaan yang telah diberikan kepada kita. Hakikatnya mengerjakan apa yang sudah kita kerjakan dan mencari hal-hal yang baru. Apa gelar SP ini akan Anda pakai? Ya, dilihatlah konteksnya. Kalau saya memakainya bukan karena saya mau gagah-gagahan. Tapi saya menghargai orang yang memberikannya. Sama halnya dengan gelar haji. Saya menghargai panggilan haji itu adalah bagian dari kultur Islam. Menurut Panelis, Anda terpilih menjadi Seniman Perdana karena Anda seorang businessman yang sibuk, tetapi masih mampu berkarya. Anda masih aktif membaca puisi dan terakhir Anda meluncurkan novel Bulang Cahaya, Bagaimana Anda bisa tetap berkarya? Menulis itu sebuah anugerah, sebuah rahmat dan tidak semua orang memilikinya. Menulis itu sama seperti Tuhan memberi kita tangan. Tangan itu adalah anugerah. Salah satu anugerah lainnya adalah menulis. Tidak semua orang diberikan anugerah itu. Nah, bakat menulis, naluri menulis, keinginan untuk mengungkapkan pikiran-pikiran melalui tulisan itu ternyata tak bisa dibunuh. Sesibuk-sibuk apa, seberat-berat apa, kadang-kadang malah di bawah stres, tekanan kuat, menulis itu seperti sebuah dorongan lain untuk mengatasi stres. Cuma memang, saya tidak disiplin menulis. Saya menulis karena mood. Kalau saya sedang tidak ada mood, benar-benar tidak bisa menulis. Begitu ada mood-nya, meskipun di bawah tekanan kerja, stres memikirkan utang kertas, mood menulis muncul. Maka novelnya lama baru siap. Misalnya Bulang Cahaya, pada tahun 1995, waktu masih di Kantor Kuantan Raya, sudah saya muat sebagai sebuah cerita bersambung di Riau Pos. Tapi karena begitu banyak kekurangan, tidak saya jadikan buku. Saya biarkan mengendap, hilang lagi di komputer, karena virus dan segala macam. Novel ini sudah tiga kali ulang, sehingga hampir muntah saya dibikinnya. Dah sepuluh tahun lebih barulah bisa diwujudkan. Kapan mood menulis muncul dan bagaimana akhirnya Bulang Cahaya bisa Anda luncurkan? Tak bisa saya katakan kapan. Kapan saya merasa batin tergerak untuk menulis. Saat menemukan kumpulan puisi kawan-kawan yang bagus-bagus. Kumpulan puisi Goenawan Mohamad, esai, catatan pinggirnya. Entah mengapa setiap kali saya membaca karyanya, selalu terdorong untuk menulis. Saya juga terinspirasi saat mendengar orang baca puisi. Saya tergerak merampungkan Bulang Cahaya itu tahun lalu. Tiap ulang tahun saya ingin ada makna. Dulu, tiap ulang tahun saya kebanyakan membangun perusahaan baru. Di Batam, Medan, dimana-mana. Jadi tiap ulang tahun kadonya perusahaan. Tetapi capek juga. Saya ingin beralih menghasilkan buku. Di rumah memang ada beberapa buku manajemen, autobiografi, tapi rasanya Bulang Cahaya-lah yang harus saya tuntaskan. Jadi Bulang Cahaya saya tuntaskan sebagai kado ulang tahun yang ke-64 (tahun 2007, red). Awalnya saya ingin menghadirkan Bulang Cahaya itu sebagai trilogi. Tetapi karena waktu dan lainnya, jadi dipadat-padatkan. Tetapi kawan-kawan kadang-kadang suka bertanya-tanya juga. Bagaimana akhirnya cinta Raja Djaafar dan Tengku Buntat? Dah saya bilang cintanya dah tenggelam di laut lepas bersama perahu yang membawanya. Tetapi mereka masih menggoda-goda juga. Pasti ada... pasti ada.... (Rida menirukan kata-kata kawannya yang terus menggoda agar dia melanjutkan kisah Bulang Cahaya sambil tergelak). Setelah ini, berapa lagi karya sastra yang akan Anda terbitkan? Menulis itu tak bisa pakai target-target. Saya baru saja punya kesedihan yang sangat luar biasa. 20 sajak saya hilang dari dalam komputer. Itu sekarang sedang saya cari-cari, dimana nyangkutnya. Puisi yang hilang itu ditambah 18 yang sekarang ada, saya ingin menerbitkannya sebagai kumpulan puisi lagi. (Sebelumnya dia telah menerbitkan kumpulan puisi Tempuling. Menurutnya puisi ini baru bisa terwujud setelah 25 tahun). Lebih baik saya kehilangan laptop dari pada kehilangan sajak. Laptop bisa dibeli lagi, tetapi sajak tak bisa diulang. Tak bisa ditulis lagi. Kalaupun diulang tidak akan sama. Terakhir, apa harapan dan pandangan Anda tentang pengembangan kesenian di Riau? Negeri ini sudah menyumbangkan bahasa kepada Indonesia dan kita semua berharap tidak berhenti sampai di situ kontribusi Riau. Masih banyak yang lain-lain yang bisa kita berikan bagi berkembangnya kebudayaan nasional kita. Seniman di Riau harus mampu menggali khasanah budaya Melayu agar bisa menyumbang sesuatu yang luar biasa bagi Indonesia. Misalnya melalui mantera sebagai salah satu kekayaan khasanah Melayu.(fia) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



