• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Sabtu, 30 Agustus 2008 || 28 Syakban 1429 Hijriah
Total SportSaatnya Juara

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

Teras UtamaSepakati Multi Tafsir Perjuangan Pers

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

Ke Depan, Ada Perlakuan Istimewa bagi Penerima Anugerah
Minggu, 17 Pebruari 2008
Laporan Firman Agus, Pekanbaru Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Anugerah Seni yang diberikan Pemerintah Provinsi Riau melalui Dewan Kesenian Riau (DKR) merupakan pertimbangan solidaritas DKR terhadap para seniman. Penghargaan ini diberikan dengan berbagai pertimbangan yang objektif, yang dinilai oleh tim penelis yang berasal dari berbagai latar belakang dan disiplin ilmu serta profesi seperti akademisi, birokrasi, seniman, budayawan yang intregritas, kapasitas dan kompetensinya layak untuk dipercaya.

Itu menjadi otoritas tim panelis untuk menentukan siapa yang layak menerima termasuk menentukan siapa yang tidak layak menerima. Menurut Ketua Umum DKR Eddy Akhmad RM, untuk tahun 2007 selain Seniman Perdana (SP) yang jatuh kepada Rida K Liamsi, tim panelis hanya menentukan tiga dari Seniman Pemangku Negeri (SPN) dari enam cabang seni. Pertama satra yang jatuh kepada Fakhrunnas MA Jabbar, yang kedua musik yang jatuh kepada Arman Rambah dan seni rupa kepada Masteven Romus. Mengapa ada dua kategori yang tidak masuk tahun ini? Karena, menurut Eddy,  tim panelis menilai tidak ada yag layak sesuai dengan kriteria yang mereka tetapkan tahun ini.

‘’Itu saya pikir wajar-wajar saja. Sebab tidak ada keharusan atau kewajiban itu harus ada. Dalam konteks lain, ini mungkin dapat lebih memacu kawan-kawan di bidang yang tidak dapat di tahun ini untuk lebih kreatif. Kedua, DKR sebagai sebuah lembaga pelaksana, betul-betul netral dan tidak memberikan penekanan dan intervensi. Bahkan saya mengimbau sebagai Ketua Umum DKR, bagi pengurus DKR ada yang layak misalnya, untuk tidak dicalonkan,’’ ujarnya.

Sebab, lanjut Eddy, tidak lucu DKR memberi dan DKR menerima. Keputusan ini sekadar untuk membangun imej DKR sehingga tidak tidak ada kesan Anugerah Seni DKR ini sebagai upaya DKR atau solidaritas DKR kepada para seniman. Ini betu-betul pertimbangan objektif.

‘’Dan upaya kita untuk mengimbau pengurus DKR tidak dimasukkan dalam nominasi bukan dalam konteks ingin menzalimi kawan-kawan. Namun ini sebagai konsekuensi dari kesepakatan kita di awal untuk menjadi pengurus DKR yang berfungsi mengurus seniman. Kalau ada kawan-kawan pengurus DKR yang kecewa, justru saya mempertanyakan kesenimannya dia. Karena bagi seniman anugerah bukan tujuan. Terus terang saja ada kawan-kawan di DKR yang layak namun atas pertimbangan itu tadi,’’ ungkap Eddy.

Ke depan, harap Eddy, anugerah DKR ini tidak menjadi beban bagi penerima anugerah. Oleh sebab itu, seniman yang mendapat anugerah selain mendapat nilai nominal yang cukup besar bahkan terbesar di Indonesia yakni Rp75 jt untuk Seniman Perdana dan Rp25 juta untuk masing-masing SPN, DKR juga akan memberikan pelayanan dan aksesibilitas agar mereka dapat tampil dengan mudah di DKR. Mereka akan diberikan ruang tampil di DKR termasuk memberikan fasilitas dan sarana dan prasarana bagi mereka untuk akses berhubungan dengan kesenian termasuk dalam menerbitkan buku.

‘’Mungkin kita akan memberikan card yang berbentuk emas, sehingga saat ada penampilan-penampilan di Pekanbaru ini mereka tidak membayar bahkan mendapat ruang dan kursi sendiri. Ada perlakuan istimewa bagi penerima anugerah ini. Itu ke depan yang kita harapkan,’’ ujar Eddy.

Jadi, lanjut Eddy, tidak lepas begitu saja. Setelah mereka menerima anugerah tidak ada artinya. ‘’Sama seperti Sutardji Calzoum Bachri setelah menerima warga kehormatan. Kehormatan seperti apa yang telah kita berikan kepada Sutardji. Sampai dari Jakarta di Pekanbaru dia naik oplet, naik taksi. Kehormatan seperti apa yang kita berikan kepadanya kalau tidak ada perlakuan yang istimewa dari warga lain. Itu yang akan kita lakukan ke depan. Mudah-mudahan harapan kita ini didukung oleh pemerintah daerah. Dan saya yakin pasti didukung,’’ tegas Eddy.

Sedangkan untuk nilai nominal, Eddy mengakui, sampai yang keempat ini masih sama karena kita keterbatasan dana. Apalagi DKR hingga saat ini mengalami peningkatan program dari 2006-2007. Dalam rentang waktu itu, Eddy mengungkapkan, ada 100 persen kegiatan meningkat. Selain itu Eddy menggaris bawahi bahwa sumber dananya dari pemerintah. Jadi anugerah ni adalah anugerah yang diberikan Pemerintah Provinsi Riau melalui Dewan Kesenian Riau.

Apresiasi Terhadap Seniman Riau

Sementara itu Ketua DPRD Riau drh H Chaidir MM mengungkapkan, Anugerah Seni yang diberikan DKR yang sudah berlangsung dalam beberapa tahun sebagai bukti besarnya apresiasi masyarakat terhadap seniman Riau. Terbukti di situ ada beberapa kategori yang diberikan penghargaan. Jadi tidak hanya sekadar seorang sastrawan penulis, namun juga di bidang musik, teater dan sebagainya.

‘’Saya melihat ini sebagai sesuatu yang bagus dan perlu dikembangkan dan barang tentu memotivasi seniman itu sendiri untuk memacu berkarya memberikan karya terbaik. Karena kan banyak cara orang untuk menunjukkan eksistensinya. Antara lain menunjukkan karya-karyanya di bidang seni sesuai dengan bidangnya masing-masing,’’ ujar Ketua DPRD Riau drh H Chaidir.

Oleh karena itu, Chaidir menilai, dengan banyaknya anugerah di Riau ini sebaiknya dibiarkan berjalan sendiri-sendiri. Karena seperti Anugerah Sagang untuk budayawan, buku dan sebagainya, sedangkan di DKR khusus seniman saja. Seperti adanya Seniman Perdana Seniman Pemangku Negeri dan sebagainya.

Namun Chaidir mengingatkan, reward yang diberikan dengan adanya anugerah itu sebaiknya wajar-wajar saja. Tapi jangan sampai menumpulkan kreatifitas. ‘’Oleh karena itu, sebetulnya tidak boleh dipandang dari besar kecilnya, banyak sedikitnya. Namun dari nilainya. Bahwa memberikan reward dan bantuan adalah sebagai salah satu bentuk apresiasi kita,’’ ujar Chaidir.

Oleh sebab itu, lanjutnya, pemberian reward itu tidak perlu berlebihan. Karena, lanjutnya, para seniman yang sudah punya nama justru tidak akan mau menerima penghargaan yang berlebihan. ‘’Jadi sewajarnya dan sepatutnya,’’ ujarnya.

Saat disinggung tentang hanya ada empat penerima dari enam kategori penerima Anugerah DKR tahun ini, Chaidir menilai kategori tetap saja. Namun barangkali dalam satu periode untuk satu kategori tidak ada karya-karya yang memonumental yang pantas diberikan anugerah. Di sini, Chaidir menilai, bahwa tim penilai cukup objektif. Jadi tidak semuanya dapat anugerah. Kalau tidak ada karya yang monumetal selama setahun, tetap tidak akan mendapatkan anugerah. Walaupun seniman tersebut sudah punya nama.    

‘’Jadi ini akan merangsang seniman itu untuk berkarya terus dan terus berkarya,’’ ujarnya.

Ke depannya, harap Chaidir, mudah mudahan para seniman Riau menghasilkan karya-karya besar. Apalagi dengan iklim dan penghargaan yang diberikan masyarakat diharapkan seniman Riau terus menghasilakn karya-karya besar.(fia)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org