| Septitank Partisipasi Masyarakat itu Telah Terwujud |
| Minggu, 10 Pebruari 2008 | |
|
”Septitank Komunal Harus jadi Contoh”
Septitank komunal bisa menjadi solusi bagi masyarakat yang tinggal di kawasan padat penduduk dan berada di pinggiran sungai Laporan Andi Noviriyanti Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya Memasuki Kampung Bandar, Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru, yang tepat berada di bibir Sungai Siak terlihat sangat padat oleh perumahan warga. Di gang-gang sempit itu, rumah satu dengan rumah lainnya saling berhimpitan. Antara satu rumah dengan rumah lainnya hanya dipisahkan dengan jarak 0,5 meter hingga 1,5 meter. Malah tidak jarang ada dinding rumah satu langsung berbatasan dengan rumah lainnya. Lahan yang serba terbatas itu, membuat septitank, tempat seharusnya kotoran manusia diproses dulu sehingga tidak mencemari lingkungan, menjadi hal yang tidak begitu penting bagi masyarakat setempat. Itulah sebabnya banyak aliran WC mereka rata-rata langsung dialirkan ke Sungai Siak. “Di sini rata-rata masyarakat langsung mengalirkan WC mereka ke badan sungai. Hampir tidak ada yang memiliki septitank. Soalnya masyarakat kesulitan lahan,” ungkap Herman Azhari Lubis, Ketua RW I Kampung Bandar kepada Riau Pos. Kotoran manusia yang langsung dialirkan ke badan sungai itu, menjadi salah satu penyebab pencemaran organik di Sungai Siak. Untuk itulah akhir Desember lalu, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Kota Pekanbaru memberikan bantuan pembangunan septitank komunal bagi 20 rumah Untuk membangun septitank itu, konsep sekedar membangun ditinggalkan. KLH menginginkan septitank itu dibangun dengan partisipasi masyarakat. Maka KLH pun menurunkan konsultan mereka untuk membantu mewujudkan septitank dengan partisipasi masyarakat itu. Fadly Fadhillah adalah nama konsultan itu. Dia menyebutkan septitank itu dibangun dengan melibatkan masyarakat seutuhnya. Mulai dari perencanaan, penentuan tempat, hingga tenaga kerja. KLH hanya membantu memberikan biaya bahan dan peralatan dari pembangunan septitank itu. Karena merasa dilibatkan, masyarakat di Kampung Bandar cukup antusias dengan pembangunan septitank komunal itu. Persoalan lahan juga dapat terselesaikan dengan baik, ketika salah seorang RT mau meminjamkan lahannya untuk membangun septitank ukuran 1,5 m x 3,5 m x 2,5 m. Pembangunan septitank yang mulai direncanakan akhir Desember lalu bisa dilihat wujudnya kini di Kampung Bandar. Septitank itu dibangun dua buah. Satu septitank untuk menampung sepuluh rumah. Menurut Herman Azhari Lubis, septitank itu harus menjadi contoh bagi masyarakat di bantaran Sungai Siak. Kalau tidak, dia khawatir, semakin hari akan semakin banyak pencemaran dari kotoran manusia yang dibuang langsung ke sungai yang dulu terkenal terdalam di Indonesia itu.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





