| Pelajaran Jurnalistik dari Komik Tintin |
| Minggu, 10 Pebruari 2008 | |
|
Laporan AHMAD FITRI, Pekanbaru
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Pembaca mungkin pernah mengenal atau membaca komik Tintin. Atau pembaca memang salah seorang penggemar berat komik hasil karya komikus kenamaan dari Belgia, Herge. Petualangan Tintin atau judul aslinya Les Aventures de Tintin et Milou adalah sebuah serial komik dari Belgia yang bercerita tentang sosok seorang wartawan atau jurnalis belia yang bernama Tintin. Tintin muncul pertama kali pada 10 Januari 1929 dalam serial cerita Tintin di Soviet. Gambar cerita pertama Tintin di Soviet ini menandai kelahiran Tintin di tahun 1929. Dalam serial komik selanjutnya Tintin digambarkan sebagai seorang jurnalis muda yang terlibat dalam berbagai kasus kriminal. Hampir di setiap petualangan diceritakan Tintin melibatkan diri dalam sebuah penyelidikan atau investigasi yang berhubungan dengan kriminalitas. Dalam berbagai petualangannya sebagai jurnalis Tintin selalu ditemani sahabat-sahabatnya. Sahabat paling setianya adalah Snowy, seekor anjing jenis wire fox terrier berbulu putih. Dari beberapa komik yang pernah penulis baca dan VCD yang ditonton terlihat betapa hubungan antara Tintin dan anjing ini sangat dalam. Bahkan mereka telah saling menyelamatkan satu dengan yang lain di berbagai situasi bahaya. Walaupun Snowy hanyalah seekor anjing kecil, namun dia selalu dapat berkomunikasi dengan Tintin secara baik. Selain punya teman setia Snowy, Tintin juga punya sahabat yang tempramental, yaitu Kapten Haddock. Ciri khas Kapten Haddock adalah umpatan dan makian kasarnya, misalnya ‘’Sejuta setan belang! Topan badai! Babon! Monyet!’’ dan lain-lain. Meskipun Kapten Haddock adalah seorang peminum berat, namun kesetiakawanan pada kerabatnya dapat diacungkan jempol. Tokoh lain dalam serial Tintin adalah Profesor Calculus. Tokoh ini pertama kali muncul dalam cerita Harta Karun Rackham Merah. Munculnya tokoh Profesor Calculus merupakan upaya Herge untuk menemukan tokoh profesor yang benar-benar ‘’gila’’ atau linglung. Calculus digambarkan sebagai tokoh yang selalu berwajah kebingungan dan memiliki pendengaran yang lemah. Tapi di balik kelemahan itu, dia adalah seorang profesor yang menjadi penemu dari banyak alat-alat yang digunakan dalam petualangan Tintin dan teman-temannya. Alat-alat itu antara lain kapal selam berawak tunggal yang berbentuk ikan hiu dan roket pendarat ke bulan dan senjata suara frekwensi sangat tinggi. Tokoh lain yang tak kalah lucu dalam komik ini adalah hadirnya detektif ‘’kembar’’ Thomson dan Thompson. Walaupun bukan bersaudara, kedua detektif kikuk ini tampak bagai saudara kembar dan hanya bisa dibedakan dari bentuk kumis mereka. Bersama sahabatnya inilah Tintin selalu berpetualang, baik untuk melakukan liputan investigasi maupun untuk melakukan perjalanan jurnalistik. Membaca komik ini kita akan melihat betapa dunia jurnalis selalu dihadapi pada dunia petualangan yang juga bisa membahayakan. Sejumlah 23 serial Tintin yang ditulis Herge juga mengisahkan petualangan jurnalis berjambul ini di hampir separuh dunia. Petualangan Tintin dimulai dari kisah Tintin di Uni Sovyet dan berakhir dengan Tintin di Amerika. Selain serial itu Tintin juga pernah berpetualang ke Tibet untuk menolong temannya yang terdampar di puncak Himalaya. Bahkan, dalam serial Penerbangan 714 Tintin sempat singgah di Indonesia sebelum terbang ke Australia. Rasa Ingin Tahu Apa pelajaran yang bisa dipetik wartawan dari kisah petualangan Tintin? Yang paling terlihat adalah rasa ingin tahu Tintin terhadap setiap peristiwa. Rasa ingin tahunya didorong oleh adanya kepedulian yang tinggi terhadap kehidupan sosial dan adanya dorongan untuk menegakkan nilai-nilai moral. Dan Tintin merasa kepentingan orang banyak (public interest) lebih utama dibandingkan kepentingan pribadi (vested interest). Herge yang menulis serial Tintin tentu saja bukan seorang pakar jurnalistik ketika itu. Tapi melalui serial ini dia ingin memperlihatkan bahwa bahwa seorang jurnalis perlu memerhatikan berbagai elemen dasar jurnalistik seperti berpihak kepada kebenaran. Elemen dasar yang di kemudian hari dirumuskan oleh wartawan kenamaan Amerika, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme yang diterbitkan di Indonesia pada 2003, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel merumuskan sembilan elemen jurnalisme yang harus diketahui wartawan dan sangat diharapkan oleh publik. Elemen pertama dalam buku itu adalah kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran. Pada elemen kedua disebutkan bahwa loyalitas pertama jurnalisme kepada warga. Elemen jurnalisme selanjutnya dipaparkan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel sebagai wujud pemberitaan jurnalis yang harus berpihak kepada warga. Penerapan elemen dasar jurnalistik seperti inilah yang terkadang membuat wartawan harus berhadapan dengan berbagai ancaman kekerasan. Ancaman kekerasan semakin mendekati ketika mereka berada dalam wilayah konflik. Ancaman kekerasan bukan hanya dalam bentuk fisik tapi juga dalam bentuk kriminalisasi terhadap pers. Masyarakat yang tidak puas terhadap pemberitaan pers sering mengambil jalan pintas dengan mengadukan pemberitaan yang dinilai merugikan itu ke aparat hukum. Akibatnya, akhir-akhir ini sering terdengar wartawan yang mendekam di penjara karena divonis melakukan pencemaran nama baik. Pasal pencemaran nama baik inilah yang sering menjerat wartawan dan mereka harus mendekam di penjara. Jurnalisme Damai Kembali kepada ancaman kekerasan yang sering terjadi saat meliput konflik, wartawan senior Hanif Suranto dalam sebuah workshop jurnalisme damai pernah berujar, ‘’Penyebab konflik adalah terjadinya polarisasi yang menimbulkan ketidakpercayaan dan permusuhan di antara kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat.’’ Dan dia melihat konflik sering terjadi karena terbatasnya sumber-sumber informasi sehingga menimbulkan salah persepsi di masyarakat. Oleh karena itu perlu ditingkatkan komunikasi dan saling pengertian antara kelompok-kelompok yang mengalami konflik. Perlu juga dipahami bahwa konflik tidak selalu diartikan dengan kekerasan. Karena konflik bisa menjadi positif dan konstruktif serta membuka peluang terjadinya perubahan jika dikelola secara efektif. Lantas, apa yang mesti dilakukan wartawan ketika ingin menulis berita yang berbau konflik? Dalam hal ini wartawan bisa dihadapkan pada dua peran, mengintensifkan konflik ke arah kekerasan atau justru mendorong proses resolusi konflik. Peran-peran ini sesungguhnya merupakan pilihan yang keputusannya akan sangat bergantung pada nilai-nilai yang dianut sang wartawan. Dan jika yang dipilih adalah peran yang properdamaian, maka perlu dipikirkan lagi langkah-langkah selanjutnya, apakah wartawan cukup hanya ‘’sekadar melaporkan fakta’’ atau perlu proaktif mendorong proses resolusi konflik melalui informasi yang ditulis. Di sini Hanif mengemukakan peran yang dimainkan jurnalis selanjutnya akan mewakili dua mazhab, paradigma atau aliran dalam jurnalisme. Mazhab itu meliputi mazhab jurnalisme mainstream dan mazhab jurnalisme alternatif. Kedua aliran ini jurnalisme ini dibedakan oleh tiga aspek yang terdiri dari peran jurnalis, pendekatan jurnalisme serta pendekatan khalayak. Di lihat dari peran jurnalis ketika menulis sebuah konflik, mazhab jurnalisme mainstream memperlihatkan peran jurnalis sebagai anjing penjaga (watch dog), komentator dan berusaha untuk independen. Sementara itu dalam mazhab jurnalisme alternatif jurnalis tidak berperan sebagai anjing penjaga tapi membuat sesuatu menjadi mungkin terjadi. Jurnalis juga tidak hanya sekadar komentator tapi sudah menjadi fasilitator. Kemudian sikap independen tetap diperlukan tapi juga menuntut peran yang interdependen. Dari segi pendekatan jurnalisme, mazhab jurnalisme mainstream biasanya menunggu terjadinya kekerasan dan berupaya untuk meliput dari kedua belah pihak yang terlibat konflik (cover both side). Ini tentu saja berbeda dengan pendekatan jurnalisme yang dilakukan mazhab jurnalisme alternatif. Dalam melihat sebuah peristiwa mazhab ini bersikap proaktif untuk mencegah terjadinya kekerasan dan meliput peristiwa secara berimbang dari segala sisi secara kualitatif (cover multi sides). Ternyata mazhab ini berpandangan mengakomodir kedua pihak yang berkonflik saja tidak cukup, tapi harus melibatkan semua pihak terkait. Dari sisi pendekatan khalayak, jurnalisme mainstream lebih menyuarakan kepentingan elit. Mereka berpandangan pemimpin atau pakar yang layak diminta pendapat karena dipandang sebagai pihak yang paling tahu atas masalah yang terjadi. Berbeda dengan jurnalisme alternatif menilai rakyat biasa juga perlu dimintai pendapatnya. Lalu sejauh mana jurnalisme damai bisa berperan dalam menyikapi sebuah konflik? Menurut Hanif, jurnalis yang bermazhab alternatif merupakan jurnalis memegang prinsip jurnalisme damai. Sedangkan jurnalisme mainstream dinilai lebih mengembangkan jurnalisme perang. Jurnalisme damai mulai dikembangkan oleh Johan Galtung, seorang profesor perdamaian asal Norwegia. Galtung mengembangan istilah jurnalisme damai pada 1970-an. Ketika itu dia mencermati banyaknya jurnalis yang menerapkan prinsip jurnalisme perang. Diasumsikan, jurnalisme perang sama halnya dengan jurnalis yang meliput pertandingan olahraga. Yang ada hanyalah fokus pada kemenangan antara kedua belah pihak yang bertanding. Jurnalisme damai diasumsikan sebagai orang yang meliput kesehatan. Jurnalis kesehatan akan menjelaskan perjuangan seorang penderita kanker melawan sel-sel kanker yang menggoroti tubuh penderita. Sang jurnalis tentu akan menceritakan penyebab terjadinya kanker dan memberikan gambaran tentang upaya penyembuhannya serta pencegahan yang bisa dilakukan. Dengan berbagai pandangan ini mungkin para jurnalis bisa memosisikan diri, di aliran mana sebaiknya kita berada? Apakah cukup dengan mazhab jurnalisme mainstream atau jurnalisme perang yang memberitakan sebuah konflik berdasarkan apa adanya. Atau justru ingin berada dalam mazhab jurnalisme alternatif atau jurnalisme damai dengan berupaya melaporkan sebuah peristiwa dalam bingkai yang lebih luas?*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



