| Ivo Bastings MSc, Project Manager Royal Haskononing |
| Minggu, 10 Pebruari 2008 | |
|
Solusi Atasi Banjir Tak Sekadar Drainase Baru
Sejak bulan April tahun lalu, Royal Haskoning, konsultan teknik dan manajemen sumber daya air asal Negara Belanda melakukan bantuan kajian kondisi sanitasi di Pekanbaru. Salah satu kajiannya menyangkut tentang persoalan banjir yang semakin sering dihadapi masyarakat Kota Pekanbaru. Untuk mengetahui bagaimana kajian Royal Haskoning terhadap banjir yang terjadi di Kota Pekanbaru, wartawan Riau Pos Andi Noviriyanti mewawancarai Ivo Bastings MSc, Project Manager Royal Haskononing untuk Wilayah Kota Pekanbaru. Setelah beberapa bulan di Kota Pekanbaru untuk membantu menganalisa persoalan banjir di Kota Pekanbaru, apa saja yang sudah Anda temukan? Persoalan banjir di Kota Pekanbaru cukup susah. Kompleks sekali. Di sini ada 5.000 kilometer drainase, tetapi tidak ada datanya. Pembangunan drainasenya juga tidak mempertimbangkan elevasi (ketinggian). Semua air diarahkan masuk drainase. Kurang sekali upaya untuk menahan air masuk ke taman-taman atau kolam-kolam yang ada. Tempat parkir semuanya disemen. Pertumbuhan bangunan-bangunan baru juga sangat cepat, sehingga ruang terbuka sangat sedikit sekali. Normalisasi sungai juga tidak mengikuti pola sungai alami yang berkelok-kelok. Semua dibuat garis lurus sehingga aliran air menjadi lebih cepat. Saat ini, upaya membangun gorong-gorong yang lebih besar hanyalah solusi sesaat. Hanya memindahkan banjir di tempat itu ke tempat lain. Menurut anda, apa saja penyebab banjir dan genangan di Kota Pekanbaru? Penyebabnya ada beberapa. Pertama, genangan banjir akibat meluapnya Sungai Siak. Kondisi banjir ini adalah fenomena yang hampir setiap tahun terjadi. Terjadi karena pengaruh pasang surut air laut dan akibat curah hujan yang cukup tinggi. Kedua, meluapnya anak-anak sungai karena terjadi pendangkalan baik yang disebabkan oleh sedimentasi maupun sampah. Anak-anak sungai yang telah dangkal itu tidak bisa menampung air dari saluran sekunder atau drainase yang datang. Akibatnya air dari drainase tidak dapat masuk dan lama kelamaan menimbulkan banjir. Selain itu, anak-anak sungai juga mengalami penyempitan karena banyaknya bangunan-bangunan permanen. Kondisi itu mengakibatkan tidak cukup ruang untuk memperbesar anak sungai. Jadi hanya sebatas memperdalam. Namun kendalanya bisa mengakibatkan air balik. Karena elevasi bagian hilir pertemuan anak sungai dengan sungai utamanya lebih tinggi. Ketiga, buruknya sistem jaringan drainase yang ada. Bisa ceritakan lebih jauh bagaimana kondisi drainase yang ada di Pekanbaru? Pertama, di Pekanbaru belum ada sistem jaringan drainase yang terpadu. Kita bisa lihat banyak saluran drainase yang terputus tidak tuntas sampai ke akhir. Kedua, jaringan dan sarana drainase yang ada juga belum berfungsi dengan baik. Disebabkan karena kerusakan, pendangkalan dan kapasitas yang tidak memadai serta dimensi drainase yang tidak sesuai perencanaan. Ketiga, saluran drainase yang tidak berfungsi secara optimal, karena tinggi dinding saluran lebih tinggi elevasinya dari pada elevasi daerah pemukiman. Sehingga air tidak bisa masuk ke dalam saluran drainase. Contoh di Jalan Gotong Royong. Keempat, bangunan perlintasan yang terbangun seperti gorong-gorong masih ada yang dibangun tidak sesuai dengan rencana, baik dimensi maupun elevasinya. Akibatnya pada saat hujan aliran tidak tertampung dan tertahan yang mengakibatkan air balik. Ada pula gorong-gorong yang dibangun posisinya tegak lurus saluran atau pada tikungan tajam. Itu menjadi penghambat kelancaran aliran. Sebagai contoh bangunan gorong-gorong di Jalan Abdul Muis Kelurahan Cinta Raja. Kelima, banyaknya utilitas pipa dan jaringan kabel pada bangunan perlintasan. Sehingga mengurangi kapasitas saluran dan menimbulkan sampah tersangkut yang akhirnya menghambat pengaliran. Sebagai contoh di persimpangan jalan antara Jalan Durian dengan Jalan KH Ahmad Dahlan. Keenam, saluran sekunder sebagai saluran penerima dari saluran-saluran drainase tidak mampu menampung air sehingga mengakibatkan saluran tersebut meluap. Contoh saluran sepanjang jalan Tuanku Tambusai. Sebagian besar saluran sepanjang Jalan Tuanku Tambusai dimana kontur elevasi relatif datar, mengalami pendangkalan sedimen lumpur dan dipenuhi sampah. Akibatnya saat ini air lebih cenderung diam tidak mengalir. Pada saat hujan lebat kondisi tersebut menimbulkan luapan air dan menimbulkan air balik pada saluran drainase yang masuk ke saluran tersebut. Menurut Anda, langkah-langkah apa yang dilakukan untuk membenahinya? Langkah-langkahnya dimulai dengan inventarisasi, kemudian dilakukan modelisasi sistem dengan menggunakan komputer. Dari data modelisasi itu kita lakukan perencanaan lalu diuji coba modelisasi sistem itu. Dilakukan desain dan konstruksi bangunan dan pengawasannya. Yang harus diinventarisasi adalah sistem drainase yang ada. Meliputi demensi saluran, dimensi bangunan dan kondisinya saat ini. Dilakukan juga survey atau penelitian kapasitas anak-anak sungai, survey topografi dan hidrologi. Mencakup masalah data curah hujan dan ketinggian banjir. Barulah kemudian dilakukan modelisasi. Di dalam sistem modelisasi ini akan diketahui pengaruh besarnya limpasan-limpasan air dari catchment area terhadap beberapa titik jaringan drainase yang akan ditinjau. Mengevaluasi bagaimana pengaruh ketinggian muka air pada anak-anak sungai terhadap saluran drainase yang menuju anak-anak sungai. Di sini akan terlihat terjadi air balik atau tidak. Untuk itu, menurut Anda perlu berapa lama? Saya pikir perlu lima tahun untuk membenahi secara keseluruhan. Namun itupun kalau pembangunan di Pekanbaru tidak bergerak sangat cepat. Kalau bergerak sangat cepat tanpa kebijakan untuk menata bangunan yang ada, saya pikir juga tidak akan bisa selesai. Lama sekali, apa tidak bisa dipercepat? Memang perlu waktu yang lama. Karena kita harus inventarisasi dulu. Membuat masterplan-nya. Termasuk melakukan modelisasi dengan menggunakan data base yang ada. Kita telah beli software modelisasi komputernya. Kalau tidak dengan sistem itu, maka drainase yang dibangun akan kacau balau seperti saat ini. Kalau drainase baru sudah selesai, apakah persoalan banjir akan selesai juga? Perbaikan drainase bukanlah solusi banjir utama. Penambahan dan perbaikan drainase adalah langkah terakhir. Karena saya pikir drainase tidak akan mampu menampung seluruh air hujan yang turun. Untuk mengatasi persoalan banjir, harus dimulai dari upaya menahan air selama mungkin sebelum masuk ke saluran. Kemudian melakukan retensi agar air bisa masuk ke dalam tanah dan menjadi air tanah. Itu bisa dicapai dengan menghentikan semenisasi halaman rumah atau tempat parkir. Minimal menggunakan paving block. Upaya-upaya untuk membangun sumur resapan dan kolam-kolam penampung air juga harus dioptimalkan dari sekarang. Semakin banyak air yang bisa masuk ke dalam tanah, maka akan semakin berguna menahan terjadinya banjir.(fia) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



