Kamis, 04 Desember 2008 || 5 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Cari Simpati hingga Lelang Barang ke Afrika Selatan
Minggu, 03 Pebruari 2008
Tyson Membangun Citra yang Terpuruk
Citra Mike Tyson berada di titik nadir setelah tiga kali masuk penjara akibat kasus kriminal. Mantan juara dunia kelas berat itu berusaha membangun kembali reputasinya yang hancur. Salah satunya membantu penggalangan dana sosial untuk anak korban kekerasan di Afrika Selatan. Berhasilkah?
Laporan JPNN, Afrika Selatan

BELUM hilang dari ingatan publik tinju dunia ketika Mike Tyson dijebloskan ke penjara pada November 2007. Meski hanya mendekam selama 24 jam sebagai buntut kepemilikan narkoba jenis kokain, hingga memacu kendaraan di bawah pengaruhnya, banyak pihak yang masih mengelus dada atas tindak tanduk pria berusia 41 tahun itu.

Apakah dengan hukuman yang terbilang ringan tersebut dapat membuat si Leher Beton lantas insaf. Karena bila mengacu pada dua kasus sebelumnya, bisa dibilang terlalu berat untuk diampuni. Yakni kasus pemerkosaan kepada Miss Black America berusia 18 tahun di Indiana pada 1991 yang berakhir dengan dinginnya lantai di balik terali besi selama tiga tahun.

Tujuh tahun kemudian, Tyson dihukum satu tahun penjara, termasuk dua tahun hukuman percobaan dan 200 jam kerja sosial. Itu sebagai sanksi penyerangan Tyson kepada korban kecelakaan lalu lintas yang melibatkan mobilnya. Pada kasus yang pertama, pemerkosaan jelas meninggalkan trauma mendalam yang sulit dilupakan korban.

Itulah yang menyebabkan kedatangan Tyson ke Johannesburg, ibu kota Afrika Selatan (Afsel), mendapat ganjalan. Terutama dari kalangan aktivis perempuan. Padahal, kedatangan Tyson lebih difokuskan untuk acara amal pelelangan barang-barang miliknya yang disumbangkan kepada anak tak mampu maupun korban kekerasan.

Walaupun agenda Tyson yang lain adalah memenuhi undangan promotor Golden Gloves Rodney Berman yang menggelar kejuaraan IBO kelas berat antara Silence Mabuza kontra Eden Sonsona di Emperors Palace, Kempton Park, malam nanti. Berman merupakan rekanan Tyson selain promotor Don King di beberapa pertandingan ketika dia masih aktif naik ring.

Misi mulia Tyson ternyata tak mudah begitu saja diterima. Apalagi masyarakat Afsel sudah terlanjur memberi label kurang baik. Bahkan, Beberapa media setempat menjuluki Tyson dengan julukan The Baddest Man On The Planet (Manusia Paling Jahat di Planet).

Di sisi lain, Afsel juga punya tokoh kontroversi Jacob Zuma yang menjabat Ketua Kongres Nasional Afrika (ANC). Pada 2005, Zuma pernah didakwa melakukan pemerkosaan. Kedatangan Tyson dikhawatirkan mengungkit kenangan kelam Zuma yang karir politiknya sempat terancam akibat skandal tersebut.

Setiap tahunnya, sekitar 50 ribu kasus perkosaan sekitar 150 kasus per hari dilaporkan terjadi di Afsel. Hanya satu dari lima kasus yang dilaporkan ke pihak berwajib. Karena statistiknya yang luar biasa, negara yang pernah dipimpin penetang politik apartheid Nelson Mandela itu merupakan negara dengan kasus perkosaan tertinggi.

Carrie Shelver merupakan salah seorang wanita yang keberatan dengan kedatangan Tyson. Meski Tyson sudah berada di Afsel, setidaknya Zuma tak perlu terlibat. ‘’Tampaknya, seringnya tekanan yang disampaikan di media membuat Jacob mengubah keputusannya,’’ cetus Shelver seperti dilansir Associated Press.


Dia menilai Tyson merupakan sosok yang tak pantas untuk dicontoh. ‘’Ada beberapa keraguan mengenai keberhasilan proses rehabilitasi dia dari ketergantungan obat terlarang. Atas dasar itu seharusnya kalian harus lebih berhati-hati. Anak-anak muda memang target yang mudah untuk dipengaruhi. Mereka senang dengan pahlawan olahraga,’’ imbuhnya.

Kendati Tyson mendapat resistensi dari kalangan aktivis perempuan, sebaliknya dengan sambutan yang diberikan tokoh anti apartheid Winnie Madikizela Mandela. Mantan istri Nelson Mandela itu mengakui petinju yang pernah menggigit telinga Evander Holyfield itu merupakan sahabat lamanya beberapa tahun lalu saat tinggal di New York. (afa/sep/diq)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org