| Mira Nilamsari |
| Minggu, 03 Pebruari 2008 | |
|
Penemu Obat AIDS & Flu Burung
Mira Nilamsari, wanita cantik kelahiran Jakarta 9 Juni 1974 menemukan formula obat penyakit AIDS dan flu burung dengan cara yang unik yakni reinkarnasi. Mira mengalami mati suri beberapa jam. Saat itu ilmu pengetahuan yang dimilikinya hilang dan digantikan oleh ilmu formula obat AIDS dan flu burung. Obat itu diberi nama The Mira e‘ Cantique Perfecto. Kedua jenis penyakit AIDS dan flu burung sama-sama sangat ditakuti. Sebab kecil kemungkinan penderita dapat mengalami kesembuhan kembali. Penderita AIDS, misalnya, mengalami kondisi penurunan kekebalan tubuh karena virus HIV menyerang sel-sel darah putih. Padahal, sel darah putih berfungsi sebagai filter atau penyaring setiap kotoran yang masuk ke dalam tubuh. AIDS biasanya menyerang mereka yang berperilaku seks menyimpang dan tidak aman, atau mereka pengguna narkotika dan obat-obatan berbahaya. Tetapi dunia boleh lega sebab Mira Nilamsari, seorang wanita cantik kelahiran Jakarta 9 Juni 1974 berhasil menemukan formula obat penyakit kelamin AIDS dan flu burung dengan cara yang unik pada tahun 2002, yang lalu diberi nama The Mira e‘ Cantique Perfecto. Disebut unik sebab Mira menjadi penemu obat AIDS dan flu burung dengan cara reinkarnasi. Dimana Mira mengalami mati suri selama beberapa jam, dan saat itu ilmu pengetahuan yang dimilikinya menjadi hilang dan digantikan oleh ilmu pengetahuan yang baru yaitu formula obat AIDS dan flu burung. Penguasaan bahasa asing secara fasih seperti Inggris, Jerman dan Jepang, misalnya hilang seketika untuk digantikan formula obat. Mira yang saat itu menjabat sekretaris eksektif seorang tokoh ternama, sedang menggemari dunia gemerlap (dugem) pula dan rajin ke diskotik bersama teman-teman sebaya sembari menghilangkan stress dan kepenatan hidup, termasuk di dalamnya menjadi pengguna pil ekstasti. Dalam suatu kesempatan ia lalu mengalami jatuh pingsan, dan diketahuinyalah pada saat itu bahwa sesungguhnya selalu ada banyak orang yang mengikutinya kemanapun setiap kali melangkah. Dalam kondisi mati suri itulah kepadanya oleh dunia diwariskan kemampuan dan formula obat penyakit kelamin AIDS. Kendati tahun itu masih 2002 disebutkan pula masih akan datang sesuatu penyakit ganas dengan ciri-ciri tertentu, yaitu penyakut flu burung, dan kepada Mira tak lupa diberikan formula obat untuk menyembuhkannya. Mira yang berpendidikan tinggi D-3 akademi sekretaris dari Aksek LPK Tarakanita, dan S-1 ekonomi dari STIE IBEK Jakarta, kemudian kemana-mana mempopulerkan diri sebagai penemu formula obat AIDS dan flu burung hingga ke Istana Negara. Mira yang mengaku sejak kecil mempunyai kemampuan magic lewat cara belajar, pada tahun 2003 misalnya, memaparkan keahlian barunya di Istana Negara, hingga formulanya pada saat itu spontan diberikan register bernama Indonesia 2003. Dan sebagai penemu, dirinya digelari pula sebagai scientist yang kemampuannya setingkat dengan gelar akademis doktor. Sejak itulah nama anak kedua dari dua bersaudara ini selalu menyebut diri secara lengkap sebagai DR. Mira Nilamsari A.Md, Scientist AIDS FB Medicine. Karena merupakan temuan yang didapat berdasarkan proses reinkarnasi, formula obat penyakit kelamin AIDS dan flu burung itu hanya bisa diketahui oleh Mira Nilamsari seorang diri. Sebab lain, formula ini belum pernah dituliskan atau didokumentasikan secara tertulis tentang bagaimana detail formula dimaksud berikut indikasi dan kontra indikasinya. Formula juga belum pernah ditawarkan ke pihak ketiga untuk difabrikasi sebagai obat AIDS flu burung, misalnya. Menurut Mira, kalangan dunia mengakui dan menghargai formula obatnya sedemikian tinggi setidaknya seharga Rp1 triliun. Formula obatnya sendiri dapat diracik dari bahan dasar tumbuh-tumbuhan berbagai jenis sayuran yang ada di Indonesia. Obat, jika diberikan sebanyak empat kali sehari kepada penderita AIDS berturut-turut selama 100 hari atau 3,5 bulan maka penderita dipastikan Mira akan dapat mengalami kesembuhan. Tetapi, berdasar catatan penggemar musik khususnya musik berirama disko ini, harga obat racikannya jika diberikan dan diterapi sendiri oleh dr Mira harganya mencapai Rp10 juta untuk penggunaan sehari. Karena itu setiap penderita AIDS jika diterapi selama 100 hari berturut-turut membutuhkan biaya pengobatan paling tidak Rp1 miliar baru bisa sembuh. Mira menyatakan sengaja memperkirakan penentuan harga obat berikut penanganannya sedemikian tinggi, supaya tidak setiap orang terpancing berperilaku seks bebas atau free sex kendati tersedia obat penyembunya penyakit kelamin AIDS flu burung. Dengan tarif demikianmahal, berarti pula Mira hanya membutuhkan pasien setidaknya 1.000 orang penderita AIDS Flu Burung dan ditangani sendiri, supaya nilai formula obat yang ditemukannya lewat reinkarnasi bisa tertutupi. Masa Kecil Mira Nilamsari menghabiskan masa kecil hingga dewasa di kawasan elit Kelapa Gading Permai, Jakarta Utara. Scientist muda asal Indonesia yang namanya sudah mendunia ini, sebab terlihat cantik pula, memiliki tubuh yang sehat dengan tinggi semampai 162 sentimeter proporsional dengan bobotnya yang hanya 53 kilogram. Masih tinggal bersama kedua orangtua dan abang kandungnya, Mira dalam berstatus single parent tercatat memiliki 13 anak (anak asuh), dengan hanya mengasuh langsung seorang anak saja yang sudah duduk di bangku kelas dua SD, bernama “Si Ganteng” Muhammad Alvero lahir di Jakarta 7 Mei 2000. Mira semasa kanak-kanak senang bermain berbagai permainan anak-anak dan olahraga, ermasuk lari jarak pendek sprint 100 meter. Mira juga menggemari buku hingga film bertemakan cerita action hingga komedi yang lucu-lucu. Juga menyukai tarian, senam disko, hingga menyanyi. Mira yang sejak 2001 menerjuni pula dunia akting di sejumlah film televisi, walau sebatas peran figuran, serta menjadi bintang iklan salah satu produk mie instan, menyukai adat istiadat tradisional bangsa. Di antaranya budaya Palembang dari Sumatera. Palembang yang terkenal dengan kain songket berbenang emasnya, budaya Jawa Tengah dengan lurik batiknya hingga ukiran. Sebuah kiran Jawa sederhana, misalnya, terpampang di rumah mungil yang didiaminya sejak tahun 1991 di Jalan Kelapa Nias VIII Blok PB 16/2, Kelapa Gading Permai. Memasuki usia puber Mira mulai semakin sibuk mengikuti berbagai les. Musik dan jalan-jalan sudah menjadi aktivitasnya sehari-hari. Ia telaten merawat rambut, yang dianggapnya mahkota yang arus dijaga supaya tetap bersih dan wangi. Juga rajin meminum jamu tradisional, terbuat dari rempah-rempah asli Indonesia untuk menjaga kewanitaannya sebagai perempuan dari wilayah timur dunia, sambil menikmati minuman kopi dan susu sebagai pengisi waktu. Sukses selalu datang dan dekat dengan Mira, yang berhasil menyelesaikan pendidikan di SD I WKA/YWKA dan SD Tunas Karya Jakarta, SMP Tunas KaryaJakarta, dan di SMA Negeri 68 Salemba, Jakarta. Mira kemudian memilih pendidika tinggi akademi sekretaris di Aksek/LPK Tarakanita, dengan harapan dapat berkesempatan memasuki semua bidang bisnis maupun pemerintahan nasional dan internasional. Kepandaian mengetik dengan 10 jari tangan, membuat Mira yang mulai memasuki dunia kerja di tahun 1995 begitu mudah menerjemahkan langsung bahasa Inggris yang dikuasainya dengan fasih. Mira saat itu mengawali karir profesional sebagai notulis di sebuah seminar Persatuan Sarana Administrasi Indonesia (Persadi), berlangsung di Hotel Indonesia, Jakarta dengan menerima honor sebesar Rp 75 ribu, tertinggi diantara para notulis panitia seminar. Honor itu sangat cukup baginya untuk menonton film bioskop dan makan malam (dinner) bersama teman-teman. Selulus Aksek Tarakanita Mira diterima menjadi Sekretaris Rektor STIE-IBEK Jakarta, Prof Dr Laurence Manullang. Di kampus ini, Mira antara lain memperoleh pula kesempatan untuk melanjutkan kuliah S-1 bidang ekonomi manajemen, termasuk melakukan konversi nilai kuliah D-3 sebelumnya, kemudian fasilitas kartu kredit yang dikeluarkan sejumlah bank, biaya pemeliharaan kendaraan, serta gaji tetap sebesar Rp 250 ribu per bulan. Semuanya sangat cukup bagi Mira untuk mentraktir teman-teman sekantor makan bersama. Hanya setengah tahun, sejak 1996 Mira menjadi Sekretaris Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN), sebuah lembaga pemerintah non departemen yang saat itu dipimpin oleh J.B. Kristiadi. Sebagai sekretaris eksekutif yang terlihat cantik membawa-bawa telepon genggam sistem AMPS, ketika itu LAN memberi Mira gaji bulanan sebesar Rp750 ribu. Tetapi, nyatanya Mira sanggup membayar cicilan bulanan kendaraan sebesar Rp 1,8 juta, serta biaya pulsa telepon genggam sebesar Rp350 ribu, sambil tetap bisa bersenang-senang hura-hura menikmati dunia hiburan. Memang, posisi Mira sebagai Executive Secretary to The Head of State Administration hanya bisa bertahan selama beberapa bulan. Saat itu ia sudah larut dalam model pergaulan anak muda seperti tripping, dengan meminum pil yang sebenarnya berguna untuk menjaga daya tahan tubuh atau sebagai obat kuat. Kuliah S1-nya ikutan pula terganggu sebab Mira tak lagi bisa pusatkan pikiran. Ia kemudian kembali ke dunia kerja. Pada tahun 1997 Mira mulai memasuki dunia asuransi lewat perkenalannya dengan sebuah perusahaan asuransi jiwa asal Jepang, Nabasa Life berkantor di Wisma GKBI Jakarta dengan berbagai fasilitasnya. Mira kemudian memasuki dunia marketing di Danamon Aetna Life tahun 1998, denagn harapan memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik. Di Danamon AETNA Life di Jalan Casablanca, Jakarta Mira berkesempatan melakukan sejumlah pembaharuan dengan merekrut anak-anak yang masih kuliah dan yang baru lulus sebagai tenaga marketing. Di sini Mira menunjukkan semangat kerja yang cukup tinggi demi memacu rekan-rekan sekantornya. Ketika mengalami kehamilan tahun 1999 Mira jeda berkaktivitas. Ia mengambil waktu untuk melahirkan dan mengurus anak di rumah hingga tahun 2001. Muhammad Alvero, anak semata wayangyang diasuh Mira seak bangku aman Kanak-Kanak sudah menunjukkan pribadi sebagai anak yang pandai. Ia sangat menyaangi anaknya, hingga berkenan menyibukkan diri bermain dan belajar bersama di rumah, termasuk rutin mengantar-jemput ke sekolah setiap hari.(hbk/berbagai sumber) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



