| ”Melayuonline”: Melayu yang Berlari |
| Minggu, 03 Pebruari 2008 | |
|
Oleh Marhalim Zaini Melayu, sebagaimana juga dunia menulis, bagi saya adalah sebuah ‘kutukan’. Maka dua dimensi melekat padanya: negatif dan positif. Ketika ‘kutukan’ ditafsir sebagai keterpaksaan untuk menerima tersebab tak mampu untuk berkata tidak alias menolak, seperti ‘kutukan’ layaknya riwayat Dedap Durhaka atau si Malin Kundang, maka dimensi negatif menemukan artikulasinya. Dan ketika ‘kutukan’ dimaknai sebagai sesuatu yang tak dapat tidak harus ‘dikerjakan’ tersebab memang garis sejarah hidup terpatri padanya, dan tersebab padanya jualah kemudian kita menjadi ‘ada’, maka ia akan berdimensi positif. Lalu di mana agaknya posisi kita, yang merasa menjadi ‘orang Melayu’ dalam menerima ‘kutukan’ ini? Posisi saya? Dalam sebuah sajak panjang (termuat di Kompas, 24 Juni 2007) berjudul Jangan Sebat Kami Dengan Rotanmu, Jangan Kutuk Kami Jadi Melayu telah pun dengan secara jujur saya susun katalogus pemikiran dan sikap saya.
Hari ini, Riau, adalah juga sebuah negeri yang sedang sibuk menyusun katalogus identitas dirinya. Seolah ada kesadaran baru yang bangkit dari ‘katil tua’ masa silam untuk kembali menegakkan tonggak-tonggak sejarah. Dan Melayu, adalah sebuah tonggak peradaban yang hendak ditegakkan. Riau, catatan sejarah, peradaban Melayu, adalah faksi-faksi yang saling terpaut. Ia kemudian, mau tak mau, menunjukkan ras. Bicara soal ras, adakah sebuah ingatan bersama di sana? Bahwa Tuhfat Al-Nafis jauh-jauh hari bertutur tentang sengkarut fenomena kekuasaan Melayu dan Bugis. Bahwa juga di belahan lain, dunia peradaban Eropa, pun jauh-jauh hari pula membentangkan mimpi buruk orang kulit hitam, menandaskan sentimen biologis. Tapi apakah ke sana perahu kita hendak menghala? Saya kira, bukan ruang eksklusif biologis-artifisial yang dibangun, sebagaimana kekuatiran kita muncul ditingkat pemahaman terhadap identitas kemelayuan, akan tetapi lebih pada ruang ‘ideologis’. Ruang ideologis, hemat saya, hanya dapat dibangun ketika pemahaman kita terhadap sejarah, tak serta merta melepaskan diri dari permaknaan kita terhadap realitas sosial yang sedang bergerak di masa kini. Sehingga, ia tak terkesan fragmentaris, dan tidak kemudian membunuh keanekaragaman hidup dalam sebuah sistem kebenaran yang tunggal. Tapi, tersebab apa, Riau tiba-tiba merasa harus membangkitkan (kembali) kemelayuannya? Bayangan sebuah peradaban macam apakah yang dapat diidentifikasi sebagai kehidupan yang serba ‘Melayu’ itu, ketika justru urbanisasi menjadi tak terelakkan? Apakah sama dengan ketika Barat membangun peradaban modern dengan menaklukkan, menenggelamkan, sekaligus ‘mengatasi’ sejarah ‘yang lain’, khususnya Timur? Asumsi saya, bahwa inilah respon Riau setelah puluhan tahun berada dalam derita diskriminasi, baik sosial-ekonomi maupun kultural. Perlu ada sebuah gerakan kebudayaan yang meneguhkan kembali simbol-simbol yang khas dengan struktur nilai-nilai yang mencerminkan ekspresi puak, sebagai sebuah cara untuk berhadapan dengan dunia luar. Akan tetapi, saya kira tak hanya sampai di situ. Ada ‘politik identitas’ (meminjam Goenawan Mohamad) yang sedang bekerja, bernegosiasi, dan “menekankan kehadiran diri, sikap mempertahankan diri, bahkan posisi menantang”(2002). Politik identitas ini belakangan tampak demikian mengemuka ketika Otonomi Daerah misalnya telah membuka katup pemahaman terhadap proses integrasi daerah-pusat, yang selama puluhan tahun tersumbat. Dan saya pikir, Riau, sebagaimana juga di sejumlah daerah lain, seolah menemukan momentum ini sebagai sebuah laluan lempang menuju penegasan akan identitas diri yang lebih keras dan artikulatif. Namun, soalnya kemudian adalah, strategi macam apa yang telah disusun untuk secara kolektif melakukan gerakan kebudayaan ini? Sudah sejauh mana kiranya, tahapan-tahapan perkembangan untuk menuju ke 2020? Apakah ada yang bertugas mengawal derap langkahnya secara legitimated untuk terus berada di sisi-sisi jalan menuju 2020? Saya agak pesimis jika pencanangan cita-cita besar yang hendak menjadikan Riau sebagai pusat Kebudayaan Melayu di Asia Tenggara, hanya semacam ide/gagasan sesaat untuk masuk ke dalam wilayah narasi besar, tapi kemudian melisut dalam proses implementasinya. Yang tampak kini, justru semacam ‘histeria budaya’, kalau tidak dapat dikatakan sebagai ‘cuma’ sebuah euforia saja. Sebab, ia, narasi itu, masih (tampak) bekerja di tataran konsepsi, masih sebuah seremoni. Subtansi menjadi lenyap dalam leguh-legah keramaian aktivisme kebudayaan, yang secara selintas terlihat tak lebih sebagai lalu-lalang orang-orang sibuk tak menentu. Seolah secara tiba-tiba ‘semua orang’ mengerjakan kebudayaan dengan seleranya sendiri. Tak terlalu salah mungkin, tapi untuk sebuah target menjadi pusat? Entahlah. Hemat saya, harus ada kesadaran baru. Ini soal paradigma. Sebuah pemahaman tentang ‘identitas budaya’ yang tak dapat secara secepat-kilat menjelmakannya dalam kegiatan-kegiatan yang instant. Harus ada gerakan-gerakan yang secara intensif dan berkala mendampingi narasi besar itu. Harus ada upaya yang sinergis antara berbagai komponen yang meliputi negara dan rakyat, kekuasaan dan massa, pun media, untuk secara bersama menegakkan sejumlah pilar penyanggahnya. Agak ironis, dan timpang, jika cita-cita menjadikan Riau sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan, namun masih demikian berdesakan orang-orang kampung yang susah cari makan, dan masih demikian gamang menatap masa depan. Kebudayaan macam apa yang dapat kita bayangkan bentuknya jika kemudian membangun ‘rumah adat’ yang megah di tengah rumah-rumah papan yang rumpang dan hampir tumbang? Lalu bagaimana cara kita mendekati kebudayaan yang sudah terlanjur dipercayai sebagai sebuah ekspresi komunal dari sebuah masyarakat yang bergerak? Jawabannya adalah terus berproses untuk membuat Melayu (sebagai sebuah identitas budaya) terus bergerak, bahkan berlari. Sebab ia kini hidup di zaman yang serba berlari. Melayu harus berlari menemukan sebuah konsensus yang telah sejak lama tersedia dalam nilai-nilai tradisi. Kini banyak keyakinan bangkit tentang kuasa lokal dalam upaya melumpuhkan serbuan kekuatan modernitas yang memang telah jadi sifatnya untuk menembus batas-batas. Maka seolah juga kini modernitas juga ikut mendekat-merapat masuk ke wilayah tradisional dalam berbagai penjelmaannya. Dan ini sebuah proses dialektis. Salah satu upayanya, saya kira, adalah justru masuk ke dalam gairah era teknologi. Di mana ruang bebas lintas batas itu, yang disuguhkan modernitas itu, justru menjadi ruang efektif bagi dunia tradisi untuk menggerakan kehidupannya kembali. Maka ada yang fresh, kalau kita menjenguk sebuah situs berlabel www.melayuonline.com (atau kerap disingkat dengan Melon). Ada yang sedang menemukan gairah hidupnya kembali di sana. Melayu, sebagai sebuah entitas budaya terasa menjadi ‘besar’ dalam jejaring kebudayaan dunia. Ada kampung-kampung yang sedang merayakan ‘jati diri’-nya dalam optimisme yang tinggi. Panji-panji etnisitas kemudian dikibarkan dalam sebuah ruang dialog yang luas, terbuka, dan tentu saja dengan begitu, telah siap untuk ‘diganggu’ oleh berbagai entitas yang lain, ideologi yang lain, dari sejarah dunia yang lain. ‘Ketergangguan’ inilah, saya kira, yang akan menguji apakah kebudayaan Melayu memang sebuah kebudayaan yang besar, sehingga tak lekang oleh musim, dan tak lapuk oleh zaman. Melayu, dalam Melon, tak sebatas sebagai atribut budaya yang klise dan artifisial, akan tetapi telah menyuguhkan kekayaan berupa data, peristiwa, artefak, simbol-simbol, dan berbagai sistem nilai dan pemikiran yang terkandung di dalamnya. Satu tahun usianya, tak menunjukkan bahwa ia masih ingusan dan hanya sedang bermain-main. Justru yang tampak adalah profesionalisme kerja dalam sebuah semangat berproses yang tunak. Sebagai sebuah proses, maka dapat dimaklumi bahwa masih cukup banyak pekerjaan rumahnya yang harus terus dibenahi. Terutama melengkapi sejumlah data dan peristiwa yang menghiasi rentang panjang sejarah perjalanan peradaban Melayu, tak hanya Riau, tapi dunia. Atau juga melengkapinya dengan berbagai peristiwa kebudayaan terkini, karya-karya kebudayaan Melayu terkini, yang sedang dikerjakan oleh generasi terkini. Sehingga melon kian juga menjadi ruang ekspresi baru dan ruang alternatif bagi para generasi muda Melayu untuk melakukan penggalian terhadap kekayaan khazanah kebudayaannya, lalu melakukan tafsir atasnya dalam karya-karya kebudayaan mereka. Tentu, dengan cara dan titik pandang orang muda. Dengan gairah dan keliaran yang beragam. Sehingga mereka kelak dengan bangga berteriak lantang menjadi generasi ‘Melayu Kontemporer”. Tabik, Melon!*** Marhalim Zaini, anggota Forum Masyarakat Prihatin Budaya (FMPB), koordinator Komunitas Paragraf. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





