| Jenazah ”Keranda Jenazah…” |
| Minggu, 03 Pebruari 2008 | |
|
(Telaah Buku Kumpulan Cerpen “Keranda Jenazah Ayah”, Bagian 2/Habis) Oleh Gde Agung Lontar Cerpen dengan metafora yang cukup kuat juga muncul dalam “Kurap” karya Nyoto. Dengan agak-agak perasaan geli-geli jijik saya membaca cerpen ini, dan makin menjadi-jadi ketika merayap ke daerah pantat. Tetapi Nyoto mungkin tidak peduli seperti katanya, “Dikau ni budak kecik, apalah tau rasa sedap orang”. Sepanjang pengamatan saya, Nyoto sepertinya memang suka meneror pembaca dengan cerpen-cerpennya; mudah-mudahan kalau dia ada di sini dia tidak akan meneror saya pula dengan pertanyaan-pertanyaannya. Tetapi, terus terang, saya merasa agak kehilangan “Segerombolan Anjing”.
Membaca cerpen-cerpen Olyrinson entah kenapa selalu serasa menyesakkan dada dan tak jarang dengan keharuan yang mendalam. Demikian juga yang dapat kita simak dalam “Keranda Jenazah Abah” ini. Padahal saya tergolong seorang yang pembosan. Cerpen-cerpen Oly hampir selalu bertokohkan anak kecil, orang tua yang sengsara, dan perusahaan besar yang membuat mereka semua menjadi sengsara. Plot yang hampir selalu serupa dalam berbagai cerpennya, sesungguhnya berpotensi untuk membuat saya bosan. Tetapi entah sihir apa yang digunakannya, itu ternyata tidak terjadi. Rangkaian kata-kata, bar dan irama yang bagai ditata tangan-tangan magis, membuat saya tetap terpesona. Ini bukan hiperbola. Kata kuncinya mungkin terletak pada pencapaian estetika, meskipun secara sederhana. “Keranda Jenazah Abah” sekali lagi menunjukkan siapa Oly. “Rumahku untuk Pulang” karya Pandapotan MT Siallagan adalah cerpen yang terkesan menjebak. Alur dan teknik penceritaan yang dikembangkan seperti mengarahkan kita pada unsur-unsur romantisme sekaligus heroisme, namun di akhir cerita pembaca dibanting dengan semacam pengkhianatan yang hampir-hampir tidak logis dengan jalan cerita yang telah dibangun. Sementara itu Ragdi F Daye dengan “Lantai Hotel untuk Menangis” sesungguhnya mengandung sinisme terhadap fenomena yang berkembang belakangan ini. Yaitu acara-acara yang bersifat religius di hotel-hotel berbintang, zikir-zikir bersama, atau acara yang berhubungan dengan penyembuhan kejiwaan. Kegiatan-kegiatan yang sesungguhnya banyak yang mengandung kontradiksi dan kepalsuan. “Ketika di Selatpanjang” karya Ranti A sesungguhnya berpotensi untuk menjadi cerpen yang cukup menarik. Gaya penceritaannya yang sederhana, dengan alur yang terasa cukup lancar, membuat pembaca merasa cukup nyaman membacanya. Sayangnya konflik yang dibangun terasa kurang jelas. Sementara itu “Buaya Itu Telah Mati” karya Rita Achdris menariknya mengandung unsur parodi dalam metaforanya. Dan Saidul Tombang dengan “Mumbang” adalah penurunan yang cukup tajam dibandingkan “Salsa”. Dengarlah opening “Salsa”: Berceritalah kepadaku tentang ketulusan, selaik putihnya putik melati dan cahaya pagi tanpa renda jelaga. Kisahkan juga kepadaku tentang indahnya cahaya bulan setaji ayam …. Sobirin Zaini dengan “Dendam Abah” kalau di masa Orde Baru bisa dituduh provokator. Cerpen ini seperti menyarankan perlawanan kepada penguasa (yang lalim), meskipun sayangnya dengan cara main belakang. Konflik yang dibangun pun kita sudah mengenal secara umum: “Tapi, tidak demikian halnya bagi mereka, bagi para pengayuh becak seperti Abah Khalid dan kawan-kawannya, kekayaan yang melimpah itu sampai saat ini seperti tak pernah dirasakan. Kekayaan negeri itu hanya sebuah dongeng. Dongeng yang mereka dengar dari mulut orang-orang. … Karena kenyataannya, semua yang dibanggakan itu tak dapat mensejahterakan rakyat ….” Cerpen “Kawin” karya Sutrianto tiba-tiba memberikan suasana yang berbeda. Tampil dengan kalimat-kalimat ringkas atau bahkan tak lengkap, cerpen ini membuat kita seperti manusia yang terbata-bata. Sesungguhnya ini cerpen berpotensi untuk menjadi cerpen suasana; tingggal 2½ angka lagi mungkin ia dapat mencapai tingkat “Seribu Kunang-kunang di Manhattan”. Sayangnya konflik yang dibangun seperti terasa dibuat-buat, dengan beberapa tindak kekerasan yang membuat pembaca merasa kurang nyaman. Untuk Syaifuddin Abdullah dengan “Laut Ini, Pernah Marah!”, selamat datang juga. Sedang “Bus Misterius”-nya Syafrizal Sutan Malano mungkin lebih tepat dimuat di majalah Misteri atau Liberty, misalnya. Bukan dengan maksud ingin mengatakan bahwa tema misteri terlarang dalam ranah sastra, tetapi hanya masalah pencapaian estetika. “Tiga Pertapa” dari Leo Tolstoy juga cerita misteri, tetapi ada sesuatu yang membuat kita berkontemplasi. Demikian juga dengan cerpen-cerpen Budi Darma dan Danarto misalnya, sesungguhnya juga mengandung unsur misteri. Epilog Entah kenapa sejak pertama kali melihat buku antologi ini saya tidak bisa menahan hati untuk memberinya judul “Jenazah ‘Keranda Jenazah…‘“. Entah kenapa pula dalam pembahasan buku ini saya juga tidak mampu menahan hati untuk menulis yang langsung menohok kepada masing-masing person, padahal engkau tahu hal yang seperti itu akan sangat berbahaya. Siapakah engkau, Gde? Apakah engkau memang memiliki hak untuk melakukan itu semua? Apakah engkau memiliki latar belakang ilmu sastra yang mumpuni, atau paling tidak orang-orang telah mengangkatmu sebagai seorang juri? Padahal engkau tidak mengerti apa-apa, tidak tahu teori-teori sastra, apalagi hingga masuk ke dalam wilayah linguistik. Entah kenapa supaya “aman” saya juga tidak mampu membuat tulisan seperti yang dilakukan Abel Tasman, Fakhrunnas MA Jabbar, Marhalim Zaini, atau pun Griven H Putra sekadar menyebut beberapa nama yang “hanya” bergerak di tataran bunga-bunga, kembang-kembang, hiasan, relief, ornamen; lalu menggabungkan inti berbagai karangan itu seolah-olah ingin menunjukkan inilah kelebihan dan kehebatan cerpen-cerpen Riau, atau paling tidak yang dimuat di Riau Pos. Terus terang saya sudah berusaha mencobanya dalam waktu yang sempit itu, mencari kembang, hiasan, ornamen; yang kiranya dapat dirangkai-rangkai menjadi bangunan yang indah. Mohon maaf, saya tidak berhasil menemukan itu di sini. Saya tidak setuju ketika dalam pengantar antologi 2006-nya HBK menulis bahwa “… karena dalam sastra, kualitas sebuah karya amatlah sumir dan relatif”. Untuk beberapa segi kualitas sebuah karya sastra terasa jelas dipampangkan; atau dalam beberapa kejadian tidak begitu kelihatan. Dalam perlombaan, dalam sayembara, dalam antologi pilihan, hal itu terlihat cukup nyata. Pengasuh rubrik sastra di media mau tak mau akan memilih yang dianggap terbaik dari puluhan atau bahkan ratusan karya-karya yang datang dalam periode itu. Lalu kenapa ada perbedaan nuansa kebanggaan ketika sebuah karya dimuat di Kompas dibandingkan di koran daerah, misalnya; atau di Horison berbanding Aneka, misalnya. Semua kebanggaan itu jelas karena berkaitan bahwa seorang pengarang itu sudah berhasil mencapai tingkat tertentu dalam berkarya yang diakui dengan termuatnya karyanya pada media yang membanggakan itu. Sutardji Calzoum Bachri (SCB) bahkan menyatakannya dalam bentuk pernyataan negatif beberapa puluh tahun yang lalu. Dalam esai berjudul “Beberapa Penyakit dalam Cerpen Indonesia” yang termuat dalam buku Cerpen Indonesia Mutakhir (ed. Pamusuk Eneste, 1983), SCB menulis ada empat kriteria penyakit dalam cerpen Indonesia, yang dengan demikian mau tak mau akan merujuk kepada kualitas suatu karya. Untuk kepentingan kita semua, mungkin ada baiknya saya kutip secara ringkas keempat kriteria itu. Pertama, abstraksi: menyuguhkan yang abstrak secara abstrak pula. Ide, fislsafat, sistem-sistem moral dan sebagainya dibiarkan tetap abstrak di dalam cerpen. Cerpen yang baik mengkongkretkan yang abstrak. Menangkap yang abstrak lalu menghidupkannya dalam peristiwa-peristiwa, momen-momen, dan karakter. Kalau tidak, itu namanya tulisan filsafat, khotbah dan semacamnya dan bukan cerpen. Fariz dan Murparsaulian di antaranya nampaknya punya kecenderungan seperti itu. Kedua: kecenderungan ingin merangkum terlalu banyak ide-ide, hal-hal, peristiwa-peristiwa dan kehidupan dalam sebuah cerpen. Cerpen bukanlah novel yang disarikan. Bila novel adalah gajah, cerpen bukan gajah mini melainkan makhluk lainnya lagi. Ketiga: kurangnya disiplin menulis. Cerpen ditulis begitu saja, tanpa memperhitungkan dengan cermat cara penyampaiannya (style). Style menambahkan pada suatu pikiran tertentu semua hal-hal yang wajar untuk menimbulkan seluruh efek yang seharusnya dihasilkan oleh pikiran tersebut; kata Stendhal. Penyakit ini terdapat pada kebanyakan pengarang. Keempat: kurangnya ketrampilan dalam menggunakan bahasa Indonesia. Konstruksi kalimat bahasa Indonesia sering dicampuradukkan saja dengan konstruksi bahasa daerah. Pada batas-batas tertentu inbi bisa diterima, misalnya untuk mendapatkan suasana lokal yang sering dipakai dalam kalimat-kalimat langsung. Tetapi kalau naratornya yang mencampuradukkan tentulah sangat mengganggu. Penyakit ini juga banyak terdapat di kalangan pengarang. Dari buku yang sama, saya juga melihat ada yang bisa ditambahkan pada esai SCB di atas. Jakob Sumardjo dalam “Umar Kayam: Memotret Suasana Batin” menulis bahwa kalau kita membaca cerpen atau novel sekarang ini, rata-rata mereka masih menekankan pentingnya pemaparan kejadian lahiriah. Di dalamnya memang ada perkembangan, perubahan, atau peristiwa, tapi terbatas pada mata. Dan mata hanya mampu melihat permukaan saja. Memaparkan proses perkembangan kejadian hanya melalui “pandangan mata” persis seperti pelukis naturalis yang memindahkan apa yang dilihat mata ke dalam kanvas. Kalau sudah begini, mengutip Maman S Mahayana, di manakah letak (Melayu) Riau dalam peta kesusasteraan Indonesia? Dalam berbagai kesempatan kita selalu menyanjung-nyanjung sejarah cemerlang sastra dan bahasa kita ratusan tahun yang lalu. Dalam konteks kesejarahan, atau dalam usaha memupuk kebanggaan anak negeri sehingga dapat menjadi pemicu semangat paling tidak dalam usaha meraih kecemerlangan yang sama, itu memang ada baiknya. Tetapi ketika hal itu diulang-ulang, bahkan vitamin pun dapat menjadi racun. Biarlah itu semua menjadi pembelajaran, menjadi petunjuk, menjadi sejarah; tetapi bukan menjadi belenggu sehingga muncul kata-kata kanak-kanak, “Bapakku bupati.”, “Bapakku jenderal, lebih hebat bapakku, kan?”; padahal mereka sendiri hanyalah kanak-kanak dengan ingus yang berlelehan.*** Gde Agung Lontar adalah sastrawan Riau. Telah menerbitkan beberapa antologi cerpen dan novel. Esai ini adalah bahan diskusi dalam acara bedah buku Keranda Jenazah Ayah (dengan sedikit penyuntingan) yang diselenggarakan oleh Komunitas Paragraf pada Ahad, 23 Januari 2008 di Galeri Ibrahim Sattah, Pekanbaru. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





