• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Jumat, 05 September 2008 || 5 Ramadan 1429 Hijriah
Total SportAncaman Kudeta

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Teras UtamaUrip 20 Tahun Penjara

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Sentakan
Minggu, 03 Pebruari 2008
Oleh YUSMAR YUSUF
”Teka-teki hidup, teka-teki kematian, keindahan jenius, keindahan cinta, dan semua itu ya kita sudah mengerti. Adapun  mengenai tetek-bengek seperti membentuk kembali dunia tentang hal-hal demikian, maaf bukanlah buat kita”. Inilah rintihan Lara di samping jenazah Dr Zivago, yang merenung percintaan mereka.

Bahwa kemerdekaan dan kebebasan sejati akan datang dan menyeruak, adalah sebuah khayali belaka, tanda ada ikhtiar yang dikemas mengarah pada kemerdekaan dan kebebasan.Juga sebuah khayali adanya. Terkadang, kebebasan untuk suatu kumpulan, adalah bagian dari keterkukungan pada kumpulan yang lain. Kemerdekaan yang dipetik pada sebuah bangsa adalah nestapa bagi bangsa yang lain. Demikianlah dunia dan tabiat alam bergelora dalam sentakan-sentakan yang tak terduga. Harga komoditas yang tak terkendali, adalah sebuah sentakan mengenai kemerdekaan kita tentang pengaturan komoditas bernama kedelai dan minyak. Manusia Indonesia, adalah wajah dari kemerdekaan atas kolonial fisik, tetapi kita adalah juga wakil dari keterjajahan formal dalam gemuruh kolonialisme kapital dunia.

Pembangunan yang dilakukan, hanya setakat mengurus perbuatan-perbuatan dalam mimpi satu malam. Bukan bertolak dari pemikiran yang menjangkau dan  merengkuh zaman yang begitu jauh. Pembangunan bukan dihajatkan untuk menyulam dan menyatukan energi-energi yang tersedia dalam masyarakat. Pembangunan adalah peristiwa meng-ada-kan proyek-proyek. Terkadang, tak jarang, hanya sebuah duplikasi kegiatan, tiruan proyek yang bertujuan menghabis-habis anggaran dan waktu. Peristiwa meng-ada-kan ini, kemudian diramu menjadi “makanan” bersama, khusus untuk para kroni dan kaum-kerabat dekat secara politik dan ideologi. Yang lebih parah lagi, kerabat dekat itu dipersempit menjadi kerabat sekampung, sealiran sungai. Maka, ketika duduk menjadi bupati dan gubernur, yang diurus dan dibangun, hanya melayani nafsu-nafsi kroni yang tiada ukuran sudahnya.

Ihwal inilah yang merupakan tetek bengek pembangunan yang keluar dari pakem besar bernama; merakit energi-energi yang tersedia di dalam masyarakat.. Pembangunan tak lebih dari permainan kata, dari mereka yang berkuasa. Demikian pula dengan pembangunan kebudayaan, yang dipersempit menjadi sebuah arak-arakan dengan mengambil posisi bertepi-tepi. Kalau pun bergemuruh, gempita itu tak lebih dari sorakan demi melayani kepentingan-kepentingan istana sentris, baik yang berwujud dalam kaidah-kaidah istana masa lalu maupun untuk kepentingan istana kekinian. Persepsi mengenai pusat kebudayaan pun, hingga hari ini pun baru sebatas jargon, dan tidak diwujudkan dalam bentuk tindakan dan program yang terencana. Semua orang berhak mengatakan demi menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu. Tapi tidak berangkat dari pemikiran besar. Walhasil pusat kebudayaan Melayu tak lebih dari sebuah impian dan idaman yang tak berkesampaian. Visi pusat kebudayaan telah dieksploitasi menjadi kenderaan yang ditunggangi, disoraki dan disentak-sentak pada batas-batas pengadaan proyek-proyek tanpa parameter.

Dan begitulah sentakan demi sentakan belangsung dalam gelap dan terang. Perkataan ‘Melayu’ ibarat menjadi karcis masuk untuk dapat berbuat sesuka hati, menabrak semau kehendak, yang dibungkus dengan gerakan dan perangkat petatah-petitih. Bermodal waktu yang sempit, orang Melayu di kampung sendiri, bercumbu dengan waktu dan anggaran untuk menghabiskan sisa anggaran dalam kemasan festival Melayu berskala dunia. Tapi, negara Melayu yang hadir hanya diwakili oleh satu puak. Inilah salah satu bentuk, bahwa Melayu menjadi sesuatu yang dipertukangi, dan ditunggangi siang dan malam. Dikecoh dan mengecoh dunia. Bukan saja dunia, tetapi secara telanjang dan kasat mata, dipelintir demi ekstasi kekayaan sesaat.

Sehari-hari kita berbincang dan membincangkan segala ihwal dan karya yang berlandas akal budi. Pada seberang tebing yang lain, akal budi ditelanjangi dan ditinggali bulat-bulat dalam kebekuan membatu. Sehingga akal budi, juga tak lebih dari permainan kata, sebagai idiom mengenai tetek bengek tentang kehidupan yang lain. Orang tak lagi membicarakan mengenai keindahan jenius, keindahan cinta dan segenap khazanah akal budi yang mulai dan dijunjung pada aras tinggi. Semua orang berpacu mencuri kesempatan yang tersedia dalam gelombang waktu yang sangat sempit dan pendek.

Kecemerlangan Melayu yang dianggap dalam persepsi hari ini, tak lebih dari permainan-permianan kecil dan berpangkal pada pemikiran yang serba kecil pula, meskipun menghambur-hamburkan dana yang demikian besar. Maka berkeliaranlah para pemain yang mengatas-namakan Melayu, menunggangi Melayu secara stakato tinggi dan memelas. Semuanya berupaya memeras dan menguras. Sumur bening Melayu dikuras sejadi-jadinya. Sehingga kering kerontang hingga ke dasar-dasarnya. Kaum Melayu melengking seraya bersorak, dan bertempik mengatakan kami adalah kebudayaan yang tinggi dan pantas dihormati. Segala anak cucu Melayu di tanahnya sendiri bebas berbuat apa saja, dengan warna dan rona apa saja.

Kita yang membangun lingkaran setan Melayu itu, akhirnya terperangkap dalam perangkap buatan sendiri. Bak naga yang membeku di puncak gunung bersalju, yang dibawa ke kota dan dipertontonkan pada khalayak ramai. Maka dengan bangga sang penemu naga ini menjelaskan makhluk purba yang ditemui di puncak gunung itu kepada segala polan yang datang dan mendatangi hamparan datar dengan pertunjukan, naga beku.  Jenang waktu yang bergerak dan iklim yang demikian panas, akirnya kebekuan sang naga mencair, dan naga itu ternyata hidup kembali di tengah-tengah kerumunan manusia. Naga menggeliat, dan manusia pun dilahap satu persatu oleh makhluk purba yang lapar yang dikira telah membeku dan mati itu. Melayu, memerani naga yang membeku itu dan dia dipertontonkan dalam gaya-gaya serba bodoh dan membodohkan. Akhirnya Melayu (yang menjelma menjadi naga itu) berubah jadi pemangsa dan penerkam kepada segala anak-anak Melayu yang telah berbuat culas, menjual rasa Melayu, menunggangi Melayu baik secara kebudayaan, politik dan bertindak dalam perniagaan. Inilah sebuah amsal yang diperlihatkan dalam salah satu kuplet Matsnawi Rumi untuk menjelaskan mengenai keperkasaan masa lalu dan sesuatu yang dianggap membeku selama ini.

Kita yang tengah melakukan perjalanan, tak tau ke mana hendak menuju dan berhenti. Ketika kita menyalahi orang dan kebudayaan orang lain, dan merasa benar sendiri, pada saat itulah kebenaran yang dianggap selama ini menjelma menjadi naga yang membeku, dan pada suatu ketika dia akan meronta dan melahap segala apa yang tersedia dan terhindang di depan mata. Melayu menjadi timangan, sekaligus menjadi sentakan dan Melayu juga tak lebih dari gejala sampah dari perjalanan kebudayaan Manusia di permukaan bumi. Ihwal ini terjadi dan terwujud ketika Melayu didatangi dengan pemikiran kecil dan serba sesaat. Demi kepentingan politik sesaat, demi melayani kecerdasan selebritas sesaat. Sesungguhnya, kita juga merindukan sebuah keindahan kecerdasan yang berdimensi kecerdasan dialektikal, bukan kecerdasan populis yang senantiasa mengukur kecerdasan dan  kebenaran dari tampilan fisik yang serba salon dan dipersalonkan.***

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org