• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Ahad, 07 September 2008 || 6 Ramadan 1429 Hijriah
Total SportBungkam Kritik

Minggu, 07 September 2008

article thumbnail

Teras UtamaKloter Haji Pertama Berangkat 5 November

Minggu, 07 September 2008

article thumbnail

Di Naxos …
Minggu, 03 Pebruari 2008
Oleh HASAN JUNUS
Di Naxos … di Pulau  Naxos, aku ditinggalkannya. Seorang diri. Mereka terus berlayar menuju Hellas. Siapa mereka? Theseus dan Phedra …Inilah yang bergema dalam gubahan musik karya Richard Strauss tahun 1912, sebuah opera yang berjudul ‘’Ariadne auf Naxos’’. Malam itu, penghujung tahun yang dingin  di Bandar Serai Pekanbaru opera ini sedang disimak dengan penuh atensi oleh Al Azhar dan Zuarman Ahmad untuk membuka imajinasi mereka kepada penciptaan karya sendiri. Mereka mencari padanan tokoh Ariadne (dan tokoh-tokoh lainnya) di dalam khazanah sejarah dan budaya di kawasan ini untuk memadankan semangat universal yang mereka pahami. Kedua lelaki di Bandar Serai itu asyik mendengarkan dengan seksama suara rintihan pedih Ariadne yang dibawa angin sampai jauh bersahutan dengan bunyi cemooh bersatu suara oleh  Theseus dan Phedra. Deru rintih dan desau ejekan dan cemooh lalu muncul dalam karya yang mengisahkan tentang seorang perempuan muda yang hanyut terlena di pantai pulau Nexos...   
 

”NAMAKU Ariadne,’’ kata perempuan muda itu, ‘’puteri Minos, raja Kreta, dari permaisurinya Pasiphae. Aku setengah mati mencintai pangeran Athena Theseus, putra Aegeus dari permaisurinya Aethra. Aku setengah mati cinta kepada Theseus. Makin ia berpaling dariku makin bergetar hatiku. Orang bijak mengatakan dalam hal seperti ini di hati sudah tertulis namanya. Akan tetapi cintaku kepada Theseus menjadi kasih tak sampai yang teramat sangat pedih. Lebih pedih dari mati…’’ Tidak salah, memang lebih pedih dari mati.

Memang lebih pedih dari mati, karena dia telah dikhianati oleh sang pangeran Athena. Selalu ada pengkhianatan dalam kisah anak manusia. Pengkhianatan macam apa yang telah terjadi kepada diri Ariadne?

Theseus datang ke Kreta dengan tekad untuk melawan dan kalau dapat bahkan memusnahkan minotaurus. Ia berhasil mencapai hasratnya karena bantuan Ariadne yang antara lain memberikan segulung benang agar tidak tersesat di dalam labirin. Rupanya labirin tempat minotaurus hidup itu tidak terlalu menyesatkan kalau dibandingkan dengan labirin hati manusia.

Labirin dalam hati Theseus jauh lebih rumit dari labirin tempat tinggal minotaurus. Dan labirin dalam hati adik perempuan Ariadne, Phedra, jauh lebih rumit dari labirin yang ada dalam hati sang pangeran Athena. Labirin dalam hati Theseus dan Phedra berhadapan dengan Ariadne menciptakan labirin baru yang jauh lebih rumit dan sangatlah menyesatkan.

Karena di hati Ariadne sudah tertulis nama Theseus, dia berupaya menyelamatkan sang pangeran. Dengan sembunyi-sembunyi diselipkannya di lengan Theseus segulung benang agar sang kekasih terhindar dari tersesat. Setelah terlepas dari bahaya, Theseus memang membawa Ariadne pulang ke Athena tapi  diiringi oleh Phedra sang adik Ariadne. Kisah selanjutnya jadi bercabang tiga: Ariadne mati dengan menggantung diri; kedua: Ariadne bukan ditinggalkan di pulau Naxos tapi dibawa ke Siprus dan dia meninggal-dunia ketika melahirkan; ketiga: Ariadne menikah dengan Dionisios yang terpesona memandangnya sewaktu terlena di pantai pulau Naxos.  

Seorang budayawan di sini yang sejak masa kemahasiswaannya menyukai drama telah membandingkan tokoh-tokoh seperti Ariadne, Phedra dan Theseus dengan tokoh-tokoh dalam karya saya Burung Tiung Seri Gading  --begitu karya itu selesai ditulis ia merupakan orang pertama yang membentangnya dalam bentuk reading-- sehingga jabarannya menjadi Ariadne ialah Wan Sinari, Phedra ialah Wan Inta dan Theseus ialah Raja Laksemana. Bahkan lebih jauh ia telah membandingkan tokoh-tokoh Yunani dengan tokoh-tokoh sejarah sehingga ia telah menjabarkan Ariadne dengan Tengku Tengah, Phedra dengan Tengku Qamariah, dan Theseus dengan Raja Kecil. Apakah tokoh-tokoh fiksi setempat itu memang jabarannya Wan Sinari dengan Tengku Tengah, Wan Inta dengan Tengku Qamariah dan Raja Kecil dengan Laksemana Bintan? Dengan historiografi tokoh-tokoh sejarah bisa mendapatkan jawaban dengan pasti tapi tokoh-tokoh fiksi tidak. Seperti juga labirin fisik mempunyai ukuran kompleksitasnya tapi labirin hati tidak. Orang mungkin keluar dari kompleksitas labirin fisik tapi belum tentu bisa dari labirin hati. Tak selamanya kasih yang tulus dibalas dengan seimbang. Kadang-kadang dibalas pun tidak. Kasih yang diberikan kepada seseorang mungkin saja dibalas dengan pengkhianatan. Apa boleh buat, dalam hidup ini pedih lebih banyak dari manis.

Ketika singgah ke Pulau Naxos dalam pelayaran dari Kreta ke Yunani, Theseus membawa kedua puteri Minos, Ariadne dan Phedra. Mungkin karena letih Ariadne tertidur di pantai, dan perahu meneruskan pelayaran. Yang pedih dalam pengkhianatan Theseus dan Phedra terhadapnya, bukanlah ke mana tujuan mereka tapi mereka memang meninggalkan Ariadne seorang diri di pantai pulau Naxos. Bukan saja sang adik dan kekasih, kantuk pun ikut berkhianat kepada Ariadne.

Pengarang dari masa lampau dan pengarang pada masa kini telah memanfaatkan kisah dan tokoh-tokoh dalam mitologi Yunani ini dalam berbagai karya. Di antaranya Phaedra oleh Seneca (60 SM -39M), Phèdre (1677) oleh Jean Racine, Fedra (1909) oleh Gabriele d’Anunzio, Thésée (1946 oleh André Gide,  The Creatan Woman (1954) oleh Robinson Jeffers, sebuah drama karya Hela S Haase. Tokoh-tokoh seperti Ariadne, Phedra dan Theseus memang tokoh-tokoh yang berulang datang menunggang gelombang kesusastraan karena seorang penyair menggambarkan karya-karya sastra yang hilang satu muncul sepuluh ini seperti ombak gelombang yang terus datang di lautan kesusastraan sedunia.

Orang-orang bernasib malang seperti Ariadne gentayangan dalam karya-karya sastra dunia. Mereka terdiri dari perempuan dan lelaki, muda atau tua, yang menjalani pengalaman pedih tak berujung. Tuhan seperti tak sudi mengabulkan doa-doa mereka. Barangkali doa mereka yang menyerupai burung putih kecil-kecil yang terbang ke langit patah sayapnya sehingga gagal membumbung naik ke angkasa menuju ke kursi Tuhan. Atau barangkali ada rahasia Tuhan yang sengaja diselubungkan sehingga membuat orang-orang yang bernasib malang itu.

Tuhan sengaja menguji mereka untuk mengetahui sampai di mana kuat dan tabah hati mereka menghadapi permainan Ilahi. Bukankah penyair agung Persia Omar Khayyam pernah menyatakan dalam karya puisinya bahwa Tuhan sebagai pemain agung yang menggerak-gerakkan manusia seperti bidak-bidak di atas papan catur? Dan seorang perempuan muda yang ditinggalkan seorang diri terlena di pantai sebuah pulau ialah salah-satu di antaranya.       

   Di  Naxos … di Naxos …***       

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org