| senandung khalidah (episode penantian) |
| Minggu, 03 Pebruari 2008 | |
|
Sajak-sajak Syaiful Bahri
senandung khalidah (episode penantian) :aini aku di sini mendengar bunyi rindu kasmaran menggores takdir di setiap hempasan asmara irama daun-daun kering yang pernah kita peram dalam ingin mencumbu ratusan hari dari pecahan sajaksajak penghabisan ketika perpisahan menjadi abu paling kelabu dan ampas rempah-rempah cinta yang layu ingatkah engkau saat kita menambatkan kerinduan di sepanjang amarah yang menjalar dari kenangan kita menyulam cemburu lewat sayatan air mata yang sungsang karena amuk asmara terhimpit resah bukan kepalang amuk asmara berhembus membawa cinta katakata lepas semudah keinginan tentang kehilangan dan langkah ini tertatih menahan dendam pada kerinduan yang semakin geram semakin geram karena hujan yang basah terus gugur berkelindan oh asmara tancapkanlah wewangi bunga di taman-taman sedap malam biarkan keharumannya tetap mengalirkan seribu kalimat di sungai rindu yang lamat-lamat mampat membasahi setiap detil ingatan reranting cinta menyelipkan kelopak rindu dari amarah yang menguntil setiap malam lihatlah pertengkaran ini terus saja melebur rindu ke dalam paru-paru asmaramu mengais bulirbulir cinta yang terjatuh saat aku mencoba berpaling untuk mencari kembali getar-resah dari setumpuk naskah beritamu biarpun angin yang berhembus membawa sobekan catatan kesedihan yang pernah tercecer dari hatimu adakah engkau sembunyikan kalimat cinta yang aku tanam di padang kering kemarin sore? aku ingin mencarinya di dalam gudang asmara sebab di sebelah selatan tubuh ini masih tersisa separuh rusuk yang engkau curi dan sebelum habis aku ingin menanamnya kembali agar gelora kesunyian tak lagi membakar semuanya dan nyanyi kerinduan selalu ada: “duhai senandung khalidah, berguguran separuh sajaksajak cinta ini dari benak yang sunyi” ada aroma tubuhmu yang berhembus lewat detik-detik waktu dan luruh melewati cahaya bulan yang bergerak teramat cepat; januari, februari, maret, april, mei, juni sejenak aku ingin memberi jeda selangkah saja dari setiap bulan yang penuh misteri ini juli, sayangku, biarkan kita kemasi seluruh sajak-sajak ini dan kita susun sebentuk rumah mungil di pinggiran kota lalu kita teruskan lagi perjalanan panjang setiap bulan di antara gerbong angka-angka yang terus bergerak membawa perahu kita melewati agustus, september, oktober, november, desember, januari, februari, begitu pun akan terus berlalu, sayangku Pekanbaru, 4 Januari 2008 hikayat datuk-datuk yang menyimpan risau datuk-datuk penjaga hikayat berlari meninggalkan khianat memeluk mazhab dari risau burungburung yang selalu menghitung sejumlah ayat yang lewat. lalu mengumpulkan huruf-huruf yang sekarat, sekejab memilin tabiat, dan mengikat sebentuk resah dari laknat di sini anak-anak dari selat menunggu malam, mencumbu remang petang yang satir, dari lesung rindu yang mangkir, dari sumpah yang pernah mengalir, karena sebentuk amarah termaktub di matamu saat kegalauan bersebati senja itu. dan engkau bersijingkat pada satu tiang melintang yang menanggung gamang, dari tubuh-tubuh mengambang sepanjang petang. selangkah waktu bergegas menyiangi setumpuk doa setelah seharian lelah berputar mengitari hari, lamunan hadir, angin berbisik, dan airmata mengalir lewat arakarakan sekumpulan burungburung kepodang di atas selembayung, di singgasana kekuasaan abadi: “inilah nyanyi burungburung dari aroma dengki, dari lumpur, dari gambut, dan dari laut yang tak pernah lagi sujud” Pekanbaru 2007 SYAIFUL BAHRI PAKPAHAN adalah alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Islam Riau, Ia seorang penikmat puisi. Karyanya dapat ditemukan dalam buku Tafsir Luka (Yayasan Sagang 2005), Jalan Pulang (Yayasan Sagang 2006), Selat Melaka (BKKI-UIR Press 2007), Komposisi Sunyi (Yayasan Sagang 2007). |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



