| Warga Sakai di Tengah Kepungan Perusahaan |
| Minggu, 03 Pebruari 2008 | |
|
Ketika Sakai Jadi Tameng Perusahaan Batin Lijal (54), atau pemimpin Suku Sakai untuk wilayah Kandis, Kecamatan Kandis Kabupaten Siak kini menetap tidak jauh dari jalan besar Pekanbaru-Dumai. Memimpin sekitar 100 Kepala Keluarga (KK), ia sempat bingung atas nasib yang dialami warganya. Kebingungan itu, kata dia, mayoritas warganya tidak berpendidikan tinggi dan barulah semenjak tahun 2000 ke atas anak muda Sakai mengenyam pendidikan sebanyak 60 persen. ‘’Kalau tak kerja mau makan apa. Makanya kadang saya datangi perusahaan di sini untuk minta pekerjaan bagi warga Sakai di sini. Kami pun tahu pekerjaan apa yang sepantasnya. Tak mungkin pula kerja sebagai manajer. Palingan buruh lepas, jadi security atau jika nasib baik bisa jadi mandor. Hutan yang dulu tempat kami cari makan sudah habis berganti kebun sawit dan sebagian lagi dikuasai untuk ekplorasi minyak bumi. Kami pun ingin punya sawit. Kami punya lahan ulayat seluas 1.700 hektare tapi belum ada yang mau menjadi mitra,’’ kata Lijal yang lahir di Balai Raja, Duri, dan berpindah-pindah tinggal dari dahulunya. Sekitar 50 kilomter dari kediaman Lijal, dengan menempuh jalan tanah berlubang dan berlumpur serta terletak di tengah kepungan sawit dan berdirinya perusahaan besar, tinggal menetap pula sekitar 110 KK Suku Sakai. Dusun Jiat, Desa Kuala Penaso nama tempat itu. Perjalanan Riau Pos menuju desa itu didampingi Batin Lijal, Pjs Ketua Himpunan Pelajar Mahasiswa Sakai Riau (HPPMSR) Hermansyah, serta Subur Ratno dari Lembaga Penguatan Masyarakat Marjinal (LPMM) Riau dalam kegiatan survei desa marjinal pekan lalu, dihiasi kerisauan. Pasalnya, hujan deras baru saja turun menggenangi lubang-lubang yang dalamnya sulit diterka, takut-takut mobil yang ditumpangi terpuruk dan amblas yang membuat terjebaklah di tengah rimbunnya hutan sawit. Batin Lijal yang pernah ketempat itu beberapa bulan sesama. Padahal, tegas Bosniar, perusahaan-perusahaan berdiri megah mengelilingi kampungnya. ‘’Kalau ditanya siapa yang salah, negaralah yang salah. Kenapa dulunya diberikan hak penguasahaan hutan sehingga hutan kami habis ditebang dan dijual kayunya oleh perusahaan. Kemudian mereka ganti dengan sawit atau karet. Kalaulah negara mempertimbangkan keberadaan Suku Sakai yang mendiami belantara hutan ini dulu, tak akan seperti ini nasib kami. Sekarang saja kadang kami seolah-olah mengemis minta pekerja dan dicampakkan jika sudah dipakai lagi. Nenek moyang kami, yang dipimpin Datuk Dara Putih sudah mendiami tanah ini dari dulunya dan harus kami pertahankan,’’cerita Bosniar yang mengungkapkan kalau mereka kembali ke tempat tersebut sekitar 1990-an sejak ditinggalkan puluhan tahun lamanya. Tanda kampung, kata Bosniar, adanya kuburan Datuk Dara Putih yang ukurannya sepanjang delapan meter dan lebar sekitar 3 meter yang saat ini masih terawat dan banyak dikunjungi orang dengan berbagai kepentingan. Perusahaan sekitar, seperti dijelaskan Bosniar serta mahasiswa Sakai tinggal di Desa Penaso, Izandri, banyak menjadikan warga sekitar sebagai tameng berlindung dari aturan kalau perusahaan harus merekrut tenaga kerja tempatan. Buktinya, sebut Izandri dengan tegas, dari sekian banyak yang bekerja sebagai buruh lepas, hanya satu dua orang saja yang direkrut menjadi karyawan padahal sudah bertahun-tahun bekerja. ‘’Dibawa warga kami bekerja sekian lama, kemudian ada cara mereka untuk membuat berhenti untuk diganti yang lain supaya jumlah warga kami yang bekerja segitu-segitu juga. Misalnya, jika sebelumnya dijemput pakai mobil pagi-pagi berangkat kerja, kemudian tidak lagi. Terpaksalah berjalan berkilo-kilometer jauhnya. Yang tahan tetap lanjut, tapi banyak yang tidak tahan memilih berhenti bekerja di ladang sendiri yang tidak seberapa penghasilannya. Sebagai buruh lepas pun juga tidak seberapa dapatnya, tapi ada yang ditunggu setiap bulannya,’’ sebut Izan yang masih berstatus mahasiswa di Universitas Islam Riau (UIR) ini. Kondisi dusun yang bisa dikatakan terisolasi tersebut, dikatakan Bosniar lagi, membuat sulit akses warga terhadap sarana kesehatan. Untuk pergi ke Puskesmas Pembantu, harus menempuh jalan yang sulit terletak tidak jauh dari jalan besar Pekanbaru-Bangkinang. Sarana medis perusahaan, katanya hanya untuk orang-orang tertentu, yang bekerja misalnya. Kalau sudah kondisi darurat, mau tidak mau warga yang mengalami sakit harus dibopong atau didorong pakai kereta bersama-sama menuju keluar jalan besar. ‘’Pengalaman saya yang sangat sedih waktu istri saya mau melahirkan. Kondisinya cukup parah dan harus dioperasi. Tempat operasi yang terdekat hanya di Minas. Mobil yang kami pinjam dari perusahaan tidak bisa digunakan terjebak lumpur. Terpaksalah bersama-sama warga desa, kami mendorong dengan gerobak barang istri saya itu sejauh 5 kilometer melalui jalan lubang berlumpur itu. Istri saya kesakitan sewaktu dibawa pakai gerobak karena terus terguncang-guncang. Tapi alhamdulillah, Allah SWT masih menyelamatkannya dan berhasil di operasi di rumah bersalin di Minas,’’ papar Bosniar dengan muka tenang. Di tengah kepungan perusahaan, warga Sakai yang menghadapi persaingan mencari pekerjaan juga terjadi di Desa Petani, Kecamatan Mandau. Di desa ini, seperti dikatakan pemuda setempat, Atik (28), harus antri untuk bekerja di perusahaan yang dulunya hutan dan ladang mereka. Cara antri, sebut Atik, jika ada informasi penambahan tenaga kerja lepas, maka yang sudah masuk daftar antri duluan bisa mulai bekerja. ‘’Bahkan ada yang mentah-mentah menolak mempekerjakan warga tempatan. Kami protes keras dan hanya inilah yang bisa dilakukan. Mau bekerja apa lagi warga di sini. Mau bertanam sawit modalnya besar,’’ celutuknya. Juga masih di Desa Petani, tepatnya di Sungai Merah Jemabatan II, pemandangan rumah-rumah di pinggir-pinggir sungai beratapkan ijuk cukup merisaukan mata. Rumah tersebut sebagian ada yang masih kokoh, tapi sebagian sudah mulai lapuk dengan atap ijuk yang memutih tanda dipakai lama. Sekitar 30 KK warga Sakai mendiami tempat tersebut bermata pencarian sehari-hari sebagai nelayan. Di depan rumah reot mereka, terbujur pipa hitam yang menghantarkan emas hitam dari lokasi ekploitasi ke penampungan. Di tempat itu, hanya memakai genset, air sehari-hari termasuk minum hanya air sungai. Dikatakan Agus, warga Sakai yang menempati rumah di pinggir sungai sejak puluhan tahun silam itu, ikan tak banyak seperti dulu lagi. Pemberantasan illegal logging kata dia, cukup terasa bagi warga di tepi sungai tersebut sebab dulunya mereka juga mengambil kayu dari hutan melalui sungai dan dibeli oleh somel-somel. Tapi sekarang, sebutnya, sulit sekali sehingga mencari ikan untuk bertahan makan sehari-hari saj sulit. ‘’Kami punya lahan di seberang sungai yang bisa ditanami sawit. Kalau memang pemerintah mau membantu, tidak banyak-banyak permintaan kami. Cukuplah dibuatkan kanal mengitari lahan kami supaya air tidak membanjiri kebun kami itu. Kalau kondisi sekarang, kalau sudah air pasang, terendam semuanya. Kalau tidak dibantu, begini-beginilah terus nasib kami. Mencari kerja di perusahaan, mereka minta latar belakang pendidikan. Mana adalah kami yang umur 30 tahun ke atas ini berpendidikan. Kalau anak-anak kami sekarang iyalah, itupun baru mulai masuk sekolah. Dari mana kami dapat uang untuk membiayai sekolah mereka nanti,’’ tutur Agus.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



