• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Jumat, 05 September 2008 || 5 Ramadan 1429 Hijriah
Total SportAncaman Kudeta

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Teras UtamaUrip 20 Tahun Penjara

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Untuk Sebuah Kebanggaan
Minggu, 03 Pebruari 2008
Untuk pertamakalinya lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan di Hall A Sport Center Rumbai menjelang sebuah pertandingan olahraga dimulai.

Honda DetEksi Basketball Riau Pos 2008 resmi dimulai, Sabtu (2/1), di Hall A Soprt Center Rumbai, Pekanbaru. Lagu Indonesia Raya dalam sebuah seremonial sangat singkat menandakan sebuah kompetisi bola basket yang mengusung konsep Student Athlete (belajar dulu baru atlet) ini tergolong baru di Riau. Setelah sukses empat tahun berlangsung di Jawa Timur, konsep kompetisi basket pelajar ini merambah 11 kota di Indonesia. Pekanbaru menjadi salah satu dari dua kota di Sumatera, selain Palembang, yang mendapat kehormatan menggelar kompetisi yang mengedepankan kedisiplinan ini.

Salah satu bentuk aturan yang lebih mengutamakan sekolah tersebut adalah dilarangnya pemain yang pernah tidak naik kelas ikut serta. ‘’Kami memakai konsep Student Athlete. Kalau tidak naik kelas, tidak boleh ikut. Sekolah nomor satu, basket bukan segalanya dan belum tentu menjadi masa depan sang pemain,’’ ujar Comissioner DBL 2008 Azrul Ananda.

Konsep ini juga disokong Honda yang menjadi sponsor utama iven ini untuk dilaksanakan di 11 kota di Indonesia pertamakalinya. ‘’Kegiatan ini menurut kita cukup baik karena secara tidak langsung kita menempatkan DBL itu sebagai suatu iven yang betul-betul terseleksi. Artinya, anak-anak sekolah termotivasi untuk menjadi pelajar yang baik. Sehingga dengan adanya kegiatan ini menjadikan mereka lebih termotivasi dan akan selalu disiplin dalam membagi segala sesuatu hal,’’ ujar General Manager PT Capella Dinamik Nusantara, Johan.

Selain kedisiplinan dan aturan bermain yang cukup ketat, kompetisi yang akan berlangsung hingga 10 Februari ini juga dipadukan dengan entertainment khas basket. Salah satunya, mewajibkan setiap tim menyertakan tim Yel-yel yang juga dikompetisikan. Meski megadopsi konsep cheerleaders, namun Yel-yel Competition memberikan kebebasan bagi setiap sekolah untuk mendukung tim mereka. Kebebasan dalam berkreasi baik di musik, gerakan pakaian meski masih dalam aturan yang ditentukan. Otomatis, di ajang DBL akan ditemukan cheeleaders yang bisa perempuan semua, campuran atau laki-laki semua dengan bermacam kreativitasnya. Hal itu telah ditunjukkan di hari pembukaan kemarin.

Untuk Riau, kompetisi basket pelajar dengan ‘’beragam’’ aturan, mulai dari penonton hingga pemain ini tergolong baru. Semangat kedisiplinan yang diusung ini bertujuan menempatkan seseorang untuk menjadi atlet tersebut harus terhormat dan bisa jadi panutan. Tak heran, slogan Pride. (tanda titik untuk penegasan) ditempelkan di turnamen ini sejak tahun 2006 lalu. Tahun 2004, kompetisi ini mengusung semangat dengan slogan I Love that Game. Satu tahun berikutnya berubah lagi menjadi More Than Just a Game2005 sebelum akhirnya digunakan IBL (Indonesian Basketball League). Tahun 2008, dengan DBL Movement merambah 11 kota dengan semangat bagaimana dengan bola basket bisa mencapai kebanggaan (Pride).

Sepekan ke depan, mari kita saksikan 34 tim dari 25 sekolah berkompetisi menuju kebanggan tersebut.(fia)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org