Kamis, 04 Desember 2008 || 5 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Azrul Ananda, Comissionner Honda DBL 2008
Minggu, 03 Pebruari 2008
"Yang Penting adalah ”Sustainable Growth"
Tahun ini, Honda DetEksi Basketball League (DBL) merambah ke 11 kota di Indonesia, termasuk ke Pekanbaru. Bagaimana sejarah dan bentuk kompetisi bola basket antar-SMA yang mengusung konsep Student Athlete tersebut, berikut petikan wawancara dengan Comissionner Honda DBL 2008, Azrul Ananda.

Honda DetEksi Basketball League (DBL) DBL datang dengan konsep baru dalam dunia bola basket pelajar di Indonesia,. Bisa diceritakan awal mula konsep student athlete?

DetEksi Basketball League atau DBL sudah dimulai di Surabaya sejak 2004. Inspirasinya dari Amerika Serikat. Saya dulu siswa pertukaran SMA di sana, dan menjadi fotografer tim sekolah. Saya suka basket, dan saya geregetan melihat kompetisi di Indonesia.

Kalau di Amerika, pemain hanya boleh bertanding kalau nilainya bagus. Kalau punya nilai jelek, dilarang bermain. Di Indonesia, di Surabaya sebelum DBL, ada anak yang tidak naik kelas beberapa kali masih boleh main basket. Padahal umurnya hampir 20 tahun!

Karena itu kami memakai konsep Student Athlete. Kalau tidak naik kelas, tidak boleh ikut. Sekolah nomor satu, basket bukan segalanya dan belum tentu menjadi masa depan sang pemain.

Setelah sukses di Jawa Timur, mulai tahun 2008 DBL movement ke 11 kota, bisa diceritakan obsesinya?

DBL sudah empat tahun diselenggarakan di Jawa Timur dan selalu tumbuh. Baik dalam hal peserta maupun penonton. Untuk 2008, kami merasa percaya diri dengan konsep yang kami miliki. Kami yakin lebih baik dan lebih profesional dari liga lain. Jadi, sudah waktunya mengembangkan konsep ini ke kota-kota lain, karena manfaatnya sangat besar.

Kami berharap nantinya DBL bisa diselenggarakan di semua provinsi di Indonesia, dan DBL bisa tumbuh di semua daerah. Tapi kami harus kerja keras dan sabar menuju ke sana. Harus menikmati proses, jangan bernafsu mengejar hasil akhir.

Kenapa Pekanbaru dipilih sebagai salah satu kota penyelenggara?

Kami tidak ingin mengembangkan liga ini terlalu cepat. Yang penting adalah sustainable growth. Kami tidak ingin heboh sekali, lalu hilang. Lebih baik tumbuh pelan-pelan, menyesuaikan dengan kemampuan daerah masing-masing.

Karena itu, kami memilih 11 kota dulu. Sebenarnya sepuluh, tapi Jawa Timur sudah tumbuh begitu pesat, sehingga harus dipecah menjadi dua kota, Surabaya dan Malang.

Pekanbaru kami pilih karena punya gairah basket, punya infrastruktur basket yang baik. Di sini juga ada Riau Pos, salah satu koran utama di bawah bendera Jawa Pos Group.

Apa kebanggaan dan kelebihan yang bisa dipunyai dan dirasakan pelajar dan sekolah bila mengikuti Honda DBL 2008 ini?

Kami berharap pelajar yang ikut Honda DBL 2008 bisa merasakan serunya bertanding di even profesional. Bagi kebanyakan pemain basket, pertandingan SMA adalah puncak karir mereka. Sehingga kami ingin mereka menikmatinya semaksimal mungkin.

Sekolah yang ikut juga bisa merasakan sistem dan konsistensi kompetisi kami. DBL adalah fundamental basketball. Skill dan pemahaman dasar adalah yang paling utama. Bukan permainan basket yang aneh-aneh yang tidak jelas arah dan tujuannya.

DBL menggunakan peraturan yang cukup ketat untuk iven pelajar, bisa dijelaskan alasannya?

Seperti sudah saya sampaikan di atas, kebanyakan kompetisi SMA sebelum DBL praktis tak punya aturan. Sebenarnya, kami tidak merasa aturan kami terlalu banyak. Menurut saya, inilah seharusnya aturan yang diterapkan untuk semua cabang olahraga.

Bertanding di lapangan adalah sebuah kehormatan. Tidak semua orang bisa melakukannya. Pemain pun harus memperlakukannya seperti mendapat penghormatan. Untuk itu, tidak boleh asal masuk lapangan dan bermain.

Selain untuk membesarkan DBL dengan dilaksanakan di 11 kota di Indonesia, apa yang bisa didapat daerah bila menyelenggarakan DBL, khususnya untuk cabang olahraga bola basket secara keseluruhan?

DBL bisa berdampak besar untuk sebuah daerah. DBL bukan hanya bermanfaat untuk para pelajar dan penggila basket. Untuk mereka yang hidup dari basket juga penting.

Sekolah, khususnya SMP dan SMA, memiliki basis pemain dan penonton paling besar. Klub mungkin punya pemain, tapi belum tentu punya penggemar. Jadi, semakin banyak kompetisi sekolah, semakin banyak pertandingan yang diselenggarakan.

Di Surabaya misalnya, pelatih SMA sekarang mendapat kesejahteraan meningkat karena kompetisi yang konsisten. Para wasit sekarang juga dapat penghidupan lebih jelas karena pertandingan jauh lebih banyak dan konsisten. Bukan sekadar sambilan atau penghasilan tambahan.

Pada 2006, hanya ada 200-an pertandingan di Surabaya, hampir semua DBL. Tahun 2007 lalu, ada lebih dari 1.000 pertandingan di Surabaya, separo lebih berkaitan dengan DBL. Semua daerah bisa merasakan manfaat seperti di Surabaya ini. (fia)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org