| Mundari Karya, Pelatih PSPS Pekanbaru |
| Minggu, 27 Januari 2008 | |
|
”Saya Ingin Berbuat Sesuatu di PSPS’’
Berfilosofi sepakbola merupakan pengetahuan, maka harus belajar, menjadikan Mundari Karya berprinsip ilmu sepakbola, baik pemain maupun pelatih, harus terus di-up-grade. Meski berbagai klub telah ditukangi, termasuk menjadi asisten pelatih Timnas Indonesia di tiga pelatih, gelandang era 80-an ini tetap berprinsip untuk kembali melatih tim nasional, maka harus berprestasi di klub. Kini ayah empat anak ini memilih PSPS Pekanbaru untuk berprestasi, sehingga nantinya merasa pantas bila kembali dipilih menukangi tim nasional. Bagaimana obsesi, target dan komitmennya terhadap PSPS dan sepakbola lokal? Dengan logat Betawi-nya, pemilik nomor punggung 6 saat menjadi pemain ini menjawab berbagai pertanyaan Firman Agus dan Fedli Azis dari Riau Pos, Kamis (24/1) malam, di Mess PSPS. Berikut petikannya. Apa yang menjadikan Anda memilih melatih PSPS? Melatih Tim Nasional Indonesia (Timnas, red) meski sebagai asisten sebetulnya tantangan juga. Tetapi terus terang, kalau kita mau masuk tim nasional, baik sebagai pemain ataupun pelatih, harus mempunyai prestasi. Tahun 2000 saya pernah di Timnas karena waktu itu saya membawa Barito (Barito Putra, red) ke empat besar. Saya pantaslah. Tapi kalau tahun ini atau dua tahun belakangan ini, saya tidak bisa buat apa-apa. Tahun 2005 saya membawa Persikota ke peringkat lima, namun tahun ini berhenti di tengah jalan. Walaupun saya ditawari PSSI, saya pikir biarkan aja untuk pembelajaran. Saya belum pantas di sana. Bukan karena masalah kualitas, namun saya belum berprestasi. Kenapa saya suka ke sini, karena saya ingin membuat sesuatu di sini. Sebelumnya apakah Anda mengetahui kondisi PSPS? Saya tahu PSPS pernah mempunyai pelatih-pelatih bagus, ada Sofyan Hadi, Nandar Iskandar, Parlin Siagian, Suimin Diharja, Jenniwardin, mereka kan pelatih bagus dan ada juga pemain bagus. Tapi ada satu pertanyaan, kenapa mereka belum berhasil? Nah, di sini ada tantangan bagi saya. Saya ingin dalam ukuran sekarang meski dengan kondisi seperti saat ini, saya berbuat sesuatu. Salah satu targetnya membawa PSPS ke Piala Super. Siapa yang pertama kali menawari Anda ke PSPS? Ada seseorang yang menawari, saya tidak akan sebutkan namanya. Namun yang pasti ada yang menawari untuk presentasi. Ya saya presentasi. Setelah presentasi program, beberapa kalangan termasuk media melihat calon yang satu lagi itu lebih lengkap pemaparannya. Menurut anda? Tidak ada masalah. Itu kan hanya presentasi. Masalah lengkap tak lengkap hanya sebagai keinginan saya. Kalau saya memegang tim ini saya akan melakukan ini. Jadi nggak dibuat-buat. Menurut saya, itu sudah lengkap karena saat saya diterima di sini ingin melakukan itu. Melatih PSPS, menjadi tim Sumatera pertama yang anda tukangi. Menurut Anda? Iya, untuk melatih. Namun untuk pemain saya pernah di Krama Yuda Tiga Berlian (Pelembang, red). Jadi nggak masalah. Saya sudah tahu karakter. Apalagi di mana-mana karakter bola itu sama. Di Wilayah Timur saya pernah menukangi Barito mungkin lebih keras dari di sini. Pernah di Petrokimia. Nggak ada masalah. Saat dipilih manajemen, Anda mempunyai obsesi pribadi? Iya. Saya ingin membuat sesuatu. Apa sih yang salah di PSPS yang pernah mengalami masa jaya. Kalau saya datang sekarang untuk mencari duit, bukan merupakan saat yang tepat. Iya kan? Saya ingin berbuat sesuatu. Kalau untuk mencari duit, mendingan saya di tim nasional saja, pasti banyak duitnya. Popularitas tinggi. Tapi saya ingin ke sini, bukan saya tidak ingin duit. Tapi kenapa sih, PSPS pernah bagus kok nggak bisa tembus Delapan Besar. Saya ingin mencoba di sini. Bukan yang salah, namun apa yang terjadi di sini. Pernah dapat bocoran dari pelatih lain tentang kondisi PSPS? Kalau saya melihat keberhasilan tim itu tidak lepas dari kualitas pemain, pelatih, manajemen dan yang maha-penting masyarakat atau suporter. Artinya, kalau keempat faktor ini jalan sendiri-sendiri, akan sulit. Karena tim yang ke Delapan Besar sekarang mempunyai pendukung yang sangat fanatik. Kalau bicara target pribadi, saya ingin target ini target masyarakat. Marilah kita menyuport. Kritikan harus ada. Tapi jangan belum apa-apa sudah dikritik. Saya ingin buat ke masyarakat dulu. Salah satunya memilih pemain secara terbuka. Anda mempunyai kontrak khusus dengan manajemen? Nggak ada. Biasa aja, seperti pelatih lain? Dibebani target khusus? Kalau target tahun depan, saya ingin ke Liga Super. Kalau saya tidak berhasil, kita kembalikan ke masyarakat yang harus menilai, apakah saya harus pergi atau tetap. Itu masalah nanti. Dari sekarang yang yang penting saya ingin berbuat dulu, kasih kepercayaan, kasih dukungan seluruhnya. Apalagi untuk pemain. Sekarang kan baru selesai untuk seleksi pemain lokal, selanjutnya bagaimana? Kita ingin mendatangkan pemain lokal nasional yang sesuai dengan anggaran yang kita punya tapi juga punya kualitas ke depannya. Tidak mungkin kan kita mendatangkan Bambang Pamungkas. Karena kita harus punya rencana untuk itu. Kita kan juga punya pemain bagus-bagus di sini namun akhirnya main di luar seperti Ambrizal atau Supardi. Jadi kenapa mereka tidak bisa main di sini. Hal-hal seperti inilah ke depan saatnya pemain itu punya loyalitas. Ini harus semua komponen bergerak dan masyarakat mendukung. Saya juga tidak mengerti kenapa seorang Fance (Fance Haryanto, red) yang mampu mengangkat Persijap ke Liga Super sebagai pemain inti, waktu saya calling dia kenapa nggak mau pulang. Jawaban dia,’’Bang kalau saya pulang, untuk nggangkat bola saja saya tidak bisa’’. Ini jadi pertanyaan, kenapa sih? Hal-hal itulah yang nantinya, ayolah kita sama-sama mendukung. Kita dukung dulu tim ini. Jelek bagusnya sudah milik kita semua. Kalau mau bagus, kayak masyarakat Palembang itu, mereka support. Dia juga pernah kalah, namun bagaimana pendukung itu bisa menerima kekalahan dan menerima kemenangan. Itu yang paling penting. Saya ingin itu saja, ingin berbuat sesuatu. Proses seleksi pemain ini hingga kapan? Ya, habis Piala Thamsir ini selesailah seleksi. Pada tahap fase persiapan di pertengahan Februari, para pemain lokal di sini sama lokal nasional mudah-mudahan sudah fix. Berikutnya baru pemain asing. Anda sendiri melihat pemain asing bagaimana? Selama ini kan ada tren di PSPS tahun ini dari Afrika tahun berikutnya dari Amerika Latin. Yang pasti, kebutuhan tim dulu. Artinya, kita lihat kebutuhan pemain lokal untuk pemain asing ini pantasnya yang bagaimana, karakternya, tipe bermainnya. Jadi jangan kita balik. Kita ambil pemain asing dulu, baru pemain lokal yang menyesuaikan. Saya lokal dulu. Pemain lokal kuat di mana? Kekurangannya baru didatangkan pemain asing. Pemain asing lebih gampang mencarinya karena pemain asing lebih murah dari pemain lokal. Maka dari itu PSSI kewalahan. Lebih baik kalau seperti ini terus, pemain asingnya lima. Karena beberapa tahun ini sudah berbalik. Pemain lokal lebih mahal sedangkan pemain asing murah. Makanya, kita akan mendatangkan pemain yang sesuai, tapi bagus dan ada prospek ke depan. Setelah beberapa pekan di Pekanbaru, Anda merasakan kondisinya bagaimana? Yang pasti, orang antusias semua, khususnya penggila bola. Apakah ini cuma melihat saja atau berbuat sesuatu, saya belum tahu. Tapi yang pasti semua antusias apalagi ada delapan besar ini. Yang penting adalah, ketika berbicara target bukanlah target saya, tapi target semua, target masyarakat. Ini ada PSPS yang ingin masuk Liga Super, marilah kita dukung. Dukung dulu, jangan dihujat dulu. Tapi, mari kita main hitung-hitungan. Persiwa Wamena masuk ke Delapan Besar dengan poin 54. Kalau 17 kali main, berarti dia tidak pernah kalah di kandang dengan poinnya 52. Jadi ketika main di luar (tandang) dia hanya main seri dua kali. Kenapa kita tak ingin begitu. Karena, semua tim jarang yang menang di luar, kecuali di tim yang bisa ambil poin seperti Persikota karena suporternya netral. Jadi, kita harus buat seperti itu. Jangan sampai kalah di sini (kandang, red). Kalau di sini menang terus atau wilayah dibagi, berarti kita main 16 kali. Kalau kita menang semua sudah 48. Bayangkan sekarang dengan tim 18 dan jumlah poin 54 saja masuk ke delapan besar. Kalau dikurangi lagi kan berkurang lagi. Kalau di kandang raih 48 plus dua poin di tandang kan sudah pasti masuk Delapan Besar. Kenapa tidak kita buat nuansa seperti itu. Kita support di sini dengan support yang positif. Support yang positif itu membangkitkan semangat anak-anak dan mengurangi kemampuan pemain lawan. Tapi kalau dicaci-maki kan kehilangan poin di sini. Jadi dukunglah. Anda kan termasuk yang welcome dengan media. Bagaimana dengan kondisi di sini? Saya tidak ingin terulang lagi kasus ada target-target. Kan seperti yang saya bilang tadi, Persikota tahun 2005 nomor lima. Targetnya juara tahun ini. Saat persiapan, bayangkan di depan ada Aliyudin, Lenglolo, belakamg Firmansyah, Tema Murshadad, Bakrie Umarela. Saya datangkan lagi M Ilham, Nasuha. Mereka kan akhirnya jadi pemain nasional semua. Selama persiapan, tidak ada yang bisa menang, Persipura saja kalah 2-0. Tapi kejadiannya, karena kita tidak punya dead line kerja, akhirnya pemain pindah semua karena tidak ada kesepakatan. Jadi, saat saya mendatangkan pemain-pemain tersebut, pemain lokal belum selesai. Jadi saya berharap dengan manajemen saat ini, sebelum saya mendatangkan pemain lokal nasional, yang di sini selesaikan dulu. Karena di Persikota itu menjelang kompetisi keluar semua. Bayangkan, saya kalang-kabut. Jadi waktu itu, sudahlah saya bertanggung jawab. Sebetulnya saya tidak mundur, karena terserah saya. Karena saat di Persikota punya tim lima dan mereka merasa bersalah juga. Kalau di PSPS, menjelang persiapan bagaimana? Itulah, kita ingin bekerja sama. Walaupun ini tugasnya berbeda, namun satu tujuan. Mudah-mudahan berjalan. Tapi itu nantinya kan tanggung jawab pelatih? Ya pasti. Masalah prestasi tanggung jawabnya pelatih. Bukan berarti saya mau berdiskusi dan tanggung jawabnya ditanggung beramai-ramai. Bukan itu. Tapi saya ingin transparan. Saya tidak ingin dituduh membawa pemain, terus mengambil duit dari pemain. Yang namanya Mundari boleh tanya sama pemain. Alex pernah mau kasih uang pada saya, namun saya bilang, ‘’Lex kamu jangan menghina saya. Saya bukan tipe pelatih seperti itu.’’ Kita sangat menghargai apa yang mereka berikan. Saya transparan seperti itu. Panggil pemain, mereka senang. Sedangkan kalau kecocokan kan ada dua. Pelatih cocok, namun manajemen belum tentu karena keterbatasan anggaran. Kita kan tidak tahu, karena saya tidak bisa masuk ke wilayah itu. Jadi persepsinya yang kita samakan. Sejauh ini bagaimana? Ya, kita berjalan. Karena saya mengambil pemain yang kira-kira bisa. Makanya ini kan belum berjalan. Kalau potensi pemain lokal sendiri bagaimana? Bagus. Ada beberapa yang bagus. Salah satunya Ade Suhendra. Saya puji dia. Mudah-mudahan apa yang saya lihat sekarang memang begitu adanya. Saya yakin pemain ini pemain potensi yang jarang ada. Jarang ada bagaimana maksudnya? Ya, tipe playmaker yang bisa bertahan bagus dan membaca permainan dan kualitas tekniknya bagus. Dia merupakan pemain yang ‘’dititipi’’ Bima Sakti nomor 11 di PSPS, menurut Anda? Bima nggak salah kasih orang. Karena potensi. Jadi sekarang bagaimana mental dia. Untuk menjadi pemain besar, diperlukan mental bagus, pemimpin. Jadi tidak hanya teknik aja, mental juga harus bagus. Saya yakin bisa. Sekarang ke soal pribadi Anda. Selama menjadi pemain dan pelatih faktor dukungan paling besar dari mana? Yang pasti dari kehidupan. Terus terang setelah saya lulus SMA, tidak ada yang bisa dikerjakan. Saya pikir, inilah yang bisa membuat saya bisa. Walaupun saat menjadi pemain PSSI ditawari kuliah, namun saya tidak mau dan pilih main bola aja. Tidak tertarik saja. Jadi yang mendorong utama itu keadaanlah. Gua harus main bola kalau ingin jadi. Kan akhirnya terwujud? Saya pikir saya berhasil. Karena dari segi kehidupan alhamdulillah. Bahkan bisa main lawan Maradona (Piala Dunia Junior 1979, red). Bisa cerita waktu main di Timnas U-19 menghadapi Argentina di Piala Dunia Junior dan kalah 0-5? Itu sesuatu pengalaman yang hebat. Karena tim itulah yang menjuarai Piala Dunia tahun 1986. Pembinaan mereka kan panjang dari tahun 1979 hingga 1986. Ya bangga sekali. (Baca: Faktor Kehidupan, Herlina hingga Mengawal Maradona) Masa yang paling berkesan? Saat menjadi juara sepakbola PON tahun 1981 membela Lampung saat final melawan Sumatera Utara. Karena sejak babak penyisihan, kedua hingga final dan menjadi juara selalu dengan adu penalti. Sepakbola ajaib. Meski setelah itu saya sering juara, di Galatama bersama Krama Yudha dua kali, Pelita Jaya tiga kali. Jadi yang berkesan itu main bola penalti terus. Saat itu satu grup sama Irian Jaya (Papua, red) Sulawesi Tengah, Bali dan diambil dua untuk ke semifinal. Karena poin sama dengan Bali, maka adu penalti dan akhirnya menang dan runner up. Di semifinal lawan Jawa Tengah menang adu penalti. Di final lawan Sumut, meski kalah di babak penyisihan, menang lagi dengan adu penalti. Kalau sebagai pelatih? Saat di Barito Putra. Suasanya juga seperti ini. Waktu itu mereka baru jatuh dan nggak ada yang mau lihat. Namun setelah itu banyak pemain nasional yang jadi dari sana seperti Isnan Ali, Amir Yusuf Pohan, Sunar Sulaiman. Jadi saya pikir, kalau bisa berbuat sesuatu dan bisa menjadikan orang, kita juga senang. Saya juga berharap bisa melakukan di sini. Jadi pelan-pelan dengan potensi yang ada. Apalagi persiapannya cukup lama. Kalau kompetisinya bulan Juni, masih ada waktu beberapa bulan. Bangun mental anak-anak. Karena untuk menjadi pemain bagus itu bukan hanya teknik, namun juga mental. PSPS saat persiapan seringkali mendapat kendala untuk tim uji coba. Rancana Anda bagaimana? Makanya kita rencana mendatangkan tim ke sini. Mudah-mudahan bisa mendatangkan tim nasional ke sini karena kita punya hubungan bagus. Terkait Tim Nasional, selama ini pelatih di PSPS hubungan dengan Timnas tidak begitu dekat. Potensi ke depan bagaimana dengan Anda sebagai mantan pelatih Timnas? Saya pikir juga seperti itu. Penting juga untuk menjadi pemain nasional harus punya link. Karena selain kemampuan pemain, fakstir keberuntungan dan kesempatan juga harus ada. Mungkin saya punya itu. Sudah ada yang akan di bawa ke sana? Kita juga berharap seperti itu. Harapan anak-anak untuk dibawa ke tim nasional harus kita wujudkan. Kalau dia bagus bisa dipromosikan. Karena hubungan itu penting. Seperti saat Ivan Kolev, siapa yang kenal M Yasir kiper yang berusia 17 tahun dan Nasuha sehingga bisa masuk tim nasional meski main di SEA Games. Karena kita ada link, Kolev mencoba dan akhirnya terus main di Timnas. Mungkin tahun ini tidak tahu. Saya sudah tanya Benny Dollo saya ada pemain M Ilham (mantan pemain PSPS yangkini bermain di Persija) dari 32 pemain yang kamu panggil. Namun nantinya keputusan di Benny kan. M Ilham (juga mantan pemain PSPS, red), dia kan ikut saya terus sebelum akhirnya ke Persija. Untuk Timnas sendiri, Anda memilih pelatih asing atau lokal? Sebetulnya lokal aja. Kalau tanggung-tanggung kayak Ivan Kolev, saya bukan sombong karena saya pernah mendampingi dia, dia belajar melatih di Indonesia. Kalau pelatih asing dengan gaji cuma 5.000 dolar per bulan itu bohong-bohongan. Kalau mau cari pelatih asing, yang gaji jutaan dolar yang bagus. Itu pun tidak akan membantu kalau kualitas sepakbola kita seperti ini. Saya kan juga instruktur. Bukan menyalahkan pelatih Indonesia tidak bagus, namun mereka tidak mau belajar. Tidak mau masuk kelas. Padahal di luar negeri itu selesai kompetisi dia ikut seminar dan sebagainya atau up grade ilmunya. Kita kan tak pernah mau, makanya tidak ada peremajaan. Bahkan pelatih kita karena tidak punya lisensi, dikumpulkan dua pekan untuk ikut Lisensi C. Kan nggak bagus, karena mereka sudah nyetir dulu. Terus terang kompetisi kita ini nomor delapan terbaik di Asia. Tapi kenapa kita tak bisa ciptain pemain nasional yang bagus. Kurun waktu dari tahun 1994 kita tak pernah ciptain pemain yang bagus. Ayo kita belajar dan jangan pernah berhenti. Karena saya tahu orang di luar itu mau belajar. Kalau kita hanya karena juara cukup dan tidak mau belajar, masuk kelas, ya susah karena perubahan-perubahan metode itu cepat sekali. Metode latihan banyak. Bentuk-bentuk latihan bisa kita lihat dimana saja bahkan dari internet. Yang saya maksud adalah how to coach-nya itu. Sama saja kita punya mobil banyak bagus, tapi kalau kita nyetir tidak bisa.Kalau dia belajar keras, maka dia akan tahu how to coach. Ini yang kurang jalan kenapa sepakbola kita hanya menghasilkan juara aja. Dasar melatih itu sebetulnya adalah belajar. Bukan bentuk-bentuk latihan. Transformasi itu yang kita harus di-up grade terus. Kami melihat Anda termasuk pelatih PSPS yang melek teknologi. Termasuk merancang program latihan melalui komputer? Ah tidak. Kebetulan saya instruktur dan cuma menjalankan aja. Tapi datanya kan lebih jelas dan tidak perlu bawa-bawa buku sehingga saat diperlukan, ditampilkan dan keluar. Nantinya saat briefing di kelas akan seperti itu? Kita rencananya akan seperti itu. Saya berharap bisa berjalanlah karena ada media gambarnya. Terakhir, kalau boleh tahu, berapa kontrak di PSPS? Janganlah. Ntar orang PSPS-nya marah lagi. Kita sudah komitmen. Yang pasti Anda tahu keadaan PSPS.(hbk) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





