• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Sabtu, 30 Agustus 2008 || 28 Syakban 1429 Hijriah
Total SportSaatnya Juara

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

Teras UtamaSepakati Multi Tafsir Perjuangan Pers

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

”Sweet Seventeenth”
Minggu, 20 Januari 2008
Oleh Tengku Dahril
Kalau diibaratkan seorang anak, tujuh belas tahun adalah umur yang teramat indah. Karena itu selalu disebut dengan sweet seventeenth. Seorang anak benar-benar telah meninggalkan masa kanak-kanaknya dan menuju masa remaja. Masa yang paling indah dalam hidup dan kehidupan.

Riau Pos tahun ini genap berusia tujuh belas tahun. Kita ucapkan selamat ulang tahun yang ke-17.  Semoga tetap menjadi koran utama dan pilihan terbaik pembaca di seantero negeri ini. Saya masih teringat awal-awal masa terbitnya, karena sejak dari awal saya sudah menjadi pembaca setia dan penyumbang tulisan yang sampai saat ini masih menyimpan klipping korannya.  Seperti seorang anak, ia dimulai dari tiada menjadi ada dengan serba keterbatasannya. Mulai dari penampilan yang sederhana, ukuran kecil, kertas buram dengan oplah yang tentu saja masih amat terbatas. Namun sekarang, siapa menyangka, berkat ketabahan, kegigihan, keulietan dan kerja keras dari para pendiri dan pengasuhnya, Harian Riau Pos sudah menjadi bacaan utama dan  kebanggaan masyarakat Riau di bumi persada Lancang Kuning ini.

Keberadaan koran yang bermutu di suatu daerah sebenarnya sangatlah penting dan dapat menjadi tolok ukur dan cerminan atas kemajuan daerah yang bersangkutan  secara keseluruhan. Koran yang bermutu adalah koran yang mampu memberikan pencerahan kepada para pembacanya, sehingga si pembaca bisa lebih meningkat semangat hidup, gairah kerja serta kemampuan personalianya. Mereka yang tidak tahu menjadi tahu, mereka yang kurang paham menjadi lebih paham, sehingga dari hari ke hari kehidupan terus meningkat ke arah kebaikan. Koran seperti itulah sebenarnya yang dicari dan didambakan oleh pembaca yang arif dan bijaksana.

Era reformasi telah memberi kebebasan yang sangat luar biasa bagi koran maupun media massa lainnya untuk tumbuh dan berkembang. Di mana-mana koran-koran baru dapat tumbuh bagai cendawan di musim penghujan. Keberadaan koran yang tumbuh dengan pesat ini sebenarnya, dapat pula menjadi pertanda bahwa minat baca masyarakat di daerah itu terus meningkat, termasuk pula kesejahteraannya. Berarti ada kemajuan. Tak ada pembaca, tak ada pembeli, tak mungkin ada koran bisa tumbuh dan berkembang di daerah yang bersangkutan.

Sudah tidak dapat dinafikan bahwa kehadiran suatu koran di daerah menunjukkan korelasi yang positip dengan jumlah para pembacanya.  Keberadaan sebuah koran pasti dapat memberi kesempatan kerja bagi banyak orang. Mulai dari pengelola, penulis (wartawan), mengecer, sampai kepada menyuplai bahan bakunya. Hanya saja, sayangnya, kadangkala jika koran tidak terkendali secara internal oleh para pengelolanya, menyebabkan koran itu justru bisa menjadi perusak tatanan kehidupan bermasyarakat, dengan berita yang tidak akurat dan penuh fitnah dan cemoohan. Koran seperti ini suatu saat pada gilirannya pasti akan ditinggalkan.

Koran termasuk salah satu media komunikasi yang cukup ampuh dalam membentuk opini masyarakat. Karenanya, keberadaan koran selain berdampak positip bagi kehidupan, ia juga bisa berdampak negatip, dan bahkan bisa menghancur-leburkan sendi-sendi kehidupan umat. Apalagi jika keberadaan koran itu hanya sekedar memenuhi kebutuhan serta ambisi pengelolanya, maka tentu saja keberadaannya bisa menjadi “duri dalam daging” yang pada gilirannya akan merusak tatanan kehidupan berbangsa, bernegara dan masyarakat. Karena itulah setiap daerah memerlukan koran standar yang bisa dijadikan sebagai barometer atau tolok ukur bagi kemajuan daerah yang bersangkutan. Riau Pos saya kira sudah memenuhi persyaratan untuk itu.

Membaca dan menulis adalah merupakan dua kata yang berkait kelindan. Kalau tidak membaca, mana mungkin bisa menulis. Kalau tidak ada yang ditulis, apa yang bisa dibaca. Karena itu membaca dan menulis menjadi dua kata yang sangat luar biasa dahsyat yang mengandung hikmah yang sangat besar. Beruntunglah orang-orang yang suka membaca dan gemar menulis. Membaca dan menulis bukan lagi hanya sekedar hobi melainkan sudah menjadi suatu kebutuhan yang bernilai ibadah. Apalagi kalau membaca dan menulis itu dimulai dengan niat semata-mata hanya ingin mendapatkan rida Allah.

Membaca ayat-ayat Allah yang tidak tertulis berarti kita membaca alam semesta.  Bahasa alam semesta adalah bahasa diam, bahasa yang penuh dengan isyarat, bahasa yang berisikan ukuran dan perhitungan, penuh dengan lambang matematis. Sungguh beruntunglah orang-orang yang mampu membaca bahasa alam ini kemudian menjabarkannya dan  menulisnya ke dalam bahasa yang mudah dipahami, sehingga menjadilah ia buku-buku, jurnal ilmiah, buletin, tulisan-tulisan, dan juga koran. Pemikiran yang bijak dari filosof terkenal seperti socrates, plato, dan aristoteles, pastilah tidak akan dapat dipahami jika tidak ada dokumen yang tertulis yang masih bisa dibaca sampai dengan saat ini. Karena itu bahasa tulisan jauh lebih bermakna dari bahasa lisan, karena mampu melewati batas ruang dan waktu.

Benarlah seperti firman Allah dalam surat Luqman ayat 27 yang artinya “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambah kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)-nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (ditulis) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Luqman, 27). Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.  Dan bahkan Allah pernah bersumpah dengan qalam dan apa-apa yang mereka tulis seperti firman-Nya dalam surat Alqalam ayat 1 yang berarti “Nun, Demi Pena (qalam) dan apa-apa yang mereka tulis. (Alqalam ayat 1).

Koran merupakan salah satu media komunikasi yang sangat ampuh dalam menyampaikan pesan-pesan tertulis dari seorang penulis (wartawan) kepada para pembacanya. Karena itu seorang penulis haruslah berhati-hati dalam menulis dan menyampaikan pesan-pesan yang akan diungkapkannya. Sekali ia menyampaikan hal-hal yang tidak benar, maka akan sangat sulit sekali untuk memperbaiki.

Apalagi menyebarkan kebohongan, fitnah dan lain sebagainya sangatlah besar dosanya. Bahkan sering dikatakan fitnah itu jauh lebih kejam dari pada pembunuhan. Namun sebuah tulisan yang bisa memberi kebaikan kepada para pembaca pastilah akan dicatat sebagai amal saleh yang bernilai ibadah. Bahkan Rasulullah pernah bersabda bahwa tinta para ulama itu akan ditimbang setara dengan darah para syuhada. Sungguh beruntunglah orang-orang yang mampu membaca, menulis dan penyampaikan pesan-pesan ilahiyah melalui tulisannya kepada ummatnya sehingga dapat dijadikan sebagai pegangan bagi generasinya dan generasi penerus sesudahnya.

Selamat ulang tahun ke-17 Harian Riau Pos, semoga benar-benar bisa berperan dalam mem “bangun negeri bijakkan bangsa” di rantau ini. Amin.

 
< Sebelumnya

StopGlobalWarming.org