| Strategi Panzer Jerman |
| Minggu, 20 Januari 2008 | |
|
Das Panzer, Strategi dan Taktik Lapis Baja Jerman 1935-1945 Jerman, di masa perang dunia pertama dan kedua sangat identik dengan panzer. Kendaraan lapis baja yang menjadi alat tempur utama dalam menopang pasukan infanteri ini pun menjadi andalan Jerman. Bahkan hingga sekarang pun, Jerman masih sangat identik dengan panzer, misalnya pasukan sepakbola dengan strategi panzernya: lamban, santai namun kuat dan konsisten. Panzer Jerman hakikatnya bukan hanya sebuah perkembangan politik dan perang yang berkecamuk hebat di Eropa. Panzer juga berkaitan erat dengan perkembangan teknologi dan pemanfaatannya dari inovasi yang terus dilakukan. Sejak revolusi industri di Eropa, perkembangan teknologi memang sangat pesat, termasuklah perkembangan peralatan dan mesin perang. Inovasi peralatan perang yang awalnya dikagumi, akhirnya malah berubah menjadi sangat mengerikan. Perkembangan peralatan perang bahkan hingga terciptanya nuklir, baru kemudian disadari setelah mesin perang itu melenyapkan nyawa-nyawa manusia dalam jumlah sangat fantastis. Dalam peristiwa Stalingrad misalnya, jutaan orang tewas akibat mesin perang yang dahsyat. Harapan hidup seorang serdadu hanya 24 jam pertama saja. Belum lagi kekejaman Hitler yang dikabarkan menyiapkan kamar-kamar gas untuk membunuh serdadu lawannya. Strategi panzer yang dimulai dari Jerman pada dasarnya adalah perpaduan yang apik dari perkembangan teknologi dengan situasi perang yang seolah tak bertepi. Eropa seakan berpacu mencari jajahan baru. Mereka juga saling jegal dan berlomba dalam menundukkan bangsa-bangsa tetangganya. Tengoklah Hitler, Stalin, Napoleon dan beberapa nama lainnya yang menjadi pemimpin perang dahsyat di masanya. Mereka tak segan membunuh jutaan orang demi menang dalam perang dan merengkuh kekuasaan. Konsep perang pun perlahan berubah. Perang tak lagi identik dengan kepahlawanan dan heroisme. Perang kemudian berubah menjadi adu kekuatan teknologi. Di antaranya muncullah pesawat tempur dengan efektivitasnya yang luar biasa, lalu panzer yang lahir dari Jerman. Terakhir yang terdahsyat tentulah bom atom atau nuklir. Buku Das Panzer ini merupakan sebuah gambaran mengenai perkembangan lapis baja Jerman. Awalnya, ia masih dalam bentuk kekuatan ringan dan cepat. Namun di masa berikutnya, inovasi dan teknologi melahirkan mesin pembunuh yang lebih efektif dan kuat. Akhirnya, panzer Jerman memiliki konsep yang lebih pas, yakni sebuah kendaraan lapis baja yang kokoh, menakutkan, meski bergerak lamban. Dalam perkembangannya kemudian, orientasi terhadap faktor kecepatan (speed) dan ketangkasa (agility) lapis baja, berangsur-angsur mulai berganti dengan faktor kekuatan (strength) dan daya tembak (power). Kebijakan yang terjadi pada Jerman ini tak hanya ditentukan oleh jalannya peperangan yang kemudian tidak memihak Jerman, tapi juga oleh keinginan Hitler sebagai penguasa tunggal dan penentu kebijakan hingga hal yang terkecil sekalipun. Buku ini terbagi dalam empat tahap pembahasan. Pertama merupakan tahapan kebangkitan lapis baja Jerman, dalam penemuan dan penciptaan awalnya. Kedua, bagaimana lapis baja Jerman itu berperan dalam peperangan yang dikobarkan Hitler. Ketiga, bagaimana masa redup dan suram serdadu Jerman saat kekalahan mesin perang mereka yang mampu ditandingi dengan mesin perang yang lebih tangguh, misalnya tentara sekutu pimpinan Amerika Serikat. Fase terakhir atau keempat adalah saat tenggelamnya era panzer Jerman ketika kendaraan lapis baja ini mampu dirontokkan, hingga perang berakhir. Sebagai sebuah buku sejarah yang menceritakan tentang mesin perang, buku ini berhasil menceritakan mesin perang yang satu ini dengan efektif. Sebagian Eropa telah merasakan kedahsyatan efektivitas panzer, dan buku ini memaparkannya dengan pas. Sejarah mencatat kecanggihan teknologi serta ketangguhan berbagai generasi panzerkamfwagen, termasuk juga di dalamnya Panzerkamfwagen VI ser seri Tiger yang sangat legendaris. Buku ini mencoba merekam sisa-sisa kejayaan panzer Jerman, mulai saat kebangkitan dan penciptaan awalnya, perannya dalam perang Eropa hingga saat-saat suramnya. Bagi penggemar kisah perang, termasuk perang Eropa yang dahsyat, buku ini dapat menjadi salah satu rujukan.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




Oleh Muhammad Amin,
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya

