• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Kamis, 21 Agustus 2008 || 18 Syakban 1429 Hijriah
Total SportHarus Menang

Rabu, 20 Agustus 2008

article thumbnail

Teras UtamaMendagri Berhentikan Chaidir dari Ketua DPRD

Rabu, 20 Agustus 2008

article thumbnail

Berdamai dengan ”Baby Blues Syndrome”
Minggu, 20 Januari 2008
  Novi, 27, merasa stres dan depresi. Sejak melahirkan bayi perempuan mungil yang cantik, montok dan sehat satu minggu lalu, dia tidak pernah bangun pagi dengan tubuh segar. Matanya selalu mengantuk, tubuhnya lelah, belum lagi pusing dan perasaan yang tidak menentu.

 “Akhirnya saya selalu uring-uringan. Yang jadi korban adalah suami saya karena saya sering marah-marah,” katanya. Lebih parah lagi, Novi mengaku sering ikut menangis jika bayinya menangis.

 Apa yang menimpa Novi sebenarnya juga dialami hampir separuh perempuan yang baru saja melahirkan. Bahasa kerennya baby blues syndrome. Ini adalah stres pasca melahirkan.

 Baby blues ini merupakan kondisi yang jamak  terjadi dan mengenai hampir  50 persen  ibu baru, yang biasa terjadi dalam 14 hari pertama setelah melahirkan dan cenderung lebih buruk sekitar hari ketiga atau empat persalinan.

 Sindrom ini terjadi karena tubuh ibu yang habis melahirkan sedang mengadakan perubahan fisik yang besar. Hormon-hormon dalam tubuh bergolak hebat, tubuh pun masih kelelahan pascatrauma proses persalinan yang melelahkan.

Semua ini tentu akan mempengaruhi perasaan sang ibu baru. Belum lagi beban-beban lainnya. Seperti harus mengurus tubuh sendiri, dari menggunakan stagen atau korset yang bagi beberapa ibu merepotkan. Harus makan bergizi biar air susu bagus, dan sebagainya.

 Itu belum lagi dengan kerepotan mengurus bayi yang pada awal kehidupannya sepertinya hanya punya tiga kegiatan, menyusu, tidur, dan buang air. Ritme seperti ini tentulah akan membuat ibu paling perkasa sekalipun berucap: capek.

 Mungkin ini pula sebabnya, banyak ibu yang berbuat irasional bahkan kriminal, jika mendapat tekanan yang lebih berat pada masa-masa sulit ini. Misalnya, ada ibu yang nekad membakar bayinya sendiri karena kesal dengan suami yang bersikap super cuek.

“Sindrom ini memang berbahaya jika tidak ditangani dengan tepat. Siapapun bisa berbuat irasional jika mendapat tekanan bertubi-tubi,” ujar Diana Elfida MSi Psikolog dari UIN Susqa Pekanbaru.

Sering Menangis

Gejala-gejala dari depresi pasca persalinan yaitu sang ibu  dipenuhi perasaan kesedihan dan depresi disertai dengan menangis tanpa sebab. Tidak memiliki tenaga atau merasa lelah terus-terusan, adanya perasaan bersalah dan tidak berharga, menjadi tidak tertarik dengan bayi Anda atau menjadi terlalu memperhatikan dan kuatir terhadap bayi, peningkatan berat badan yang disertai dengan makan berlebihan, atau malah penurunan berat badan yang disertai tidak mau makan.  

“Sering pula muncul perasaan takut untuk menyakiti diri sendiri atau bayi,” jelas psikolog lulusan Universitas Gajah Mada Jogjakarta ini.

Menurutnya, diperlukan dukungan penuh dari keluarga, terutama suami agar para ibu baru bisa melewati masa-masa sulit ini dengan perasaan tenang dan bahagia.

 Namun yang jelas, baby blues ataupun depresi pasca kelahiran bukanlah aib yang memalukan. Brooke Shields dengan gagah berani mengaku kalau dirinya mengalami depresi pasca kelahiran putrinya, Rowan. Jika Anda pun mengalaminya, itu artinya Anda adalah perempuan normal. Yang penting adalah mencari jalan untuk mengatasinya, demi kebaikan Anda sendiri maupun buah hati tercinta.(dri)  

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org