• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Sabtu, 06 September 2008 || 5 Ramadan 1429 Hijriah
Total SportAncaman Kudeta

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Teras UtamaUrip 20 Tahun Penjara

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Susahnya Menembus Berita Koran
Minggu, 20 Januari 2008
oleh TABRANI RAB 
SAYA  ini orang yang lama di Pekanbaru. Masuk ke Pekanbaru tahun 1952. Ketika itu di Pasar Bawah cuma ada 8 toko dan satu pajak gadai. Nama toko besar ini Borsumi alias Borneo Sumatera, kepalanya namanya Nong Abdullah Syeh, abang sepupu saya. Hanya ada satu mobil di Pekanbaru, itupun kecil, pemiliknya Haji Karib dan sayapun duduk di SD No 2 Jalan Guru sambil menjual ice cream. Lapanglah hidup. Ketika saya akan melanjutkan sekolah dari SMA ke kedokteran di Bandung saya pun bolak-balik antara Bandung–Pekanbaru. Pekanbaru ketika itu sebesar siput babi. Di SMAN 1 yang sekarang ada pula namanya Parto. Begitu jujurnya anak-anak Pekanbaru ketika itu setiap makan kue tiga biji, dihitung sebiji. Artinya dua biji ini namanya cilok alias curi.


 Beginilah kelakuan anak-anak SMA dulu dan ini namanya bukan shabu dan bukan ekstasi sebab perut yang bertambah buncit. Jangan dikira Pekanbaru ini penduduknya banyak, paling 10 ribu. Itu pun yang paling banyak adalah bekas Heiho alias serdadu Jepang.

 Jangan dikira Pekanbaru ini aman. Kalau dari jauh kedengaran cangguriangg...  (kacang goreng) dan kedengaran sesudah maghrib, alamat sepatu di depan mesjid hilang. Saya masuk SMA pada  tahun 1956. Di lokal itu tidaklah banyak murid, paling 12. Anehnya semua yang 12 ini diterima, kalau tidak di ITB ya di UI. Tapi kalau permohonan datang dari Universitas Andalas ataupun Universitas Sumatera Utara alamat tolaakkkk.

 Tiap 6 bulan kerja saya naik kapal antara Tanjung Priok dengan Teluk Bayur. Singgahlah saya di Pekanbaru.

 Jangan dikira politik di Pekanbaru itu stabil. Sesudah Kongres Rakyat Riau II maka Pekanbaru pun mengusulkan supaya dibentuk Provinsi Riau.  

 Gejolak ini berkepanjangan. Pada tahun 1956 Undang-Undang No. 32 Tahun 1956 tentang Otonomi Daerah ternyata tidak dipenuhi oleh pusat sekalipun telah diteken oleh Soekarno dan Ketua Mahkamah Agung. Tahun 1957 daerah-daerah mulai mengangkat dirinya menjadi dewan-dewan daerah, di Sumatera Tengah dikenal dengan Dewan Banteng, di Sumatera Selatan dikenal dengan Dewan Cendrawasih, di Sulawesi Utara dikenal Dewan Permesta.

 Hampir semua daerah bangkit. Melihat kondisi yang demikian Hatta meminta supaya perselingkuhan antara pusat dan daerah diselesaikan dengan damai meniru bentuk-bentuk konstitusi di Amerika. Akan tetapi Nasution yang di belakangnya pernah terdapat oknum militer yang membeking Lubis yang ditunjuk oleh presiden untuk menjadi komandan angkatan darat ditolak mentah-mentah. Saya masih ingat betul peristiwa 17 Oktober 1952 di mana Soekarno membukakan bajunya untuk menerima senjata dari TNI.

 Tahun-tahun berikutnya di Pekanbaru diadakanlah mobilisasi oleh Dewan Banteng untuk merekrut mahasiswa untuk dijadikan anggota Dewan Banteng. Termasuklah saya yang memang ganteng ini.

 Padang dan Bandung senantiasa menjadi pusat perkembangan masa depan saya. Pada tahun 1956 datanglah Mayor Syamsi Anwar yang meresmikan Gubernur Riau. Siapa yang dilantik menjadi Gubernur Riau? Saidina Ali.

 Pada tahun 1956 pusat memutuskan untuk mengirimkan legiun perang ke Tanjung Pinang dan Padang sesudah Dewan Cendrawasih di Sriwjiaya dan langsung membom lapangan terbang Pekanbaru. Saya masih ketemu belasan kali dengan komandan pelatih saya, bekas komandan pelatih di Rengat dan berputar-putar sepanjang simpang tiga dan akhirnya lepas juga ke Sumatera Barat.

 Di Bukittingilah saya melihat ratusan yang mati di sepanjang jalan Padang-Bukittingi-Payakumbuh-Batusangkar-Lintau dan sebagainya.

Kembali ke Pekanbaru saya melihat lagi detasemen yang dipimpin Kaharudin Nasution mendarat dari Tanjung Pinang sampai ke Pekanbaru.

 Dengan apa Pekanbaru itu dibangun? Tak ada dana Pepelrada yang ada dana dari pemerintah dengan mengerjakan buruh-buruh PKI dengan membangun mesjid An-Nur. Di sepanjang pinggir jalan saya melihat Soebrantas selaku  komandan Wirabima dan Kaharudin Nasution selaku Gubernur memasak semen sepanjang jalan. Lain dengan jalan yang dibangun gubernur sekarang di atas gunung rel  kereta api sampai ke Dumai, jalan-jalan yang menjadi putih oleh debu yang beterbangan dan lubang sepanjang jalan maupun lubang yang berjalan.

 Pekanbaru  mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Sampailah kota ini menjadi kota kedua yang terbesar di Indonesia. Segala modal bertumpuk disini, mulai dari Commonwealth Bank, Haga Bank, DBS Bank, OCBC Bank, dan sedikit lagi mungkin  dimasuki pula oleh  Bank of America dan sedikit lagi FED berada di Pekanbaru. Artinya FED-lah yang menentukan bunga bank di Indonesia sehingga Riau Airlines untung lebih dari 500  milyar dari deposito BI.

 Apa kata orang Malaysia kepada saya? ”Inilah pesawat terbang yang paling mahal di dunia, 30 menit saja terbang boleh jadi Rp 1.600.000. Tentu saja terangguk-angguk sebab memang saya tak berbakat naik RAL.

 Dikali yang lain pula di Pekanbaru akan dibangun 38 tingkat hotel, belum lagi akan dibangun super power dan dilatarbelakangnya tampak foto Rusli sedang memegang bola PON 2012, alangkah indah dan mulianya.  Di segala sudut dan segala tempat baleho-baleho besar bergentayangan di Pekanbaru, kecuali di depan Dang Merdu, putih bersih. Sehingga ingin pula saya meletakkan gambar saya ”Mau Kawin? Kapan-Kapan Kawin Lagi”.

 Belum lagi Pekanbaru dengan airport yang tak dipindah-pindah, sedikit lagi airport ini pun terbakar. Seandainya anda lewat jalan besar di Pekanbaru, tampaklah baleho yang lebih besar dari rumah sampai-sampai waktu salat pun sibuk dipasang oleh Walikota.

 Begitulah Pekanbaru, hebat, dahsyat. Tiap hari ada saja ekstasi yang ditangkap dan ada pula polisi yang berhenti. Keadaan inilah yang tak pernah berhenti dari gejolaknya Pekanbaru. Tiap hari ada saja pembunuhan, pembakaran, sodomi, dan istilah apalagi.

Yang jelas di sepanjang jalan Pekanbaru meruak dengan motordan mobil, tak ada duit masuk APBD do. Apalagi yang akan diharapkan dari Pekanbaru ini? Sesudah hutannya licin tandas tinggallah berita serantau minang, serantau kabupaten, bisnis, nusantara ditambah pula dengan koran Metro ’cengkoa bola’. Pandai anglah situ.....Viva Pekanbaru...Yaaa.. begitulah Pekanbaru. Tak ada politik yang jelas, tak ada audit yang nampak, nak menulis berita pun tak dapat, Masyaallah.....(***)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org