• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Kamis, 21 Agustus 2008 || 18 Syakban 1429 Hijriah
Total SportHarus Menang

Rabu, 20 Agustus 2008

article thumbnail

Teras UtamaMendagri Berhentikan Chaidir dari Ketua DPRD

Rabu, 20 Agustus 2008

article thumbnail

”Keranda Jenazah Ayah” Dibedah Malam Ini
Minggu, 20 Januari 2008
BUKU Kumpulan Cerpen Riau Pos 2007, Keranda Jenazah Ayah, akan dibedah dan didiskusikan dalam acara diskusi dan bedah buku yang diadakan oleh Komunitas Paragraf, Ahad (20/1) pukul 19.00 WIB malam ini. Acara yang akan digelar di Galeri Ibrahim Sattah Kompleks Bandar Serai (Purna MTQ) ini akan menghadirkan seorang sastrawan Riau, Gde Agung Lontar, yang akan menjadi pembicara utama didampingi editor buku, Hary B Kori’un.

Koordinator Komunitas Paragraf, Marhalim Zaini, menjelaskan, acara diskusi sastra atau bedah buku adalah acara rutin yang ditaja oleh   Komunitas Paragraf sejak lebih setahun lalu, dan mulai tahun 2008 ini dimulai dengan mendiskusikan salah satu buku yang diterbitkan oleh Yayasan Sagang ini.

“Keranda Jenazah Ayah adalah salah satu kumpulan cerpen yang bisa jadi merupakan representasi dari cerpen-cerpen Riau selama setahun meski hanya yang pernah diterbitkan oleh Riau Pos. Dalam kumpulan cerpen ini kita bisa melihat perjalanan dan fluktuasi cerpen di Riau selama setahun,” kata penulis kumpulan cerpen Amuk Tun Teja ini.

Buku ini berisi 24 cerpen dari 24 cerpenis dari Sumatera Barat (Sumbar), Jakarta, Jogjakarta dan Kanada, meski sebagian besar memang berasal dari Riau yang intensitasnya dimuat di Riau Pos lebih banyak ketimbang cerpenis lainnya. “Tetapi paling tidak, dari waktu ke waktu, halaman budaya Riau Pos sudah menjadi salah satu tujuan para penulis cerpen di Indonesia meski tidak semuanya bisa dimuat,” kata Hary B Kori’un, redaktur halaman budaya Riau Pos.

Hary menjelaskan, penulis dari luar Riau yang paling sering mengirimkan naskahnya adalah Sumbar. Banjirnya naskah dari Sumbar ini membuat dirinya harus ekstra keras memilih karena naskah yang masuk dari Riau juga lumayan bagus. “Saya mencoba adil dalam menentukan naskah yang dimuat setiap pekannya. Saya senang banyak penulis luar Riau yang mengirimkan naskahnya, tetapi saya tetap ingin penulis Riau juga tetap berkembang dan mendapat tempat,” jelasnya.

Maka, dalam menyeleksi cerpen-cerpen yang akan dibukukan dalam kumpulan cerpen tersebut, dirinya tetap memakai skala prioritas, bahwa cerpen-cerpen penulis Riau tetap diperhitungkan dengan baik. Karena, menurutnya, dengan diterbitkannya cerpen para penulis Riau ini, diharapkan akan bisa terus memacu kualitas dan kuantitas para penulis Riau.

Sementara itu, Marhalim berharap para sastrawan, pecinta sastra, mahasiswa, dosen, para penggiat sastra dari berbagai kelompok dan komunitas sastra serta para penulis Riau yang cerpennya masuk dalam kumpulan ini bisa datang untuk mengikuti diskusi. “Kami berharap dunia sastra di Riau bisa terus bergerak dan memperlihatkan geliatnya, salah satunya dengan mengikuti diskusi ini,” kata Marhalim.

Beberapa penulis Riau yang cerpennya masuk dalam buku ini antara lain Olyrinson, Aleila, Dessy Wahyuni, Musa Ismail, Nyoto, Murparsaulian, Sobirin Zaini, M Badri, Pandapotan MT Siallagan, Ellyzan Katan, Fariz Iksan Putra, Sutrianto, Gde Agung Lontar, Ranti A, Saidul Tombang dan beberapa nama lainnya.(ila)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org