| Jalan Diraja |
| Minggu, 20 Januari 2008 | |
|
oleh HASAN JUNUS
Tiga karya André Malraux yang penting, Les Conquérants (1928), La Condition humaine (1933) dan L’Espoir (1937) ada saya miliki. Akan tetapi saya tidak memiliki La Voie royale, untunglah saya mempunyai karya Malraux tahun 1930 itu dalam terjemahan bahasa Inggeris, The Royal Way, sehingga saya tidak terlepas dari mengetahui rangkaian karya-karya pengarang yang dikatakan oleh Albert Camus lebih layak menerima Hadiah Nobel bidang kesusastraan tahun 1957 ini dibandingkan dengan dirinya. Namun saya tahu gema suatu karya sastra yang kita hayati dari bahasa aslinya berbeda dengan pantulan yang kita terima dari bahasa terjemahan. Sayangnya seorang manusia tak mungkin menguasai semua bahasa manusia yang ada di dunia ini. Menyadari keterbatasan dan terus merayau di lebuh raya sastra dunia dengan kelebihan dan keterbatasan, itulah kita makhluk fana yang kadang-kadang sombong ini. PADAHAL dibandingkan dengan tiga karyanya yang disebutkan di atas, The Royal Way yang aslinya yaitu La Voie royale, boleh diterjemahkan sebagai ‘’Lebuh-raya Diraja’’ bukanlah karya yang sebanding dengan yang tiga itu. Meski tak sebanding atau di bawah ukuran rata-rata kebesaran yang terkandung di dalamnya tapi karya André Malraux ini dekat sekali dengan riwayat kedirian sang pengarang. Jalan kehidupan André Malraux tak kurang dahsyatnya dengan jalan yang dilalui oleh tokoh-tokohnya. Dalam usia masih sangat muda tahun 1924 ia sudah pergi ke daerah jajahan Perancis di Asia Tenggara, memasuki rimba belantara, bekerja sebagai pakar arca religius Buddhis dalam suatu ekspedisi arkeologi, sampai tertangkap dan diadili karena telah melanggar hukum dengan tuduhan merusak benda-benda budaya. Ia terkenal sebagai pengazas terbentuknya Brigade Internasional baik semasa Perang Saudara Spanyol, demikian juga semasa pemisahan Bangladesh dari induknya Pakistan. Ia juga seorang tokoh perlawanan terhadap pendudukan Nazi Jerman di Perancis, dan sebagai anggota Resistans atau pasukan perlawanan ia dikenal dengan nama Kolonel Berger. Jenderal Charles de Gaulle menunjuk André Malraux sebagai Menteri Kebudayaan selama pemerintahannya dan dalam periode itu ia banyak berbuat untuk kebudayaan Perancis dan juga kebudayaan dunia. Karya-karyanya yang berlatar belakang negeri Cina seperti Les Conquérants dan La Condition humaine memperlihatkan kecenderungan politik Malraux. Sedangkan karyanya yang berlatar belakang Perang Saudara Spanyol L’Espoir ialah karya Pablo Picasso Guernica yang cat dan warnanya terdiri dari kata-kata, lukisan dalam sastra. Baik karya yang berlatar belakang negeri Cina, jajahan Perancis di Asia Tenggara atau Perang Saudara Spanyol semuanya memperlihatkan Welt-und-Lebenanschauung Malraux yang keras dan seperti tak kenal kompromi. Malraux dan tokoh-tokohnya telah sama-sama ditempa oleh kehidupan sehingga mereka bergerak di dunia ini dengan leluasa, merdeka dan tanpa canggung sedikitpun. Karena itulah suatu plesetan atas nama Malraux yang pernah dibuat oleh seseorang senegerinya yang mengatakan nama Malraux itu sebenarnya bermakna mal-du-hero atau wira yang malang atau celaka dapat dipandang sebagai semacam hujatan dan fitnah terhadap Malraux. Tokoh utama dalam La voie royale ialah seorang Jerman bernama Perken. Di Perancis seseorang yang dinyatakan sebagai seorang Jerman bisa berarti orang yang berasal dari negeri Jerman dan Austria dan Swiss, tapi bisa pula seorang Perancis yang berasal dari kawasan berbahasa Jerman seperti misalnya saja daerah Alsace-Lorraine @ Elsass-Lothringen. Tujuan asal Perken Si Jerman ialah hendak meninggalkan suatu tanda di peta. Karena itu ia –seperti juga Malraux– pergi ke Indochina, tepatnya ke Kamboja dan –lagi-lagi seperti Malraux– terlibat dalam penggalian dan pengumpulan benda-benda seni dan religius Buddhis. Tapi berbeda dengan Malraux, Perken mengerjakan pengumpulan dan penggalian benda-benda kuno dan bersejarah itu untuk mendapat uang buat membeli senjata modern guna melengkapi penduduk asli suku Moï memerangi kolonial Perancis yang kononnya telah membawa peradaban ke dalam hutan belantara Asia Tenggara. Dalam banyak hal kedahsyatan karya ini mengingatkan orang pada Heart of Darkness karya Joseph Conrad (1857-1924) yang secara blak-blakan membicarakan tentang kehidupan dan kematian. Diri André Malraux dapat ditelesuri pada Claude Vannec, seorang anak muda Perancis yang pergi ke kawasan sebelah Timur jajahan Perancis di Asia Tenggara karena didorong oleh keinginan menggebu menyaksikan kuil yang dibangun di atas suatu jalan raya kuno yang tertutup belantara yang terletak di daerah di antara Laos dan Kamboja. Inilah yang dinamakan jalan diraja yang dalam bahasa Perancis disebut la voie royale. Jalan diraja inilah yang dijadikan alasan oleh Claude Vannec untuk meninggalkan Eropa lengkap dengan kehidupan borjuis yang telah disiapkan oleh keluarganya. Bagi Claude petualangan di tengah belantara Asia Tenggara begitu mengasyikkan dan lebih penting dijalani daripada kehidupan yang senang teratur di Eropa sana. Di atas kapal yang akan membawanya ke Asia Tenggara itulah Claude Vannec berkenalan dengan Perken Si Jerman. Ia sangat tertarik pada kerasnya kemauan Perken untuk mencapai cita-citanya menggapai arca-arca Buddhis, memilikinya dan menjualnya, dan melaksanakan cita-cita politiknya. Perken Si Jerman di mata Claude Vannec ialah seorang yang benar-benar berkepribadian, layak untuk menjalani peranan di dunia baik dalam kehidupan maupun di dalam kematian. Keduannya bergabung dan dari situlah mereka mengarah ke suatu permainan yang mengisi kehidupan dan kematian mereka untuk melawan dunia dan melawan diri mereka sendiri. Untuk mencapai suku Moï yang memerlukan senjata modern maka Perken dan Vannec memerlukan uluran tangan dari Grabot, seorang tentara Perancis desertir. Kedua lelaki petualang itu berhasil melepaskan sebuah relief dari suatu candi Buddhis, lalu mereka melangkah menuju ke kawasan suku Moï untuk bertemu dengan Grabot yang bagi banyak orang merupakan lambang kebebasan dan inspirator ke arah kemerdekaan sejati. Tapi sang inspirator itu mereka jumpai dalam keadaan buta terikat terbelenggu, kehilangan kekuasaan. Claude mau membunuhnya ‘’agar ia terlepas dari penderitaan’’ tapi Perken menghalanginya. Ia sendiri yang memberanikan diri bertemu dengan orang-orang Moï dan berhasil membebaskan Grabot. Sang inspirator berhasil dibebaskan tapi lututnya terkena anak panah beracun sehingga bagaimanapun Perken dan Claude Vannec berupaya ia tak berhasil mencapai kerajaannya.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





