• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Ahad, 07 September 2008 || 6 Ramadan 1429 Hijriah
Total SportBungkam Kritik

Minggu, 07 September 2008

article thumbnail

Teras UtamaKloter Haji Pertama Berangkat 5 November

Minggu, 07 September 2008

article thumbnail

Ketika Lampu Menyala di Siang Hari Dianggap Wajar
Minggu, 20 Januari 2008
Belajar Melihat Gajah
Tungau di seberang lautan nampak. Tetapi gajah di pelupuk mata tidak nampak. Itu sama artinya dengan Perusahaan Listrik Negara(PLN) sibuk mengkampanyekan penghematan pemakaian listrik, namun mereka sendiri menghambur-hamburkan pemakaian listrik.

Laporan Andi Noviriyanti, Pekanbaru Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya

Suatu hari di ruang kerja Ketua DPRD Riau drh Chaidir MM, Riau Pos belajar ilmu baru. Namanya ilmu melihat gajah.  Sebuah pelajaran yang ditulis Chaidir dalam bukunya berjudul 1001 Saddam.

Chaidir berkisah tentang sebuah perumpaan Tungau di seberang lautan  nampak, gajah di pelupuk mata tak kelihatan. Sebuah perumpamaan yang secara logika tidak masuk akal. Manalah mungkin tungau, makhluk sejenis parasit yang ukurannya sehalus butiran debu, berada pula di seberang lautan bisa nampak. Sementara gajah yang bertubuh tambun, berada pula di pelupuk mata bisa tidak kelihatan. Namun dalam pelajaran ilmu melihat gajah ternyata hal itu bisa masuk akal juga.

Lalu apa kaitannya antara belajar melihat gajah dengan PLN? Ceritanya bermula saat Riau Pos hendak menulis tentang green building (gedung ramah lingkungan).  Green building adalah gedung yang mampu mengurangi penggunaan pemakaian energi listrik, mampu memanfaatkan air hujan, malah kalau bisa mengelolah kembali air yang digunakannya dan menggunakan tinja yang dihasilkan di gedung itu sebagai kompos dan energi.  

Kalau bicara efisiensi energi listrik tentulah yang paling tepat berbicara hal itu adalah PLN. Bertandanglah Riau Pos ke kantor PLN Cabang Pekanbaru. Berharap bisa mendengar cerita sukses tentang efisiensi energi. Mengingat ini adalah salah satu cara yang digalakkan diseluruh penjuru dunia untuk mengurangi gas rumah kaca, si penyebab pemanasan global.

Hari itu awal minggu ketiga Januari, sekitar pukul satu siang. Matahari sedang garang-garangnya. Terik sekali dan cahayanya berhamburan menerangi bumi. Memasuki ruang kantornya, terpesonalah Riau Pos dengan tatanan kantornya yang kini apik. Sangat berbeda jauh dengan beberapa tahun silam saat Riau Pos pernah berkunjung ke tempat itu.

Namun tak kala memandang ke langit-langit koridor kantor, Riau Pos dihadiahi pemandangan lampu-lampu yang menyala terang benderang. Padahal nyala lampu itu tidaklah punya arti bila dibandingkan terangnya cahaya matahari yang masuk ke ruangan itu. Ibarat lilin di tengah lampu pijar.

Lalu bertanyalah Riau Pos kepada pejabat di kantor itu, di ruang kerjanya. Mengapa harus menghidupkan lampu di siang hari begini? Kalau kurang terang mengapa tirai jendela tidak dibuka saja?

Menjawablah si pejabat. Pemakaian listrik itu seperti mobil. Diisi satu dengan tiga orang sama saja energi yang digunakannya. Jadi kalau siang hari tidak mematikan lampu tidak apalah. Pasalnya saat itu bukan sedang jam puncak. Jam puncak, katanya, hanya pada jam 17.00-22.00 WIB. Diwaktu itulah pemakaian listrik sedang hot-hot-nya. Sehingga mesin PLN terpaksa dihidupkan.

Bertanya lagi Riau Pos. Jadi kalau begitu tidak apa-apalah kalau lampu di rumah di siang hari di hidupkan juga. “Oh, itu pengaruhnya ke tagihan pelanggan. Kalau mereka tidak berhemat, tagihannya yang bengkak,” ujarnya lagi.  

Mendengar cerita itulah Chaidir tertawa. “Itulah yang namanya mencari pembenaran. Yang salah dibenar-benarkan juga. Tungau di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak kelihatan. Jadi tampaknya harus belajar melihat gajah,” ujarnya sambil tertawa kecil.  

Dalam bukunya, Chaidir menyinggung bagaimana ada orang yang yang mengkampanyekan menajemen qolbu, tetapi sesungguhnya tidak paham hakikat manajemen qolbu. Analognya itu sama pula ada instansi yang berkampanye tentang hemat energi listrik, tetapi mereka pula yang memboros-boroskan energi listrik.

Kalaulah logikanya listrik di siang hari tidak banyak yang memakai, PLN bisa melihat fakta berbeda di lapangan. Pasalnya kini, di siang hari hampir setiap kantor dan rumah menghidupkan lampu. Contohnya di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riau atau ke kantor Pemukiman Sarana dan Prasana Wilayah (Kimpraswil) Riau. Ditambah lagi dengan penggunaan air conditioner (AC) di tiap ruang berbagai gedung dan rumah-rumah elit. Jadi pemakaian listrik di sianghari juga besar jumlahnya dan terpaksa pula juga terus memaksa bekerja mesin-mesin pembangkit listrik PLN yang kebanyakan masih menggunakan bahan bakar fosil.

Tiba-tiba pelajaran melihat gajah berhenti sampai disitu. Pasalnya mata Chaidir tertuju pada langit-langit ruangannya. Terlihat ada taburan bola lampu yang berjejer indah ke kanan dan ke kiri plavon ruangannya. Padahal diluar sana, terlihat cahaya matahari tanpa malu-malu masuk diantara gorden putih tipis jendela kacanya. “Tampaknya saya harus matikan lampu juga nih,” ungkapnya tersenyum simpul kepada Riau Pos.***

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org