| Erna Willianty |
| Minggu, 13 Januari 2008 | |
|
”Anak Saya Harus Bisa Mandiri”
Rasa sayang kepada buah hati tidak harus diungkapkan dengan limpahan materi dan perhatian penuh selama 24 jam. Setidaknya begitulah menurut Erna Willianty SH. Bagi ibu tiga putera kelahiran Selat Panjang, 12 November 1967 ini, rasa sayang yang diekspresikan berlebihan kepada anak seringkali justru menjadi bumerang, baik bagi ibu apalagi sang anak itu sendiri. “Kita lihat sendiri, banyak anak-anak yang malah salah jalan, terjerat narkoba atau pergaulan yang buruk, karena diberikan berbagai fasilitas oleh orang tuanya. Saya tidak mau dan jangan sampai seperti itu,” kata wanita cantik yang kini mengelola sekolah Djuwita Pekanbaru ini. Erna sendiri lebih memilih pola pendidikan kemandirian sejak dini kepada tiga putra-putrinya. Kebetulan Erna adalah wanita karir, jadi dia memang mempunyai waktu yang terbatas dalam mendampingi keseharian para buah hatinya. “Sebagai wanita karir, dulu saya sering merasa bersalah. Tapi sekarang saya justru merasakan hikmahnya. Ketidakberadaan saya ternyata justru memicu anak-anak saya untuk lebih mandiri,” katanya bangga. Karena itulah, Erna sekarang merasa percaya diri melepas dua anaknya, Margenie Winarti dan Felix Pratama, menempuh pendidikan di Kuala Lumpur , Malaysia . Keduanya bersekolah di International School di negeri jiran itu. Margenie duduk di grade 10 (setara dengan kelas 2 SMA) sedangkan adiknya di grade 9. “Saya menyekolahkan mereka ke luar negeri bukan saja demi pendidikan terbaik bagi mereka. Tapi saya berpikir, dengan jauh dari saya, mereka jadi lebih terlatih untuk mandiri dan bertanggung-jawab,” katanya. Erna mencontohkan, jika anaknya disekolahkan dekat dengan orang tuanya, tentu saja setidaknya, si anak akan menjadi manja dan terbiasa serba dilayani. “Mau apa-apa, mereka minta sama orang tua. Atau minta tolong sama pembantu. Bagi saya itu tidak baik dan tidak mendidik,” katanya. Meski sangat mengedepankan kemandirian, tapi Erna mengaku itu tidak berarti dia menjaga jarak dengan anak-anak. Sebaliknya, Erna adalah sosok seorang ibu yang sangat dekat dan akrab dengan anak-anaknya. Dia biasa saling curhat, jalan-jalan, atau bermain bersama keluarga. “Saya memang sibuk. Dan anak-anak memang sering komplain. Tapi saya terima komplain mereka dengan memberikan waktu khusus, biasanya Sabtu dan Minggu,” katanya. Bagi Erna, sikap orang tua yang otoriter saat ini sudah ketinggalan zaman. Anak-anak sekarang justru lebih membutuhkan figur orang tua yang bisa mengerti dunia mereka dan bisa diajak bicara selayaknya sahabat. “Kalau kita main bentak dan main aturan ini itu, bisa dipastikan anak-anak malah akan minggat,” katanya sambil tertawa. Karena itulah, Erna mengaku termasuk ibu yang terbuka. Dia membiarkan anak-anaknya bercerita apa saja. Termasuk soal pacaran. Dia justru tidak mau anak-anaknya takut untuk bercerita dengannya. Karena itu, dia memilih bersikap friendly, sehingga anak-anak jadi nyaman untuk curhat. “Anak saya pernah bertanya, boleh nggak pacaran? Saya senang mereka bertanya pada saya, karena itu berarti mereka memberi saya kesempatan untuk memberikan nasehat,” katanya sambil tersenyum.(dri) |
| < Sebelumnya |
|---|



