Kamis, 04 Desember 2008 || 5 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Heli Pak Gubri
Minggu, 13 Januari 2008
Oleh TABRANI RAB 
Kira-kira 5 tahun yang lalu  sayapun bergembira-ria di Hotel Media Sheraton di Jakarta  bersama Abdullah Puteh. Saya masih ingat dia punya hutang karena tiket saya belum dibayar untuk pulang. Maka dengan tiupan kecil saya pun membisikkan kepada Abdullah Puteh “Tak usah lah dibeli helikopter, penyakit”.

Akhirnya Abdullah Puteh menghuni penjara sekian tahun, belum lagi heli AURI yang tecampak dan teduduk.  Sedangkan dalam pertemuan ini hadir antara lain Munir (tokoh HAM yang sudah menjadi almarhum), Widodo Adi Sucipto membentangkan mengenai gejolak Aceh Merdeka. Tentu saja saya punya bahan banyak sebab saya ambil semuanya dari Tiro, sementara penghubung saya dengan Malik, selaku wakil Tiro  di Swedia dilaksanakan oleh Kapitra Ampera dan sebeban bahan yang dibawa oleh mahasiswa Riau dari Aceh.

Maka lengkaplah geopolitik Aceh dibaca dari sejarah, pertentangan antara Tengku dan Teuku yang menghabiskan  ustad dan tengku-tengku di Aceh.  Pertentangan dari generasi ke generasi di Aceh  dengan Belanda dan tidak pernah mau mengakui perjanjian antara Aceh dan Belanda termasuk kemerdekaan Indonesia. Penolakan Soekarno terhadap Daud Beureuh untuk mengakui Negara Islam Indonesia di Aceh, begitu pula pengakuan republik terhadap kerjasama antara Aceh dengan Kartosuwiryo di Jawa Barat dan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan.

Pulangnya, sesudah mengadakan pertemuan dengan mahasiswa, saya pun menulis buku Menuju Riau Merdeka. Tentu saja bergulir ke Kongres Rakyat Riau II, maka opsi pun memilih 270 suara opsi Merdeka dibandingkan dengan opsi otonomi 199 suara dan opsi federal 146 suara.  Pokoknya Riau merdeka. Sekalipun saya menghadap Megawati sebagai Wakil Presiden  yang menguraikan langkah-langkah ayahnya mempersatukan tanah air, ide saya ini tidak juga bergeming. Kita ini sudah tahu dengan Riau, kata Pak Gubernur Riau, ”Kemiskinan, kebodohan dan infrastruktur senantiasa menjadi hantu bagi masyarakat.”

Tiba-tiba saja saya membaca berita Riau Pos (11/1) “Gubernur Riau, HM Rusli Zainal mengatakan pemerintah propinsi Riau akan mempertimbangkan untuk membeli helikopter, hal ini dikarenakan sarana transportasi cepat seperti helikopter tersebut sangat diperlukan sekali, terlebih bila melihat kondisi geografis Riau yang berpulau-pulau. Menurutnya perusahaan swasta seperti RAPP saja mendirikan lapangan  udara sendiri dan menyiapkan pesawat khusus, padahal jarak antara Pangkalan Kerinci dengan Pekanbaru tidaklah terlalu jauh. Akan tetapi mengingat waktu transportasi udara ini menjadi prioritas. Saya memandang sudah sepatutnya kita memiliki helikopter tersebut, kegunaannya sangat banyak berlebih bila melihat kondisi geografis Riau yang berpulau-pulau sehingga helikopter tersebut adalah sarana yang tepat untuk digunakan. Dikatakannya lagi pertimbangan utamanya adalah waktu bukan yang lain-lainnya. Artinya pembelian helikopter bukanlah untuk gagah-gagahan dan sebagainya, akan tetapi untuk efisien waktu dan efektivitas kerja”.  

Pada zaman sekarang ini dimana 75-80 persen dari jalan-jalan di Riau berlandaskan tanah dan jauh dari kerikil sehingga apa yang dimaksud dengan pembangunan infrastruktur, apakan tidak saja.  Belum lagi gedung  yang super mewah dibangun berbatasan dengan kantor Gubernur dan menyebabkan orang di kampung saya Sinoboi tak dapat masuk ke Bagan karena lumpur sudah melantak Bagan.

Maka saya pun menulis di Riau Pos (Des/2003) “Helikopter Pak Gubernur. Tiba-tiba timbul keinginan Gubernur dan Wakil Gubernur untuk melihat festival perahu Bagaundang. Karena anak saya dulu praktek di Taluk Kuantan, tahulah saya kalau acara ini taklah hebat, tidaklah macam pacu jalur.  Entah apa pasal Gubernur ingin berfoto di depan gubuk buruk dengan payung raja-raja sebagaimana tampak dikoran-koran. Yang baju Melayu adalah sekitar 7 orang termasuk Bupati, sisanya ya… pakaian Hansip dan Satpamlah alias Satuan Apam. Balik ke cerita helikopter ini. Entah apa pasal Ketua Harian Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR) yang usulnya berhasil agar Gubernur Melayu berbini orang Melayu Drs Al-Azhar menyatakan “Riau perlu miliki helikopter sendiri. Dengan demikian kendala teknis  seperti ini tidak terjadi lagi dikemudian hari”.

Entah apa kaitan perusahaan perusak hutan Riau terbesar RAPP dan Indah Kiat ditambah dengan perusahaan kayu gelap harus dihubungkan dengan helikopter ini ditambah dengan Ketua FKPMR Abbas Jamil dan Levna Erfan “Heli ini dapat berfungsi untuk transportasi seperti ini, untuk SAR, evakuasi, antisipasi wabah dan lainnya. Selain itu kendaraan udara ini dapat mempersingkat waktu, memutuskan isolasi. Kondisi geografis Riau yang masih relatif sulit terjangkau hingga ke pelosok memerlukan adanya kendaraan ini. Menyewa terus jelas tidak efisien. Lebih baik pemerintah propinsi memiliki sendiri. Jadi tidak karena heli ada kendala teknis, acara terlambat” (Riau Pos, 2/12).

Sang Gubernur pun tersipu-sipulah menyatakan “Itu perlu kita kaji terlebih dahulu, bagaimana untung ruginya”. Sebab alasan Pak Gubernur ini “Riau memang memiliki geografis yang masih sulit  terjangkau seluruhnya. Oleh sebab itu, gagasan  perlunya heli milik Pemda Riau ini perlu dicermati juga”. FKPMR sebagai lembaga yang terkenal kritisi dan Al-Azhar sebagai Ketua Harian merangkap Presiden Riau Merdeka perlu jugalah saya mengusulkan agar Helikopter ini disertai pula dengan radar yang dapat memantau hutan Riau yang telah Liau disamping itu karena Riau akan menjadi padang pasir maka latihan Helikopter ini perlu pula dilengkapi dengan rudal dan yaa… seperti Bell helikopter yang di Irak itu. Apalagi dalam perang Vietnam ratusan helikopter tercebur ke laut dari Danang, perlu pula dibuat studi kelayakan kalau-kalau helikopter ini masih dapat diangkat ke atas untuk digunakan oleh armada helikopter Gubernur Riau.

Alhasil bilal husal, kalau zaman dahulu kala Kaharudin melarang Caltex menggunakan helikopter supaya Caltex dapat memecahkan terisolasinya desa-desa di Riau, maka FKPMR  mengusulkan kepada Gubernur Riau agar Gubernur Riau memakai helikopter agar acara tidak terlambat. Maka sang Gubernur pun tentulah lupa kepada parit-parit di Tembilahan yang menyebabkan saya berobat ke dokter bedah karena nyeri perut dan dada sebab polisi tidur di tiap jembatan dan Gubernur tentulah tak lagi melihat apa yang dikatakan Zainudin MZ kalau di Jakarta dan Batam lubang berjalan-jalan tapi kalau di Riau lubang di tiap jalan. Makin jauhlah Gubernur dengan rakyatnya seperti yang diusulkan FKPMR yang penting jangan telat hadir dalam acara seperti acara Bagaundang alias perahu bergendang yang sebenarnya Gubernur macam Kaharudin lah sikit, ahhh yang ini tak usahlah saya datang, cukup wakil saya saja”.

Satu kali di zaman yang sudah normal-normal ini, saya pun dibisikkan oleh teman yang akan hadir dalam pertemuan di Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai pidato Bapak Syaukani yang 5 tahun berada dengan saya di DPOD RI  yang akan menguraikan bentuk-bentuk negara otonom di Indonesia. Maka dengan segala kehalusan bahasa, saya pun menolak. Bukan tak pernah ke New York dan ke gedung PBB sebagaimana calon Ketua KNPI, tapi karena memang saya banyak duitlah.

Nah, Pak Gubernur lebih baiklah ditunda membeli heli ini. Sebab ketika saya ke tahanan Mabes Polri maka sederetan nama-nama pun  telah ada di sana. Mana tahu kita entah di luar entah di dalam. Hati-hatilah membeli heli, enggg..alahhhh....Lebih baiklah komit pada K2I alias Kemiskinan, Kebodohan dan Infrastruktur walaupun luar negeri hanya menyebutkan ignorance and poverty, wassalammualaikum Pak Gub......(*)

 
< Sebelumnya
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org