| Hari-hari bersama Tumor Payudara |
| Minggu, 13 Januari 2008 | |
|
HARI masih sore. Semburat mentari terlihat malu-malu dari balik kaca kamarku. Mereka bersembunyi di balik awan. Di luar sana , dedaunan tampak melambai lembut. Meskipun langit tersaput mendung.
Ya, alam seakan mengerti suasana hatiku. Saat ini, aku sedang terbaring di sebuah kamar bercat serba putih di salah satu rumah sakit di Malaka, Malaysia . Di kamar ini hanya ada aku sendiri. Sejak seminggu lalu, aku memang menjadi penghuni kamar apik ini. Aku dirawat di sini, di negeri orang, karena penyakit yang bukan penyakit biasa. Tapi penyakit yang sangat ditakuti para perempuan seperti aku. Tumor payudara. Belum Menikah Namaku Santi (bukan nama sebenarnya). Aku adalah putri tunggal. Aku lahir duapuluh tiga tahun lalu, di Pekanbaru. Empat tahun lalu, tepatnya saat aku berusia 19 tahun, aku terkejut saat menyadari ada benjolan kecil di payudara sebelah kananku. Saat itu aku lagi di kamar mandi. Iseng, aku mencoba gerakan-gerakan yang sering kulihat di iklan majalah. Katanya itu untuk deteksi dini payudara. Maka kulakukanlah gerakan itu sambil bercermin di depan kaca. Tapi betapa kagetnya aku ketika menemukan benjolan lebih kecil dari kelereng di payudara sebelah kananku. Aku terkepung ketakutan yang dalam. Bagaimana kalau benjolan itu ternyata kanker? Saat itu, aku memutuskan untuk menyimpan temuanku sambil berharap, siapa tahu benjolan kecil itu bisa hilang sendiri. Tapi dua hari kemudian, benjolan itu tak kunjung hilang. Akhirnya aku memberanikan diri menyampaikan temuanku kepada mama. Aku juga meminta mama meraba payudaraku untuk memastikan benjolan itu benar-benar masih ada. Mama lantas memutuskan untuk segera membawaku ke dokter. Meski mama tampak tenang, tapi hatiku tidak karuan. Bagaimana kalau benjolan itu kanker? Bagaimana kalau payudaraku harus diangkat? Bagaimana hidupku kalau aku tidak punya payudara lagi? Padahal aku kan belum menikah…Apa ada laki-laki yang mau punya istri tanpa payudara? Aku diantar mama mendatangi sebuah rumah sakit yang tidak begitu jauh dari rumahku. Ini rumah sakit lama. Aku dan adik-adikku bahkan lahir di rumah sakit ini juga. Aku juga pernah dirawat di sini karena sakit demam berdarah beberapa tahun lalu. Namun, kali ini jadi berbeda. Aku mendatangi ruang praktek dokter dengan hati menciut. Jantungku seakan mau lepas. Saat dokter merujukku untuk pemeriksaan lebih lanjut ke rumah sakit lain yang memang lebih besar, ketegaranku yang memang tinggal secuil langsung runtuh. “Apakah ada kemungkinan aku mengidap kanker, Dokter?” tanyaku memberanikan diri. Namun dokter itu, seorang dokter laki-laki, muda yang cukup tampan, hanya mengatakan, hanya pemeriksaan lanjutanlah yang bisa menjawab pertanyaanku. Di sepanjang perjalanan pulang air mataku bercucuran. “Aku takut kena kanker,” isakku. Tapi mama lagi-lagi tampil menjadi dewi penyelamatku. “Jangan suka berprasangka jelek dulu. Kalaupun memang itu tumor, pasti ada jalan keluarnya kalau kita mau berusaha. Lagipula kan masih mau diperiksa lagi,” kata mama yang sangat kusayangi. Takut Ditinggal Pacar Ya, umurku belum 20 tahun ketika benjolan pertama tumbuh di payudaraku. Benjolan itu ternyata memang didiagnosa sebagai tumor. Air mataku membanjiri malam-malamku sejak vonis itu kuterima. Aku tidak mau makan, bahkan tidak mau kuliah. Beberapa minggu kemudian, aku lalu memutuskan untuk mengikuti saran orang tuaku. Aku berangkat ke Malaka Malaysia , untuk menjalani pemeriksaan lagi. Aku masuk ke sebuah rumah sakit yang sangat modern. Lokasinya pun indah. Dari dalam kamarku di lantai dua, aku bisa melihat hijaunya pepohonan. Di rumah sakit ini aku kembali menjalani berbagai pemeriksaan. Hasilnya sama saja. Aku memang didiagnosa mengidap tumor payudara. Bahkan aku disarankan untuk menjalani operasi. Sebelum dioperasi, aku minta pulang dulu ke Pekanbaru. Ya, aku harus memikirkan dulu masak-masak keputusan ini. Aku tidak ingin menjalani peristiwa penting ini dengan hati yang galau. Untungnya Sesampai di rumah, ada seorang temanku berkunjung. Aku memang menyimpan penyakitku ini rapat-rapat. Kepada teman-teman dan keluarga lainnya, aku dan orang tuaku mengatakan aku berobat karena sakit hepatitis. Tapi tak disangka, Sandra, nama temanku itu, menceritakan suatu hal yang membuat bulu kudukku merinding. Dia menceritakan kakak perempuannya yang meninggal akibat kanker payudara. Nafasku rasanya tercekat di tenggorokan. Ketidaksengajaan ini membuatku menggigil. Setelah Sandra pulang, barulah aku merasa sedikit lega. Aku lalu berusaha rileks dengan membaca sebuah majalah. Namun, ketidaksengajaan lain justru makin membuat hatiku miris. Tak sengaja, aku membaca sebuah kisah nyata tentang seorang perempuan yang ditinggalkan suami setelah payudaranya diangkat. Aneh sekali, ketidaksengajaan-ketidaksengajaan ini seakan terror buatku. O ya, saat itu aku sedang cinta mati pada pacarku. Dia pernah bilang mencintaiku karena aku baik dan cantik. Tiba-tiba aku berpikir, cantik kan sama saja dengan mulus. Apakah dia akan tetap mencintaiku setelah operasi ini? Aduh, tiba-tiba aku begitu takut kehilangan dia. Menyebalkan sekali, mengapa aku masih harus memikirkan dia di antara ketakutanku mati karena tumor? Payudaraku Masih Ada Aku sudah berada di ruang rawat bedah. Pagi itu aku berjemur bersama seorang bapak yang berkostum cokelat muda serupa dengan yang kukenakan. Kami berkenalan dan saling menanyakan menjalani operasi apa. Betapa terkejut aku setelah tahu dia baru selesai menjalani operasi payudara! Aku baru tahu kalau laki-laki pun tak luput dari tumor payudara, meskipun kasusnya tak sebanyak yang menimpa perempuan. Pengetahuan baru ini sedikit menguatkanku sebagai perempuan belum menikah pengidap tumor payudara. Masalahnya, saat pamit dan minta doa dari keluarga besar menjelang keberangkatanku untuk menjalani operasi, beberapa sepupu bertanya. “Kok belum menikah sudah kena tumor payudara?” Hatiku bagai teriris mendengar itu. Seolah-olah tumor ini terkait dengan perilaku seksual. Komentar-komentar itu semakin mengecilkan hatiku.Bahkan ada pula tetangga yang sempat nyeletuk, “Wah, kasihan belum menikah sudah kena tumor. Kasian suaminya keduluan dokter (maksudnya, payudaraku sudah dioperasi dokter sebelum dinikmati suamiku).” Pertemuan dengan bapak pengidap tumor payudara itu meyakinkanku bahwa tidak ada kaitan perilaku seksual dengan tumor payudara seperti yang dipikirkan orang-orang. Hm... dan tentang suami yang keduluan dokter, aku harus memilih kesehatan bagaimanapun dibandingkan memberikan payudara mulus pada suami. Suami? Pacarku belum juga memberi kabar apakah dia bisa menjengukku atau tidak. Aku sebetulnya sangat membutuhkan dia. Tapi bisa jadi dia sedang sibuk sendiri dengan pikirannya: apakah aku masih cukup dia cintai atau tidak lagi? Pagi itu aku sudah terbaring di ruang bedah dikelilingi petugas anestesi dan dokter bedah. Payudaraku sudah dilumeri Betadin dan siap dibedah. Ternyata aku tak kunjung pingsan, walaupun obat bius sudah disuntikkan melalui nadi kakiku. Salah satu petugas menutup mataku dengan kain. Namun aku bilang, “Jangan ditutup sebelum aku pingsan.” Aku takut mereka membedahku sebelum aku pingsan. Rupanya rasa tegangku membuat kerja obat bius menurun. Mereka menyuntikkan lagi obat bius, tapi aku tak juga pingsan. Mereka menyarankan aku untuk rileks. Tapi, bagaimana bisa? Akhirnya mereka memilih jalan pintas dengan memintaku menghirup obat bius. Saat kesadaranku pulih, hal pertama yang kulakukan adalah memeriksa payudaraku. Ia masih dalam bentuk sebelumnya dan tertutup perban di bagian yang dibedah. Mama memandangku dengan tatapan tenang. Dia selalu membuatku lebih kuat. Tidak lama kemudian perawat menyuntikkan obat penahan rasa sakit. Syukurlah aku tidak merasa sakit setelah menjalani operasi. Hari kedua aku sudah berjalan-jalan seperti biasa. Makan juga sudah terasa enak, karena pengaruh obat bius semakin menyusut. Kegiatan yang membuatku linu adalah ganti perban setiap pagi. Aku akan melihat perkembangan pemulihan luka bekas operasi sampai akhirnya mengering dan benang jahitan bisa diambil. Aku melihat garis melintang di bagian bawah payudaraku yang lukanya semakin mengering. Hasil laboratorium menunjukkan aku terkena FAM (sejenis tumor jinak). Wah, lega rasanya. Berarti aku tidak perlu menjalani operasi radikal (pengangkatan seluruh payudara jika terdeteksi kanker payudara). Minggu ketiga setelah operasi aku sudah pulang ke Pekanbaru. Satu minggu kemudian aku malah sudah masuk kuliah dengan semangat baru. Waktu bertemu pacarku, dia bilang telah berkonsultasi dengan seseorang terkait dengan tumor payudaraku. Dia memutuskan untuk melanjutkan hubungan kami. Waktu dia mencium keningku, aku membiarkannya. Aku mengalami pikiran yang aneh, semacam ingin meyakinkan bahwa aku masih cukup cantik untuk dia. Aku berpikir, apakah dia akan menikahi perempuan yang payudaranya tergores luka? Entah ada hubungannya atau tidak, tapi tujuh bulan kemudian kami memang putus. Kini sudah 3 tahun sejak operasi menakutkan itu. Setiap tahun aku menjalani mamografi dan USG payudara untuk deteksi dini kemungkinan FAM muncul lagi. Dokter hanya menyarankan aku menjalani pola hidup sehat, cukup istirahat, dan olah raga teratur. Juga menghindari makanan yang mengandung pengawet, termasuk ayam dan telur broiler. Konsep mulus yang pernah menggangguku kini tidak ada lagi. Aku sudah bisa menentukan citra cantik dengan cara berpikirku sendiri. Aku mulai terlepas dari konsep cantik sama dengan mulus dan memberikan kemulusan pada laki-laki. Ini aku, perempuan dengan satu goresan di payudara, sempurna dengan cara berpikir dan cara hidup yang aku pilih. Aku hanya bertanggung jawab untuk menjaga dan memelihara kesehatanku. Dan aku melakukannya juga untuk Zidan, laki-laki yang kini menjadi suamiku.(indriaty susanto) (Seperti dituturkan Santi kepada Riau Pos melalui surat) |
| < Sebelumnya |
|---|





