| Perjalanan Kajian dan Kritik Sastra di Riau |
| Minggu, 13 Januari 2008 | |
|
Oleh UU Hamidy (Dan Beberapa Catatan Karya Sastra Pilihan ”Riau Pos” 2007 Bagian 2) 2. Kritik Sastra di Riau
Secara kuantitatif, kreativitas sastra di Riau sudah menggelegar cukup hebat. Tiap terbitan hari Ahad di Riau, berbagai media cetak, terutama surat kabar, memuat cerpen dan puisi. Kemudian hampir tiap pemberian Anugerah Sagang, selalu diiringi oleh penerbitan cerpen dan puisi. Tetapi dari sudut kualitas (mutu) masih perlu dipertanyakan, bagaimana jumlah karya yang banyak ini bekasnya, gaungnya, pengaruhnya, bahkan maknanya dalam belantara budaya Melayu di Riau. Pertanyaan itu belum dapat dijawab dengan memadai. Sebab, telaah, timbangan dan keritik terhadap karya-karya kreatif ini masih sedikit. Kalaulah tidak dikatakan belum memadai. Meskipun barangkali sudah banyak yang membaca karya-karya itu, tetapi bagaimana tanggapan atau penilaian mereka sulit diketahui. Ini terjadi karena tidak semua pembaca dapat memberikan kritik atau tanggapan terhadap karya yang dibacanya. Kebanyakan pembaca hanya sampai kepada sikap suka tidak suka terhadap karya yang dibacanya. Karena itu apresiasi yang memadai hanya dapat diungkapkan oleh pengamat atau kritikus sastra. Sebab dialah yang punya alat (ilmu) untuk memberi timbangan dan nilai bagaimana kehadiran suatu karya sastra. Mengapa telaah terhadap karya sastra tidak berimbang jumlahnya dengan jumlah karya kreatif itu, dapat diterangkan dari beberapa arah. Pertama, pengarang kreatif dalam bidang puisi dan fiksi, banyak yang enggan menulis kritik, sebab dia juga bekarya dalam bidang itu. Mereka barangkali khawatir akan terjadi "menepuk air di dulang" yang basah bukan orang lain, tetapi diri sendiri. Tetapi kalaupun ada telaah dari kalangan seniman ini, biasanya kupasan itu lebih suka mengulas tentang muatan isi. Jarang yang sampai mencakup aspek lain, yang juga amat perlu diketengahkan. Ini terjadi barangkali, karena pengarang kreatif yang membuat ulasan itu, belum tentu punya potensi menulis kritik. Sebab mereka mengarang tidak semuanya berangkat dari panduan teori seni (sastra). Dan memang untuk mengarang karya sastra, teori tidak mutlak harus dikuasai oleh pengarang. Dari kenyataan itu, kritik sastra memang ada baiknya datang dari kalangan akademisi yakni para pensyarah (pengajar) di perguruan tinggi. Pada satu sisi mereka punya potenai karena punya ilmu tentang seni. Pada belahan lain, karena mereka barangkali tidak mengarang puisi maupun fiksi yang akan jadi bahan telaah. Jadi, relatif ada jarak antara yang memandang (yang menilai) dengan yang dipandang (yang dinilai). Bersabit dengan ini seyogianya Riau tidak akan kekurangan tenaga kritikus sastra. Perhatikanlah, berapa jumlah sarjana sastra (budaya) pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning serta para dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia pada FKIP Unri dan Universitas Islam Riau. Tetapi mengapa harapan itu tidak berlaku? Ini bisa terjadi, karena untuk menjadi seorang pengamat (kritikus) sastra, di samping harus punya minat dan punya bekal teori seni, masih ada faktor lain yang juga cukup menentukan. Karya sastra yang bermutu berpijak kepada larutan nilai serta berisi dimensi sosial dan budaya. Hanya karya-karya yang dangkal, yang bersifat meterialistik munafik, yang tidak mempunyai larutan nilai-nilai yang beharga. Dengan sudut pandang serupa itu, maka karya-karya sastra di Riau yang bersandar pada dunia Melayu, niscaya tidak akan memadai ditelaah, jika pengamat itu tidak punya persepsi tentang sistem sosial, sistem budaya, terutama sistem nilai puak Melayu di Riau. Hampir semua karya pengarang Melayu berisi larutan sistem nilai orang Melayu, yakni resam (tradisi) adat dan agama Islam. Jika tidak ada satupun di antara ketiga sistem nilai itu, maka karya itu akan dipandang aneh oleh orang Melayu. Begitulah, pengamat (kritikus) hampir tak mungkin mendekati sajak-sajak Ibrahim Sattah, jika tidak pernah mengetahui dunia permainan budak-budak Melayu, di mana mereka terbiasa dengan permainan kata sewaktu bermain. Juga puisi Sutardji Calzoum Bachri, hanya dapat diapresiasi dengan sedikit banyak memahami mantera Melayu. Sementara mantera Melayu, tidak semuanya untuk upacara magis, sebagaimana berlaku di tempat lain. Mantera Melayu juga sudah bergeser dari alam makhluk halus kepada semangat mendapatkan keridhaan Allah. Karena itu dukun Melayu juga memakai tawar dan lemu yang mereka teroka melalui jalan tarekat. Cobalah pertimbangkan, apakah mungkin seorang pengamat sastra mengulas karya Raja Ali Haji, Tuan Guru Abdurrahman Siddik dan Soeman Hs, tanpa pengetahuan yang memadai tentang agama Islam. Bagaimana metafor yang mereka pakai dapat diterangkan, kalau lambang dan kiasan dalam Alquran dan Hadist Nabi tak pernah dibaca oleh pengamat tersebut. Lalu yang paling jelas, perhatikanlah kumpulan sajak Tempuling dan Bulang Cahaya (novel) karya Rida K Liamsi. Hanya dengan bekal pemahaman dunia Melayu di Riau, baru kita dapat menikmati karya Rida. Metafor dunia Melayu dipakai Rida begitu tepat dan harmonis, sehingga kita dapat mengetahui beberapa kunci keindahan karya itu. Keindahan bentuk dan isi dirangkai Rida dalam bahasa Melayu yang lemah gemalai, melalui tangan yang lasak dan sentuhan yang piawai. Kedua, kritik sastra tidak berkembang dengan baik pada umumnya dan di Riau khususnya, barangkali karena pengamat itu tidak mendapat jalan yang lapang untuk membaca karya sastra. Karya-karya itu tidak sampai kepada kritikus. Ini terjadi oleh beberapa perkara, misalnya karena mereka tidak membeli buku yang berisi karya tersebut atau tidak punya jalan berhubungan dengan media yang memuat karya itu. Yang lain, mungkin karena tak punya waktu menulis kritik, lantaran sibuk dengan berbagai urusan dunia lainnya. Tapi mungkin saja, mereka tidak punya minat untuk bekarya sebagai pengamat sastra. Ketiga, yang merupakan faktor yang amat penting, ialah sosok karya itu sendiri yang tidak menarik. Tidak indah, bahkan mungkin gelap dan membingungkan para pengamat. Ini bisa terjadi karena imajinasi yang dituangkan pengarang ke dalam karyanya terlalu liar, sangat subyektif dan hampir-hampir tidak berpijak di bumi. Ketika pengamat membaca karya serupa itu, segera berkurang minatnya dan patah semangatnya. Betapa tidak demikian, sebab pengamat itu tidak mendapat arah, dari mana karya ini dapat diulas. Dalam keraguannya, kritikus itu merasa tak bermanfaat memberikan timbangan terhadap karya tersebut. Meskipun demikian, budaya kritik sastra seyogianya tetap berkembang. Ketiadaan kritik sastra sedikit banyak mempengaruhi semangat pengarang untuk bekarya. Tapi yang lebih penting lagi telaah sastra dapat membantu khalayak memahami karya sastra. Dan lebih dari itu kritik sastra dapat memberi tanda peringatan kepada para pengarang, agar tidak menjadi pengarang yang dibidas oleh Allah SWT dalam Surah Asy-Syu'ara Ayat 224-227, betapa sebagian penyair (pengarang) berkata berlebih-lebihan sehingga mereka terjerumus melakukan kebohongan. Tertipu oleh setan, sehingga jatuh ke dalam lembah kegelapan dengan karyanya. Kecuali orang-orang yang beriman (termasuk pengarang) yang banyak mengingat Allah. Bagaimana dunia kritik sastra dapat lebih mencair di Riau, agaknya dapat dipertimbangkan beberapa kemungkinan. Pertama, perlu ada jalan bagi apresiasi sastra yang relatif baru, selama belum ada pengamat atau kritikus yang memadai. Pengarang bisa membacakan karyanya kepada khalayak, terutama para mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya serta mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Setelah karya ditampilkan, mahasiswa dan para dosen diberi kesempatan berdialog dengan pengarang, sehingga karya itu mendapat tanggapan dari beberapa aspek. Hasilnya dapat dipublikasikan kepada khalayak peminat sastra. Pihak Dewan Kesenian Riau (DKR) dapat menaja pertemuan dan dialog pengarang dengan para mahasiswa, pelajar dan khalayak peminat sastra, membicarakan sosok pengarang dan karyanya. Alangkah baiknya barangkali perbincangan itu diadakan di gedung Perpustakaan Provinsi, agar langsung dekat dengan bahan pustaka. Sementara itu masih dapat lagi dibuat kegiatan lain, yang langsung diatur oleh pihak Perpustakaan Provinsi. Pihak Perpustakaan Provinsi, dapat membuat jadwal pertemuan pengarang dengan para pembaca di perpustakaan itu. Bila diadakan sekali 3 bulan atau setiap ada terbitan buku baru dari seorang pengarang. Ketika itu para keritikus muda dapat mulai berlatih memberikan ulasan atau tanggapan. Malah masih ada lagi kegiatan yang cukup menarik, yakni Perpustakaan Provinsi bekerja sama dengan DKR dan pihak penerbit, membuat lomba telaah karya sastra, setiap terbit karya sastra yang baru. Hadiahnya dapat diminta kepada pihak swasta, sebagai pihak sponsor dalam perlombaan itu. Dari berbagai kegiatan ini, insya Allah akan muncul kritikus muda yang berbakat. Mereka inilah yang akan diharapkan mampu memberikan apresiasi yang relatif memuaskan terhadap karya-karya yang bermutu. Mencairnya kegiatan kritik, telaah dan ulasan terhadap berbagai karya sastra, tentu juga akan menambah minat para pengarang untuk menulis. Tetapi, dengan adanya kritik, tentu mereka tidak lagi akan sebatas mengarang begitu saja. Para pengarang niscaya akan mempertimbangkan mutu karyanya. Hadirnya karya yang bermutu itulah sebenarnya tugas utama dari telaah dan kritikus saatra. (Bersambung) UU Hamidy, adalah kritikus sastra dan dosen sastra senior. Bermastautin di Pekanbaru. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





