| Duo Kembar |
| Minggu, 13 Januari 2008 | |
|
Oleh YUSMAR YUSUF Bertolt Brecht benar mengingatkan; “kasihan kepada negeri yang memerlukan para pahlawan”. Manusia meninggalkan masa lalu dengan anyaman-anyaman serba gagah. Pahlawan ialah salah satu anyaman itu. Dia bersalin ruang dan waktu masa lalu menjadi kepentingan konstruksi kekinian oleh semangat kekinian pula. Jika ditelisik secara teliti, timbul pertanyaan ikutan tergolong kritis oleh Habermas: siapa yang memerlukan mereka (pahlawan) dan mengapa? Ada dua jenis tahun yang berlalu dalam ukuran 10 hari ini. Pertama tahun dengan siklus matahari (syamsiah/solar) dan tahun yang merujuk pada perjalanan bulan (qamariah/lunar). Dua jenis kalender (tahun) ini, telah ‘membuat’ sebuah taman masa lalu dan ‘menghidangkan’ laman kekinian. Dalam taman masa lalu yang pendek itu, manusia mengukir dalam memorinya mengenai perbuatan-perbuatan kultural dalam ukuran serba wira atau kepahlawanan. Pahlawan menjadi sesuatu yang dirindu dan ingin direngkuh dalam segenap idaman kolektif sebuah masyarakat bahkan bangsa. Taman masa lalu, senantiasa menjadi timbangan dacing, yang di dalamnya manusia mengkonstruksi dengan nilai-nilai serba wira dan gagah. Alias, kelebihan masa lalu dengan masa kini, ketika dia diperhadap-hadapkan, maka masa lalu akan menjadi pemenang. Inilah logika alamiah yang menjerat pemikiran dan emosi manusia sepanjang peradaban. Saban berganti tahun, orang bergegas membongkar ‘kubur’ masa lalu, siapa yang mustika, siapa yang nirmala. Ada pula yang mengukir kewiraan masa lalu yang terlalu dilebih-lebihkan menurut gemuruh pemikiran yang serba heboh oleh seorang penguasa yang tengah euphoria. Tidak sedikit pula masa lalu dianggap beku dan dibekukan dalam kedinginan nan mengigil. Masa lalu itu sendiri adalah pahlawan. Waktu dan ruang yang disediakan oleh masa lalu itu bernilai wira dan kepahlawanan dalam ingatan manusia. Maka berlomba-lombalah manusia, menilai siapa pahlawan peristiwa 11/9 New York? Siapa pahlawan Rawalpindi dalam tragedi Buttho jelang tutup tahun miladiyah tempohari? Siapa pahlawan demokrasi 1998 dan di Myanmar? Dan jika diteruskan, pertanyaan itu, siapa yang memerlukan pahlawan dan mengapa? Dia akan menjadi penjelasan yang bakal panjang sepanjang manusia memberi makna kepada masa lalu. Penanggalan Hageria/Hijrah dan penanggalan Cina adalah dua rumpun besar penanggalan yang merujuk pada perjalanan [siklus] bulan yang paling besar bagi umat manusia di permukaan bumi. Dalam semangat Hageria, ada sematan transformasi yang hendak dikedepankan dalam peristiwa penanggalan itu. Sehingga yang menjadi pahlawan pada sistem penanggalan ini, adalah mereka-mereka yang senantiasa melakukan transformasi diri, ide, pemikiran dan penemuan-penemuan yang tiada henti. Kewiraan yang hendak disuling dalam semangat Hageria /Hijrah adalah semangat ‘membaharu’, menemukan sesuatu yang baru, mengukir sebuah kemauan yang membaharu. Sebagaimana pergerakan manusia-manusia di lembah Mekkah melakukan gerakan ke utara menuju ke sebuah titik oase subur secara topo-geografis bernama Madinah. Bahwa, mereka yang melakukan penyegaran pemikiran, membuka diri dan pemikiranlah yang menjadi pahlawan. Mereka yang senantiasa melakukan gerakan haniflah dalam mengenderai gelombang keragaman kepercayaan, ide, politik, agama, nilai, yang berhak ditabal sebagai wira atau pahlawan dalam sistem penanggalan Hijriah ini. Bahwa pahlawan bukan persoalan darah dan air mata, bukan pula persoalan darah dan besi. Dia adalah persoalan peradaban, sesuatu yang ditinggalkan demi mematangkan peradaban, melembutkan peradaban sehingga manusia bisa hidup berdampingan dengan damai. Bisa membangun ‘kebenaran’ masing-masing di samping ‘kebenaran-kebenaran’ yang dibangun oleh puak-puak yang bersebelahan dengan dirinya. Pergantian tahun miladiyah yang dijadikan rujukan tahun masehi, juga menyuling semangat kelahiran kembali. Ada sesuatu yang ‘suci dan disucikan’ dalam perjalanan hidup peradaban dan manusia. Renata (kelahiran kembali) menjadi lambang perubahan, dan kehendak-kehendak ikutan di belakangnya. Sehingga dalam pemaknaan penanggalan ini, ide mengenai kelahiran kembali, kesucian, pemikiran yang tersegarkan, adalah idaman kolektif mereka mengenai semangat kewiraan dan kepahlawanan. Sejauh ini, terjadi tipuan saintifik yang mungkin bekecenderungan kuasi-saintifik bahwa pahlawan dan kepahlawan berkait erat dengan darah dan besi atau air mata. Ihwal ini menjadi santapan tidak saja di kontinental Eropa dan Amerika, tetapi telah masuk menjadi wilayah martyrdom dalam konsep jihad Islam juga dunia ketiga lainnya. Dulu, ada sebuah gerakan pemurnian di Mesir, yang menjadi tokoh sentral adalah Hasan Al Bana. Dan orang menerjemah syuhada yang dipersembahkan beliau di tiang gantungan sebagai élan pahlawan. Padahal kita lupa, Hasan Al Bana adalah seorang penggemar dan pemain bola kaki. Ihwal yang terakhir ini tidak pernah sama sekali tersentuh. Maka menjalarlah terjemahan-terjemahan kaku hari ini terhadap perjalanan dan perjuangan Hasan Al Bana dalam lorong Ikhwanul Muslimun dan ikutannya di negara-negara Islam lain. Duo kembar yang mengembara di celah-celah memori manusia, yang kemudian dikenal dengan sebutan sistem kalender Masehi dan Hijrah, tidak lebih memainkan fungsi-fungsi cermin tempat manusia berkaca. Hari ini kalender masehi menjadi dominan dipakai di permukaan bumi, sebab hampir 80% pelaku dan penguasa ekonomi dunia dikuasai oleh kaum non muslim. Sehingga sistem bank di permukaan bumi merujuk pada hari kerja penanggalan Masehi. Demikian pula dalam pemaknaan pangkal hari dari dua sistem penanggalan ini, juga terjadi perbedaan yang teramat jauh. Hageria atau Hijrah sejauh ini, memulai pergantian hari atau tahun ditandai oleh suatu “peristiwa yang tergelincir”. Yang tergelincir itu adalah di senja kala (maghrib). Maka tradisi orang melakukan doa tutup tahun dilakukan pada lepas ashar, dan doa buka tahun dilakukan setelah maghrib (organis). Bersebelahan itu, Masehi memulai tahun melalui gerakan mekanis (pukul 00) di tengah malam. Demi mengabdi pada masa lalu, dan semacam mengucap terimakasih kepada masa lalu, orang berbondong-bondong menukangi masa lalu dan menerjemahnya demi hidup kekinian dan keakanan. Para pionir yang menerjemah masa lalu itu tak sedikit pula menangkap masa lalu dengan semangat kekinian, yang berpotensi mengelirukan masa lalu itu sendiri. Benteng Tujuh Lapis Daulu-Dalu, ialah salah satu cara kita menerjemah dan masuk ke lorong masa lalu itu. Apakah kita terjerat dalam persoalan mekanis atau organis tentang masa lalu itu, ihwal ini tidak menjadi soal. Yang penting, dari semangat duo-kembar yang disediakan dalam sistem penaggalam syamsiah (solar) dan qamariah (lunar), kita tidak lagi bertabiat menghubung-hubungkan epos, epik, wira dan kepahlawanan dengan sesuatu yang bersumber dengan kaidah darah dan besi, darah dan ari mata, darah dan ujung tombak dan seterus. Bahwa masa lalu yang melayang dari pandangan manusia, dia tak lebih dari persoalan organis dari sistem kosmos yang mencitrakan pembawaan alam yang serba teratur. Di dalam keteraturan itu adalah kelahiran-kelahiran kembali, dan menggesa orang untuk senantiasa melakukan transformasi diri. Walhasil, sesuatu yang dirindukan dalam nilai epos itu sendiri adalah semangat transformasi, yang di dalam itu tersemat sebuah sukma yang berpembawaan senantiasa berubah dan gelisah.*** |
| < Sebelumnya |
|---|



