| Nyawa Cerita |
| Minggu, 13 Januari 2008 | |
|
Oleh HASAN JUNUS
Sosok itu mendekat dan berkata dengan suara jelas dan nyaring, katanya, ‘’Akulah Nyawa Cerita!’’ Demikian dikisahkan oleh Thomas Mann 1873-1955) dalam bagian pembuka romannya yang berjudul Der Erwählte. ‘’Akulah nyawa Cerita!’’ dalam bahasa Jerman, bahasa yang dipakai Thomas Mann ialah, ‘’Ich bin der Geist der Erzählung!’’ Nyawa atau Semangat Cerita seperti inti, teras dan padatan dari seluruh batang tubuh cerita karya seorang pengarang. Pernyataan ini menjadi sangat terkenal di kalangan masyarakat sastra sekitar masa ketika pengarang Jerman itu meraih Hadiah Nobel tahun 1929. Sosok yang mengaku dirinya Nyawa Cerita itu sama benar seperti kitab Risalat al-Ghufran karya Abu al-‘Ala’ Ahmad ibn Abd-Allah al-Ma’aarri (973-1057) dalam karya Tahar Ben Jelloun La Nuit Sacrée yang pergi merayau ke sekotah dunia untuk mencari dan berakrab dengan para pengamal ajaran yang dikandungnya. ‘’Rampai’’ kali ini mendedahkan beberapa Nyawa Cerita yang berasal dari legenda Ahasverus, legenda Der fliegende Holländer, dari karya sastrawan terkenal pada masa lampau seperti troubadour Pèire Cardenal, Sebastian Brant dan Molière (1622-1673). BEBERAPA sosok Nyawa Cerita di bawah ini perlu kauketahui untuk melancarkan pembacaanmu terhadap dunia sastra dan sastra dunia. Setelah itu merayaulah di keluasan lautan sastra itu, berenanglah sepuas-puasnya di antara ombak dan gelombang karya sastra yang tak pandai berhenti lahir dan hadir itu. Tokoh legenda Ahasverus Si Yahudi Kelana pernah diperkenalkan oleh penyair Chairil Anwar dalam sebuah sajaknya. Tokoh ini juga disebut-sebut dalam karya Gabriel García Márquez Cien años de soledad yang dalam kebudayaan Iberia dikenal dengan nama Yudio Errante. Legenda Der fliegender Holländer (Si Belanda Terbang) melewati sempadan sastra karena pada tahun 1843 komponis Richard Wagner menyusun karya opera berdasarkan kisah ini. Kedua legenda terkenal ini sering dijadikan Nyawa atau Semangat Cerita oleh pengarang-pengarang terkemuka bahkan sering ditafsirkan dalam jenis kesenian yang berbeda seperti dalam karya seni-rupa, musik dan lainnya. Inilah Nyawa atau Semangat Cerita yang disarikan dari semua kisah milik troubadour bernama Pèire Cardenal (circa 1190-1271) sebagaimana tertera dalam Anthologie des troubadours susunan Piere Bee: Sekali peristiwa, saya tak tahu entah di mana tempatnya, turunlah hujan yang amat lebat setelah kemarau panjang mencekik. Orang-orang pun berhamburanlah dan bertemperasan keluar dari rumah masing-masing, berebut mandi hujan dengan gembira seperti yang dulu sering dilakukan semasa kanak-kanak. Orang-orang pun menyanyi dan menari segila-gilanya, sehingga semua orang yang basah kuyup kena hujan itu semuanya menjadi gila. Kecuali seorang! Kenapa begitu? Karena ketika hujan turun ia sedang tidur di sudut rumahnya. Ia selamat karena ia tidur? Atau ia selamat karena tak ikut bergila-gila mandi hujan? Ia selamat karena ia memang diselamatkan oleh Yang Maha Kuasa? Semua pertanyaan itu menunjukkan Nyawa Cerita itu amatlah penting! Pèire Cardenal mendendangkan kisah-kisahnya yang bernyawa pada kisah yang tertera di atas selama sebagian besar masa kehidupannya di sepanjang jalan dan pelosok kampung kelahirannya di Puy-en-Velay. Sebastian Brant lahir di Strasbourg (yang ketika itu termasuk dalam negeri Jerman, kini menjadi bagian negeri Perancis) kira-kira tahun 1458 dan meninggal-dunia pada 10 Mei 1521 di kota kelahirannya. Karyanya yang terkenal sepanjang zaman ialah sebuah puisi narratif Das Narrenschiff (Kapal Orang Gila) yang nyawa atau semangat ceritanya kira-kira sebagai berikut ini: Sebuah kapal layar berangkat ke laut lepas berisi seratus orang gila yang berasal dari negeri surga orang gila yaitu Narragonia (sering ada perenung yang mengatakan bahwa Narragonia itu ialah negeri tempat kita hidup ini. Entahlah!). Karya Sebastian Brant dalam bentuk puisi narratif ini kemudian dijadikan dasar dan landasan oleh pengarang Amerika Serikat Katherine Anne Porter (1890-1980) pada tahun 1962 menghasilkan sebuah novel A Ship of Fool yang mengisahkan kapal ‘’Vera’’ sebagai sebuah mikrokosmos yang menampung segala macam orang yang menyeberang Atlantik kebalikan dari zaman Columbus dari Dunia Baru ke Dunia Lama atau dari Amerika ke Eropa. Nyawa Cerita Sebastian Brant dan Katherine Anne Porter tetaplah sama yaitu kapal yang berisi orang-orang-gila gila berlayar ke tujuan yang tak jelas. Karya Sebastian Brant menjadi sumber dirayakannya saban tahun Festival Orang-orang Gila di kota-kota Eropa Barat. Molière (1622—1673) yang nama aslinya Jean Baptise Poquelin sebagai penulis cerita sandiwara komedi konon tak pernah mengalami kekeringan bahan karena kabarnya ia memiliki Nyawa Cerita yang sangat kuat. Meskipun ayahnya cuma perawat meubel di istana raja Perancis Louis XIII si anak mendapat pendidikan di perguruan tinggi Clermont berteman dengan anak-anak golongan elit kota Paris. Seluruh karya Molière dapat disarikan berdasarkan sebuah Nyawa Cerita seperti berikut: Seorang tukang kayu bakar selalu memukul isterinya, sehingga timbul niat si isteri hendak membalas dendam. Suatu hari pagi-pagi sekali terdengar pukulan tambur yang menyatakan pengumuman bahwa anak perempuan penguasa wilayah tertelan tulang ikan. Dicari seorang tabib yang dapat mengobat anak penguasa lokal itu. Ketika pengumuman sampai di depan rumah tukang kayu bakar, mereka bertemu dengan isteri tukang kayu bakar yang ingin membalas dendam kepada suaminya. ‘’Suami saya sebenarnya seorang tabib yang pandai mengobat penyakit tertelan tulang ikan. Ia sedang mengumpulkan kayu bakar di hutan sebelah sana!’’ kaya isteri tukang kayu bakar itu. Setelah bertemu tentu saja tukang kayu bakar menyangkal bahwa ia seorang tabib. Tapi setelah tak mau dibujuk akhirnya ia dibawa paksa menghadap sang penguasa. ‘’Kalau kau berhasil mengobati anakku hadiah besar menantimu, kalau tidak nyawamu kuambil,’’ kata sang penguasa. Si sakit pun dipanggil, dan tabib olok-olok itupun meringis ketakutan karena nyawanya akan melayang. Begitu dahsyat ringis wajahnya sehingga terlihat sangat lucu. Si anak yang tertelan tulang ikan itupun ketawa sampai tulang di tenggorokannya terpacul keluar. Setiap pengarang dan karya yang mapan dan mantap memiliki Nyawa Cerita. ‘’Mengapa harus menulis lima ratus halaman,’’ kata pengarang agung dari Argentina Jorge Luis Borges (1899-1986), ‘’untuk suatu idea yang bisa dipaparkan dalam beberapa menit?’’ Seandainya kau sudah mapan dan mantap sebagai pengarang –yang tidak berarti kau harus mempunyai puluhan karya yang setiap buku harus sepanjang 500 halaman sebab mantap dan mapan yang kumaksud ialah rohnya jadi mungkin kau cuma mempunyai beberapa karya sepanjang lima halaman sepatah kata Jorge Luis Borges – maka tentu ada orang yang berupaya mencari dan menelusuri apa Nyawa Ceritamu.*** |
| < Sebelumnya |
|---|



