Kamis, 04 Desember 2008 || 5 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Di Depan Stadion
Minggu, 13 Januari 2008
Ragil Supriyatno Samid

Di Depan Stadion
: rin


tiba tiba aku teringat akanmu
dulu pernah kita berteduh di sana
di bawah atap gerbang stadion pinggiran jalan aspal
saat mendung tumpah di bumi siang yang mendidih
aku menjemputmu sepulang sekolah usai mengajar
dengan sepada motor pinjaman
tempias hujan yang jatuh diatap sepotong itu
lamalama membuat kita setengah kuyup
kau putuskan untuk meneruskan lagi separuh perjalanan setelah
membungkus semua kertas dan buku dibalik jas merah
kita terjang sisa hujan yang menggerimis
debu asap yang menempel di wajahku luruh mengalir asin dibibir
bedak tipismu luntur jadi pulau noda di dada baju sebelah kiri
sekarang aku tertegun mengingatmu
masih rintik dan gerimis yang menggiris di sini
di berita televisi banjir kota jakarta jadi air bah
kau telah lama di sana dan kita putus kabar
sesore ini aku melamunkanmu
hujan gerbang stadion motor pinjaman dan noda di baju:
kapan kita akan mandi bersama lagi


Layu Melayu

ayu melayu dirayurayu
dipeluk turut, dipukul manut
: aku malu bilang takut!*    

minyak di bawah, minyak di atas
yang disesap cuma minyak di tubuh
: aku malu bilang kecut!

setelah puas semua tusuk
setelah puncak semua cium
dikutuk sepi, sendiri layu

aduhai, kutak lagi tahu
apa malu, apa mau
: inilah dendang, layu melayu

Pekanbaru, Januari 2008

Keterangan:
-dikutip dari puisi Marhalim Zaini yang berjudul “Semua Sepi, Padam Sendiri” (Komposisi Sunyi, 2007)


Di Malam Tahlil

Basah dinding bata membacamu saat
            duka
terbatabata meresap kala

sampai dilalu waktu

merontok rambutrambut batu
dalam patahan debu yang menghambur di antara
dengung  tarian doadoa
bau menyan dan daun bonak sisa rampe
geliyang asapasap kekuningan terangkai
                jadi
bayang jejak hari kemarin yang terbang
hinggap dalam aroma basin dan masam melulu
yang meliuk gelisah dan terhempas limbung di antara
                paksa dan pasrah
untuk membacamu terus
terus
terbatabata

 

Ragil Supriyatno Samid lahir di Kupang, 25 januari 1979. Terkadang memakai/biasa dipanggil dengan nama Ragil Sukriwul. Beberapa artikel dan esai pernah terpublikasikan di Tablod Bestari, Malang Pos, Surabaya Post, dan Kompas Jatim. Serta bebarapa sajak telah dimuat di Koran Malang Pagi, Majalah Gong, Jurnal Selangor, Tandabaca.Com dan Puitika.Net, serta beberapa bulletin independent di Malang, Jember dan Surabaya. Sajak-sajaknya juga telah terangkum dalam buku Looser Lost Time (2006) dan Mereka yang Katanya Dekat dengan Tuhan (DKJT, 2007). Sehari-hari bekerja mengelola sebuah toko buku kecil, TOBUKI, bersama Ratna Indraswari Ibrahim. Dan hari-hari ini sedang mempersiapkan antologi puisi tunggalnya (Avontur Menyila Angin, 2007), yang akan diterbitkan oleh salah satu penerbit kecil di Jogjakarta.
 
< Sebelumnya
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org