| Di Depan Stadion |
| Minggu, 13 Januari 2008 | |
|
Ragil Supriyatno Samid
Di Depan Stadion : rin tiba tiba aku teringat akanmu dulu pernah kita berteduh di sana di bawah atap gerbang stadion pinggiran jalan aspal saat mendung tumpah di bumi siang yang mendidih aku menjemputmu sepulang sekolah usai mengajar dengan sepada motor pinjaman tempias hujan yang jatuh diatap sepotong itu lamalama membuat kita setengah kuyup kau putuskan untuk meneruskan lagi separuh perjalanan setelah membungkus semua kertas dan buku dibalik jas merah kita terjang sisa hujan yang menggerimis debu asap yang menempel di wajahku luruh mengalir asin dibibir bedak tipismu luntur jadi pulau noda di dada baju sebelah kiri sekarang aku tertegun mengingatmu masih rintik dan gerimis yang menggiris di sini di berita televisi banjir kota jakarta jadi air bah kau telah lama di sana dan kita putus kabar sesore ini aku melamunkanmu hujan gerbang stadion motor pinjaman dan noda di baju: kapan kita akan mandi bersama lagi Layu Melayu ayu melayu dirayurayu dipeluk turut, dipukul manut : aku malu bilang takut!* minyak di bawah, minyak di atas yang disesap cuma minyak di tubuh : aku malu bilang kecut! setelah puas semua tusuk setelah puncak semua cium dikutuk sepi, sendiri layu aduhai, kutak lagi tahu apa malu, apa mau : inilah dendang, layu melayu Pekanbaru, Januari 2008 Keterangan: -dikutip dari puisi Marhalim Zaini yang berjudul “Semua Sepi, Padam Sendiri” (Komposisi Sunyi, 2007) Di Malam Tahlil Basah dinding bata membacamu saat duka terbatabata meresap kala sampai dilalu waktu merontok rambutrambut batu dalam patahan debu yang menghambur di antara dengung tarian doadoa bau menyan dan daun bonak sisa rampe geliyang asapasap kekuningan terangkai jadi bayang jejak hari kemarin yang terbang hinggap dalam aroma basin dan masam melulu yang meliuk gelisah dan terhempas limbung di antara paksa dan pasrah untuk membacamu terus terus terbatabata Ragil Supriyatno Samid lahir di Kupang, 25 januari 1979. Terkadang memakai/biasa dipanggil dengan nama Ragil Sukriwul. Beberapa artikel dan esai pernah terpublikasikan di Tablod Bestari, Malang Pos, Surabaya Post, dan Kompas Jatim. Serta bebarapa sajak telah dimuat di Koran Malang Pagi, Majalah Gong, Jurnal Selangor, Tandabaca.Com dan Puitika.Net, serta beberapa bulletin independent di Malang, Jember dan Surabaya. Sajak-sajaknya juga telah terangkum dalam buku Looser Lost Time (2006) dan Mereka yang Katanya Dekat dengan Tuhan (DKJT, 2007). Sehari-hari bekerja mengelola sebuah toko buku kecil, TOBUKI, bersama Ratna Indraswari Ibrahim. Dan hari-hari ini sedang mempersiapkan antologi puisi tunggalnya (Avontur Menyila Angin, 2007), yang akan diterbitkan oleh salah satu penerbit kecil di Jogjakarta. |
| < Sebelumnya |
|---|



