Kamis, 04 Desember 2008 || 5 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Prof Dr Ir Tengku Dahril MSc, Ketua Orwil ICMI Riau
Minggu, 13 Januari 2008
Kesejahteraan dan Demokrasi Masalah Utama Saat Ini
Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) ICMI di Pekanbaru, Riau, 11-13 Januari 2008 dan tahun baru Hijriah 1 Muharram 1429 H harus dijadikan momentum bagi seluruh umat muslim untuk berubah ke arah yang lebih baik. Berubah dalam segala sendi kehidupan, baik bernegara, berbangsa, berkeluarga dan dan bermasyarakat. Menurut Tengku Dahril, banyak hal yang masih bisa dan harus dilakukan untuk menuju predikat insan kamil dan menciptakan masyarakat sejahtera tersebut. Bagaimana pemikiran pakar kelautan ini mengenai urgensi Silaknas ICMI di Pekanbaru yang mengusung tema ‘’Demokrasi bagi Kesejahteraan Rakyat’’ dengan semangat perubahan di tahun baru hijriah untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat? Wartawan Riau Pos, Firman Agus dan Muhammad Amin berkesempatan mewawancarainya di sela-sela kesibukan persiapan Silaknas di Kantor Orwil ICMI Riau di Jalan Gadjah Mada, Pekanbaru, Kamis (10/1) lalu. Berikut petikannya.

 

Bagaimana Anda memandang Tahun Baru Hijriah yang jatuh pada hari ini, khususn    ya dalam semangat perubahan?Perubahan itu merupakan sunatullah. Allah mengatakan tidak ada sesuatupun yang berubah kecuali diri-Nya sendiri. Hanya Allah yang tidak berubah dan segalanya mengalami perubahan. Sebab itu manusia yang hari ini tidak bijaksana, dia harus melakukan perubahan bagi dirinya kapan pun. Apalagi pada tahun baru. Momentum ini harus kita ambil untuk melakukan perubahan. Tapi, perubahan ke arah mana yang kita harapkan? Perubahan ke arah kebaikan. Rasullah mengatakan, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, besok harus lebih baik dari hari ini. Jadi, beruntunglah orang-orang yang melakukan perubahan. Itu satu pesan yang sangat penting yang harus kita ambil hikmahnya dalam setiap kali perubahan. Hijrah itu artinya, berubah dari satu tempat ke satu tempat. Dari tempat yang kurang nyaman ke tempat yang memungkinkan atau lebih baik. Makanya Allah mengatakan, berjalanlah kamu di muka bumi ini dan lihatlah, perhatikanlah, manfaatkanlah karya cipta Allah ini. Jadi misi dari perubahan yang ada di dalam Islam adalah berubah ke arah kebaikan.

Dalam arti konkretnya?

Hijrah adalah merubah suasana dari yang kurang kondusif ke arah yang lebih kondusif. Oleh karena itu, semangat itu harus dilakukan bangsa Indonesia yakni berubah ke arah kebaikan. Apapun yang kita lakukan hari ini harus dievaluasi, kalau tidak bagus kita tinggalkan, yang bagus kita pakai. Maka kita harus melakukan evaluasi diri dan melihat ke orang lain. Yang baik dari orang lain kita ambil dan yang buruk kita tinggalkan. Jadi kita dituntut untuk belajar berfikir, merenung mencari yang terbaik. Dalam demokrasi juga seperti itu. Harus ada perubahan ke arah kebaikan. Kalau seandainya sekarang demokrasi kita kurang bagus, kita cari yang lebih bagus. Pasti ada yang lebih baik.

Bangsa Indonesia, juga di Riau masih belum banyak perubahan dibanding dengan negara lain. Sementara semangat perubahan bagi umat Islam sangat kuat. Di mana kesalahannya sehingga negara lain bisa maju?
Semua negara maju, setiap perubahan harus dimulai dari semangat internal hari insan pribadi orang tersebut atau satu kelompok. ICMI mengandung pesan ingin berubah secara kelompok, secara bersama. Jepang itu maju karena di dalam dirinya ada semangat ingin menjadi yang terbaik. Dengan semangat itu mereka bekerja keras meski sumber daya alam mereka terbatas, kemampuan mereka terbatas. Maka mereka mengatakan tanpa sumber daya alam pun mereka bisa maju dengan sumber daya manusia. Makanya, ada perubahan besar-besaran yang terjadi di Jepang ketika mereka itu mengirim anak-anak mudanya belajar ke manca negara dimana pun untuk mendapat ilmu pengetahuan. Setelah itu, mereka pulang dan mengembangkan negaranya.

Menilik ke Riau, perubahan seperti apa yang harus dilakukan?

Kita harus berubah dari tradisi yang kurang bagus menjadi tradisi yang lebih bagus. Kita tidak boleh terpaku dengan konsep-konsep lama yang mungkin tidak relevan lagi dengan kondisi hari ini. Maka oleh karena itu perlu ada perubahan. Kita harus mengevaluasi, menghitung ulang apa saja yang sudah kita lakukan dan apa yang tidak bagus serta bagaimana supaya mencari yang terbaik. Kita perlu suatu pembelajaran. Kalau kita ingin maju, kita harus menjadi suatu bangsa yang belajar. Pembelajaran itu penting.

Contoh konkretnya?

Kita tahu betul Riau diberi Allah kekayaan alam yang sungguh luar biasa. Itu belum termanfaatkan secara baik dan bahkan ada yang terkuras. Yang terkuras seperti hutan, minyak bumi, batu bara yang akan habis itu, harus kita antisipasi bagaimana caranya supaya yang terkuras itu kita pulihkan kembali. Salah satu contoh yang sederhana kayu. Kayu yang sekarang kita tebang untuk menjadi kebun kepala sawit, yang tinggal itu harus kita pertahankan dan kita tanam. Maka itu, ICMI pada hari ini berupaya ikut serta kongkret menamam seribu pohon di kampus. Ini bertujuan agar masyarakat kita yang sedang belajar termotivasi dari awal bahwa menanam pohon itu penting. Ini bila dilakukan di perguruan tinggi dan sekolah-sekolah, setelah mereka besar tertanam di pikirannya bahwa dia tidak harus merusak, namun menanam untuk mengubah ke arah kebaikan tadi.

Selain itu, minyak kita hampir habis sehingga kita harus mencari alternatif dan itu banyak di Riau. Salah satu contoh sederhana adalah alternatif yang abadi adalah biofuel seperti kelapa sawit, jarak, kelapa. Semuanya bisa dilakukan pembaharuan. Selain itu, ada lagi dimensi yang sangat penting yakni air, baik itu air terjun, air laut, gelombnag, air pasang, arus, tenaga surya, angin. Itu merupakan potensi yang belum termanfaatkan sehingga kita harus memanfaatkanya. Jadi dalam arti kata, andaikan minyak bumi di Riau habis, tidak akan kekurangan sumber energi. Karena sumber energi itu ada di Riau, namun belum termanfaatkan secara baik. Oleh karena itu, kita harus ada penguasaan teknologi untuk memanfaatkanya. Bayangkan kalau kita dam sungai, maka erosinya lebih abadi dan hujan turun dia tetap ada. Itu tidak merusak lingkungan karena diputar turbinnya dengan air terjun. Beda dengan batubara dan minyak bumi yang akan habis. Jadi alternatif seperti itu yang diperlukan.

Kemudian sumberdaya alam yang bisa diperbaharui seperti ikan, kebun. Jadi dalam arti kata, kalau kita bisa mengolah sumber daya alam secara berkelanjutan, insya Allah anak cucu kita juga tidak akan mengutuk kita karena kita mencari sumber daya alternatif. Tidak hanya merusak, namun juga memperbarui. Untuk itu, tidak ada jalan lain kita harus belajar menguasai teknologi. Itu adalah kata kunci dan itu adalah sumber daya manusia.

Program ke arah sana bagaimana?

Karena itu ICMI program tunggalnya peningkatan sumber daya manusia. Karena kata kuncinya adalah manusia. Alam ini Allah ciptakan untuk manusia. Kalau manusia mampu menguasai alam ini, Allah akan memberikan kesejahteraan. Janji Allah, siapa yang bekerja akan dilihat pekerjaannya dan akan diberikan sesuai dengan kerjanya bahkan lebih baik. Allah itu memberikan kebaikan sepuluh kali lipat sampai 700 kali lipat dari yang kita kerjakan. Bayangkan?

Jadi kuncinya pembinaan SDM?

Iya. Oleh karena itu ICMI mempunyai progranm tunggal meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pertama adalah iman dan taqwanya. Kita harus haqqulyaqin semua adalah hasil karya cipta Allah termasuk diri kita sendiri. Alam sekitar kita adalah karya cipta Allah yang bisa dimanfaatkan oleh manusia yang berkualitas. Itu harus kita pahami. Jadi tergantung kemampuan kita bagaimana mengolah sumber daya alam itu tadi. Karena tidak ada yang diciptakan Allah itu sia-sia. Semuanya itu ada manfaatnya bagi hidup manusia. Hanya manusia yang paham yang bisa memanfaatkannya, yang tidak paham tidak bisa. Nah, untuk paham itu kita harus menguasai ilmu pengetahuan dan menggunakan akal pikiran kita. Maka kata kuncinya adalah pendidikan. Kalau seandainya kualitas iman dan taqwa meningkat, kemudian kualitas pikir dan kerja kita meningkat, insya Allah kualitas hidup kita pasti akan meningkat. Allah akan memberikan dan itu janji Allah.

Peran ICMI sendiri bagaimana?

Peran ICMI pertama semangat. Kita harus memotivasi masyarakat agar dia mau bekerja dengan cerdas dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dan juga menjalankan agama Allah. Kita harus haqqulyaqin dengan kebenaran ajaran Allah itu. Janji Allah itu benar. Oleh karena itu, kita harus baca ayat-ayat Allah yang tertulis di Alquran dan yang tidak tertulis di alam semesta ini. Itu kata kuncinya, kita harus membaca ayat-ayat Allah yang tertulis dan yang tidak tertulis. Dalam Alquran disebutkan, kalau kamu selesai salat bertebaranlah kamu di muka bumi ini cari karunia Allah dan ingat Allah supaya kamu beruntung. Jadi, kata kunci beruntung itu sudah ada. Yaitu kerjakan salat dulu, ibadah dulu atau dalam arti kata ketentuan Allah dilaksanakan. Setelah itu, kita berlomba untuk kebaikan dengan memanfaatkan sumber daya alam ini.

Yang kedua action. ICMI kan terdiri dari berbagai komponen. Dia tidak memandang dari mana orang itu berasal, apa pekerjaannya, apa pendidikannya? Asalkan dia Islam dan memiliki komitmen tinggi dengan pengembangan pengetahuan untuk kesejahteraan masyarakat, dia bisa masuk ke dalam ICMI. Oleh karena itu, setiap individu di ICMI dia harus bisa berperan di tempat masing-masing. Ada yang jadi birokrasi, akademisi, usahawan, pemuda dan sebagainya silahkan masuk ke ICMI. Kemudian di tempat mereka harus bisa memanfaatkan semangat ICMI ini untuk membangun negeri ini. Jadi semangat itu yang penting. Bekerja di tempat kerja masing-masing sesuai dengan fungsi dan peranan masing-masing, tetapi tetap membangun dengan semangat ukhuwah tadi, semangat kebersamaan di bawah perlindungan Allah SWT. Itu kata kuncinya.

 Silaknas tahun ini dilaksanakan di Riau. Urgensinya bagi Riau apa?

Urgensi bagi Riau merupakan salah satu peluang yang sangat bagus. Kenapa? Karena selama ini Silaknas ICMI ini dilakukan di Jakarta saja. Seolah-olah Indonesia itu hanya Jakarta, kan tidak begitu. Indonesia itu dari Sabang sampai Merauke. Kalau selama ini Silaknas pernah dilakukan di Ujungpandang (Sulawesi Selatan), Pontianak (Kalimantan Barat), di Sumatera kan belum pernah. Karena itu mereka menawarkan siapa yang mau gelar Silaknas, kita sambut karena kita berada di posisi yang sangat strategis berada di tengah-tengah. Kemudian kita juga sedang berjuang membangun negeri ini dengan semangat itu tadi. Semangat ICMI ini yang kita tarik ke Riau ini. Itu yang pertama.

Yang kedua, kita ingin memberikan kontribusi. Cendikiawan muslim di Riau ini kita berikan kesempatan untuk memberikan buah pikiran di tingkat nasional. Kita mencoba momentum itu. Kita kumpulkan buah fikiran kawan-kawan, kita jadikan buku dan diluncurkan pada malam ta’aruf (malam perkenalan, red) sebagai salah satu pemikiran cendikiawan muslim di Riau untuk Indonesia. Itu yang ingin kita berikan kepada bangsa ini pada acara Silaknas ini. Mudah-mudahan dari Silaknas ini bisa menyumbangkan buah pemikiran guna memecahkan masalah masyarakat. Masalah kita yang paling utama saat ini adalah kesejahteraan dan demokrasi. Apakah demokrasi itu bisa mencapai kesejahteraan, itu yang dibahas di Silaknas selama tiga hari ini.

Apakah ICMI Riau punya agenda khusus?

Kita punya agenda khusus yang belum pernah dilakukan, yakni melaksanakan momentum Hari Bumi Nasioanl. Kebetulan Riau sekarang sedang menjadi sorotan dalam hal kerusakan lingkungan. Maka kita gerakkan masyarakat untuk menanam pohon. Jadi pertama adalah gerakan untuk menanam seribu pohon itu. Yang kedua, menampilkan setiap daerah keunggulan-keunggulan lokal. Misalnya dari Kampar akan menampilkan ikan kaleng dari budidaya ikan patin. Itu belum pernah terjadi di dunia setahu saya. Ikan yang selama ini dikalengkan adalah ikan laut. Tapi, kita ikan air tawar. Jadi semangat itu yang kita berikan dan semangat itu bukan diberikan pengusaha besar namun Kelompok Usaha Bersama (KUB). Dari Rokan Hilir, Indragiri Hilir, Pelalawan, Siak, Dumai juga akan menampilkan keunggulan-keunggulan lokalnya. Itu yang kita harapkan di samping nanti dari Jakarta juga ada yang di bawah bimbingan ibu Marwah Daud Ibrahim.

Yang ketiga, kita juga akan me-launching dua buku, satu buku karya tulis teman-teman, yang kedua tulisan saya di Lentera yang setiap Ahad terbit di Riau Pos dibukukan.

Tahun ini Riau akan melaksanakan Pilkada. Dan semua kegiatan, apalagi bersifat nasional sering dikaitkan dengan itu. Anda memandangnya bagaimana dengan Silaknas kali ini?

Kita tidak ada relevansi. Silaknas itu tahunan dan kebetulan saat ini berada di Riau dan judulnya pun demokrasi. Demokrasi itu kan kedaulatan rakyat dan terkait dengan Pilkada. Jadi itu kebetulan saja. Tetapi yang jelas, kita ingin agar demokrasi yang kita lakukan baik di kabupaten dan provinsi itu harus mengarah kepada peningkatan kesejahteraan rakyat. Itu yang menjadi tujuan. Jadi demokrasi adalah alat untuk mencapai tujuan, bukan tujuan utama. Karena itu jangan kita korbankan tujuan untuk membuat alat itu tadi. Jadi cost demokrasi itu seharusnya tidak mahal. Kalau untuk mengadakan pemilihan umum menggunakan uang negara, misalnya Rp100 miliar, itu kan terlalu mahal. Padahal uang itu bisa dialokasikan untuk kesejahteraan rakyat. Pemilihan umum ini harus diupayakan jangan terlalu mahal. Oleh sebab itu harus ada upaya perbaikan. Perbaikan itu dicapai melalui forum Silaknas yang dilakukan di Riau ini. Contohnya, satu TPS itu pemilihnya sekitar 200-an. Itu kan sedikit. Kenapa tidak diperbanyak misalnya 1.000 orang kan lebih efisien. Banyak yang bisa dilakukan seandainya kita menghemat sehingga cost pelaksanaan Pilkada itu tidak terlalu mahal. Kemudian yang ketiga, calon yang akan ikut saat ini terkesan mahal. Karena seorang calon untuk mendapatkan perahu kan tidak mudah dan harganya mahal sehingga memerlukan biaya yang tinggi. Kalau sudah menang, tentu bagaimana biaya yang telah dikeluarkan itu balik dan karena itu ada kecendrungan korupsi. Ini juga harus diatasi. Harus kita cari jalannya agar pemilihan ini tidak perlu uang terlalu banyak. Kalau sekarang terkesan kalau ada uang bisa, kalau tidak ada uang tidak bisa walaupun memiliki jiwa pemimpin yang tinggi. Seharusnya dalam lingkungan demokrasi tidak begitu. Harusnya memilih yang terbaik, bukan yang banyak duit. Sekarang kan ada kesan siapa yang banyak duit, dia yang paling berpeluang untuk memang dalam proses Pemilu. Seharusnya tidak begitu. Bahkan pada zaman nabi pemimpin itu kan dibaiat saja dan dipilih dari yang terbaik. Itu contoh sederhana.

Di Tahun Baru Hijriah ini, menurut Anda hijrah yang bagaimana harus dilakukan elit politik di Riau, apalagi menjelang Pilkada 2008?

Kita harus menggunakan cara-cara yang benar sesuai dengan kitabullah dan sunah rasul. Yang kedua, sesuai dengan kaidah keilmuan dan kemelayuan. Jadi, Tunjuk Ajar Melayu itu juga harus dijadikan pedoman dalam hidup bermasyarakat, berkeluarga, bernegara dan segala macam. Seluruh yang baik itu kita ambil dan yang buruk kita tinggalkan. Dalam arti kata, itulah perubahan yang paling mendasar yang seharusnya kita lakukan. Setip orang harus berupaya mengubah dirinya ke arah kebaikan. Tapi itu harus dimulai dari niat dari dalam diri masing-masing individu.

Bagaimana dengan peran ICMI sendiri?

Dalam ICMI, semangat itulah yang ingin dikeluarkan. Kalau Anda baca tulisan saya, semuanya memiliki semangat itu. Itu yang ingin saya kembangkan kepada anak-anak muda baik dalam pendidikan, pengajaran apa saja. Dalam kehidupan ini, kita harus memiliki semangat untuk maju, untuk berjuang. Karena kata Allah, di balik kesulitan itu pasti ada kemudahan. Kita tidak boleh takut dengan kesulitan. Maka dari itulah saat saya menjadi Kepala Dinas Pendidikan mengadakan Olimpiade Sains Nasional di Riau ini. Supaya anak-anak jangan takut dengan yang sulit. Sains itu bukan untuk ditakuti namun harus dikuasai, seperti matematika dan statistik. Semakin sulit tantangan akan semakin tinggi kita. Kalau kita takut, maka tidak akan pernah menang. Makanya untuk berjuang, semangat itu adalah semangat untuk tidak takut dengan kesulitan. Semangat untuk tidak takut dengan apa pun asalkan benar.

Sekarang ke soal pribadi Anda. Di kalangan pejabat di Riau, Anda dikenal sebagai salah satu pejabat yang dijuluki ‘’Mr Clean’’. Tanggapan Anda?

Yang sempurna itu tidak ada. Yang sempurna itu Allah. Saya tidak mengatakan saya bersih, tidak. Tapi sesuai dengan ketentuan formal, kita ikuti. Ada yang korupsi, kolusi dan nepotisme itu kita hindari sedapat mungkin jangan terjadi. Itu yang menjadi pegangan. Kalau seandainya ada rezki dari Allah SWT kita terima. Tapi itu adalah rezki halalan toyyiba. Itu kata kuncinya.

Bagaimana melakukan itu di lingkugan kerja Anda?

Kita mengajak mereka ke arah yang lebih baik. Saya mencontoh ke diri sendiri. Artinya, Saya ajak mereka, Saya bangunkan musalla, di Dumai saya bangunkan masjid dan saya datangkan kyai. Jadi siang berpikir dan malam berzikir. Jadi di kantor, saya harapkan ketika azan semua kegiatan ditinggalakan. Kalau tamu ada, ditinggalkan dulu dengan baik-baik. Saya paling senang kalau ada staf saya saat azan meninggalkan pekerjaanya. Itu bukan aturan, tapi imbauan. Kita ingin mengaplikasikan ajaran Islam itu secara totalitas dalam kehidupan.***

 
< Sebelumnya
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org