• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Sabtu, 06 September 2008 || 5 Ramadan 1429 Hijriah
Total SportAncaman Kudeta

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Teras UtamaUrip 20 Tahun Penjara

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Hentikan Makan Racun Pestisida, Ganti dengan Biokontrol Alami
Minggu, 13 Januari 2008
Makan sayur selalu dianjurkan. Pasalnya dari tumbuhan berwarna hijau itulah terdapat berbagai macam vitamin dan serat yang sangat baik untuk kesehatan. Terlebih lagi ada zat anti oksidannya yang mampu mencegah timbulnya penyakit kanker. Namun apa jadinya kalau sayur yang dikonsumsi itu malah menyebabkan penyakit baru di dalam tubuh manusia.

“Pestisida merupakan zat kimia yang di dalam tubuh manusia tidak ada metabolismenya. Begitu juga dalam makhluk hidup lainnya. Ia hanya terakumulasi (menumpuk) dan terus menerus mengendap di dalam tubuh. Misalnya jika masuk kedalam air, terus masuk ke dalam tubuh ikan, maka akan tetap berada di dalam tubuh ikan, sampai ikan itu dimakan manusia,” ungkap Andi Dahliaty, dosen Biokimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Riau (Unri).

Untuk menghentikan manusia memakan racun pestisida tersebut, Jurusan Kimia FMIPA Unri melalui projek Indonesia Managing Hingher Education for Relevance and Efficiency (IMHIRE) mengembangkan penggunaan biokontrol alami yang diberi nama ekstrak tanaman terfermentasi (ETT). ETT adalah racikan tanaman obat-obatan yang diketahui memiliki fungsi obat-obatan dan tidak disukai serangka atau ulat pemakan tanaman. Racikan itu dicampurkan dengan Effektive Mikroorganisme (EM) 4 aktif. Lalu campuran itu setelah terfermentasi akhirnya dimanfaatkan sebagai pengganti pestisida.

Projek yang sama, kata Ida –panggilan akrab Andi Dahliaty- juga mengembangkan penggunaan biokontrol alami lainnya bernama Trichoderma Asperellum. Bila ETT untuk membunuh serangga atau ulat tanaman, sementara Trichoderma digunakan untuk di dalam tanah. Gunanya untuk membunuh fungi patogen yang mampu mematikan tanaman.

Ida menjelaskan makluk hidup sejenis fungi itu berasal dari isolasi dari tanaman yang kebal terhadap penyakit. “Fungi ini diisolasi ketika ditemukan ada tanaman jeruk yang mampu tumbuh sehat. Padahal tanaman jeruk disekitarnya mati. Berarti ada sesuatu disekitar tanah di tanaman jeruk tersebut. Setelah diisolasi, akhirnya didapatkanlah fungi sesuatu itu adalah Tricoderma Asperellum,” ungkap perempuan, kelahiran 12 Desember ini kepada Riau Pos.

Masih dalam projek yang sama, Ketua Pengelolah  Community Development (CD) IMHIRE ini juga menyatakan mengembangkan pembuatan pupuk bokashi. “Dengan penggunaan bokashi ini, kita ingin mengkampanyekan penggunaan pupuk organik. Pasalnya penggunaan pupuk kimia sangat mencemari lingkungan selain itu membuat tanah menjadi sakit,” ungkapnya.

Dia memberi contoh penggunaan pupuk yang mengandung phosfat, misalnya pupuk NPK. Bila pupuk itu diberikan terus menerus maka akan membuat tanah menjadi tandus. Bahkan dari pengetahuannya residu posphat di dalam tanah bisa membuat tanah seperti lapisan semen. Jika ditanami tanaman pepaya, maka pepaya hanya mampu bertahan hingga 2,5 tahun. Padahal normalnya pada tanah sehat bisa empat hingga delapan tahun.

Pupuk itu tidak saja membuat tanah sakit menjadi sehat, tetapi juga membuat Indonesia tidak ketergantungan pupuk kimia.  “Penggunaan bokashi ini akan membuat tanah sehat dengan sendirinya.,” papar magister dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Program IMHIRE tidak saja memberikan pelatihan itu kepada Kelompok Tani Mustang Jaya, Pekanbaru. Tetapi juga kepada guru dan siswa sekolah serta perwakilan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Riau. “Kita berharap penggunaan biokontrol alami dapat mengurangi penggunaan pestisida dan manusia bisa hidup lebih sehat ,”  tutupnya.(a)

 
< Sebelumnya

StopGlobalWarming.org