| Kehidupan Penambang Pasir di Desa Kampung Pinang, Kampar |
| Minggu, 13 Januari 2008 | |
|
Setelah Kayu Dilarang, Pasir Menjadi Tumpuan Hidup Warga Kampung Pinang Kecamatan Perhentian Raja, Kampar, kini hanya bisa pasrah. Dulu, ketika operasi besar-besaran terhadap illegal logging belum dilakukan, mereka masih memiliki pilihan pekerjaan. Kini, untuk mengepulkan dapur mereka, bekerja di penambangan pasir adalah pilihan terakhir. Laporan HARY B KORI’UN, Pekanbaru Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya Perawakannya sedang, tidak terlalu tinggi dan badannya juga biasa. Tidak terlalu berotot dan juga tidak terlihat ringkih. Dasar kulitnya sebenarnya lumayan bersih, tetapi dengan membiarkan tubuhnya tanpa baju di siang yang cukup terik, kulitnya kelihatan menghitam, gosong oleh sinar matahari. Dengan rambut agak dijambul, khas anak muda sekarang, Dasril (28 tahun), sebenarnya paham akan gaya. Namun, tuntutan dan tanggung jawab tak bisa membuatnya berfokus pada gaya hidup, fashion dan semua atribut kota besar itu. “Seperti inilah hari-hari saya...” katanya sambil tangannya memegang sebuah besi yang kemudian digeserkan ke arah depan dan untuk beberapa saat tangannya diganti dengan kaki untuk mengganjal besi di sebelah sebuah mesin dompeng yang terus meraung. Dompeng inilah yang menjadi penggerak mesin sederhana yang sekarang besinya diganjal dengan kakinya itu. Ada sebuah tali sling sebesar telunjuk jari orang dewasa yang dihubungkan dengan mesin tersebut, yang juga dihubungkan dengan dua buah tali lainnya ke sebuah menara besi. Dua tali yang fleksibel pergerakannya ini dikaitkan dengan sebuah kotak berukuran sekitar 1,5 x 0,5 meter yang bergerak turun naik. Ketika turun di sebuah pompong, dua orang sudah siap memasukkan kerikil ke kotak tersebut, dan ketika penuh salah satunya berteriak kepada Dasril bahwa kerikit siap dikerek ke atas, dan kemudian pemuda itu menggeserkan sebuah besi yang menjadi pusat gerakan sling itu, maka kotak akan naik ke atas penuh kerikil. Dan setelah itu dengan sendirinya akan menumpahkan kerikil ketika kotak tersebut hampir menyentuh menara. Terlihatlah tumpukan kerikil bermeter-meter kubik di bawah menara itu. Di tumpukan kerikil, dua lelaki yang juga tak memakai baju sedang menaikkan kerikil yang nantinya akan dibawa ke toko-toko bangunan atau bahkan ke proyek-proyek bangunan di beberapa tempat. “Kerikil ini akan saya bawa ke Pekanbaru. Kalau pas di sini banyak barang (kerikil, red), saya mengambil ke sini, tapi kalau pas tak ada, kadang saya mengambilnya ke Danau Bingkuang,” kata Rahmat, sang sopir truk. Hanya sepuluh meter dari tumpukan kerikil tersebut di sebelah kanan, terlihat sebuah pondok kopi sederhana. Di sana ada puluhan laki-laki sedang bermain domino sambil menghisap rokok, dan terlihat beberapa cangkir kopi di meja. Macam-macam gayanya. Ada yang duduk sambil menaikkan kaki sebelahnya ke bangku kayu sambil tangannya memegang batu domino dan di bibirnya terselip rokok yang masih menyala, juga ada beberapa yang tidak main domino dan hanya berbual dengan yang lainnya. “Mereka sedang menunggu giliran menaikkan pasir atau kerikil,” ungkap Dasril. *** DI Kampung Pinang Kecamatan Pemberhentian Raja, Kampar, penambangan pasir dan kerikil dari Sungai Kampar yang dilakukan dengan alat sederhana dan tradisional, kini menjadi tumpuan perekonomian ratusan kepala keluarga. Mereka, terutama para laki-laki di Kampung Pinang, memang tak banyak memiliki pilihan pekerjaan. Operasi besar-besaran pemberantasan illegal logging yang dilakukan Polda Riau dalam setahun terakhir, memang seperti menjadi palu godam bagi mereka. “Dulu, bekerja di penambangan pasir bukan pekerjaan pilihan di sini. Tetapi, sekarang sudah tidak ada pilihan lain,” kata Dasril. Dulu, para lelaki di kampung itu lebih memilih pergi ke hutan menebang kayu dan kemudian setelah beberapa hari pulang dengan uang lumayan besar di kantong. Dengan uang itu, mereka bisa menyekolahkan anak-anak mereka, membeli sepeda motor hingga mobil atau membangun rumah, dan banyak kebutuhan lainnya. Masa jaya ‘orang kayu’ yang selama bertahun-tahun tak tersentuh oleh peraturan apapun –dari dulu operasi tetap ada, penangkapan truk mengangkut kayu juga ada, tetapi masih bisa bermain belakang— memang membuat masyarakat yang terlibat dalam bisnis ini lumayan bisa bernafas. Kondisi itu kini berbalik. Operasi besar-besaran yang dilakukan aparat kepolisian dan pemerintah dalam memberantas pembalakan liar, salah satu imbasnya harus diterima masyarakat Kampung Pinang. “Jangankan bisa menjual kayu untuk mencari untung, mendapatkan kayu untuk membuat rumah saja susah. Kayu kini menjadi seperti emas mahalnya,” ujar Dasril mengeluh. Sebenarnya masih ada pekerjaan lainnya, yakni mencari ikan di Sungai Kampar atau mengelola keramba. Tetapi pekerjaan ini kini tidak terlalu menjanjikan. Sungai Kampar yang membelah Kampung Pinang kini tak banyak menghasilkan ikan lagi. Untuk mengelola keramba, selain perlu modal besar, juga harus menunggu lama baru bisa memanen. “Untuk membeli pakan ikan dan mengepulkan dapur selama menunggu sampai panen, kami harus membelinya dengan apa?” kata Ocu Leman, salah seorang penduduk Kampung Pinang. Alternatif lainnya, masyarakat ada yang beternak sapi dan berbagai ternak lainnya, namun itu tidak menjadi mata pencaharian utama. Sebab, seperti halnya keramba ikan tadi, mereka harus menunggu lama baru bisa mendapatkan hasilnya, dan ketika harus menunggu tersebut mereka juga dituntut untuk tetap memiliki uang untuk semua keperluan hidup. Beruntung bagi masyarakat yang memiliki kebun sawit, yang jaraknya tentu jauh dari rumah seperti di Simalinyang atau Sungai Pagar. Beberapa penduduk Kampung Pinang seperti Khairul atau Ocu Muhidin dan yang lainnya, kini bisa hidup lumayan karena ketika masih muda dan ikut membalak kayu di hutan, mereka menyisihkan uang untuk membeli kebun sawit. Sawit-sawit tersebut kini sudah membuahkan hasil. “Lumayan. Dulu kami membeli kebun sawit juga bukan karena membayangkan akan berakhirnya era kayu, tetapi untuk investasi, dari pada uang habis begitu saja,” kata Khairul, lelaki berumur sekitar 50-an, ketika ditemui Jumat (11/1) lalu. *** Begitulah. Pasir kemudian menjadi sebuah pilihan akhir yang benar-benar menjadi penopang hidup masyarakat Kampung Pinang. Ratusan lelaki bekerja di penambangan pasir ini. Mereka terbagi dalam banyak jenis pekerjaan. Mulai dari penambang pasir dari dasar sungai dengan menggunakan dompeng (mesin) penyedot pasir. Mesin penyedot ini memang dibuat sedemikian rupa dengan beberapa pipa plastik berdiameter sekitar 10 cm yang panjangnya disesuaikan dengan kedalaman sungai. Mesin tersebut diletakkan di atas sebuah perahu agak melebar sekitar 4-5 m2 yang bisa digerakkan ke mana kita suka. Satu mesin penyedot ini dikendalikan oleh sekitar 5-8 pekerja. Ketika bekerja, mesin dan pipa tersebut akan menyedot seluruh dasar sungai, bisa saja berupa lumpur campur pasir dan kerikil. Ada sebuah perahu yang standby yang khusus menampung hasil sedotan. Di atas perahu tersebut sudah tersedia alat mengayak yang akan menyortir atau memisahkan pasir dan kerikil. Lumpur biasanya akan hilang sendiri bersama pasir ketika disiram air. Setelah perahu penuh, kemudian dibawa ke masing-masing tempat untuk dinaikkan di darat, seperti yang dilakukan oleh Dasril dan para pekerja lainnya. Perahu yang membawa pasir dan kerikil ini biasanya berbeda. Perahu yang mengangkut kerikil akan menuju lokasi pengumpulan kerikil, begitu juga perahu pasir, akan menuju tempat pengumpulan pasir yang terjejer di sepanjang Sungai Kampar di Kampung Pinang, hanya beberapa ratus meter dari Jembatan Taratak Buluh. Biasanya, masing-masing tempat pengumpulan pasir atau kerikil tersebut dikelola oleh orang berbeda (majikan/pemilik modal), dan masing-masingnya memiliki tenaga pengangkut ke darat dan pemuat ke truk berbeda-beda. “Pekerjaan ini dilakukan hampir setiap hari kalau tak hujan dari pagi. Kalau hujan, alamat kami akan stop produksi,” kata Izul (35 tahun) salah seorang pengelola pertambangan pasir ketika ditemui Riau Pos di lokasi pengumpulan pasirnya, Jumat (11/1) lalu. Izul dipercaya oleh mertuanya, H Nazir, untuk mengelola pertambangan khusus pasir. Keluarga ini, bersama keluarga-keluarga lainnya, sudah lama mengelola penambangan pasir tersebut, bahkan sudah sejak tahun 1970-an ketika penambangan pasir masih dilakukan dengan manual dan lebih tradisional, yakni menyelam dan mengambilnya dengan cangkul atau skop, dan menaikkan ke darat dipanggul setelah dimasukkan karung atau ember. Ketika itu, tak ada tenaga mesin seperti dompeng atau mesin pengangkut ke darat dengan sling seperti sekarang. Memang, tidak semua orang bisa menjadi “pemilik” pertambangan. Keluarga Nazir sendiri sudah sejak lama mengelola kilang ini. Hanya orang-orang berpengaruh dan memiliki modal yang bisa bermain dalam bisnis ini. Untuk bisa mengelola kilang pertambangan ini, keluarga Nazir, menurut Izul, harus mengeluarkan 'pajak desa' sekitar 2-3 juta per tahunnya. Jika dikumpulkan dari banyak tempat penambangan dan pengumpulan pasir dan kerikil di Kampung Pinang, desa tersebut sebenarnya memiliki dana abadi untuk bisa membangun kampungnya sebagai dana khas desa. *** RODA ekonomi penduduk Kampung Pinang memang bergerak seperti putaran sling pengangkut pasir dan kerikil dari sungai ke darat. Meski pendapatan mereka tidak besar, tetapi tempat ini telah memberi kepastiah hidup banyak keluarga setiap harinya. Seperti diceritakan Dasril, di tempatnya bekerja sebagai operator dompeng pengangkut kerikil dari sungai ke darat, ada sekitar 20-30 orang setiap hari yang bergantian bekerja sebagai buruh pengangut pasir, baik dari pinggir sungai ke darat maupun dari tempat pengumpulan ke truk-truk yang kemudian membawanya ke Pekanbaru dan daerah lainnya. Sebagai operator dompeng, Dasril mendapat upah sekitar Rp200-300 ribu setiap pekan dengan masa kerja dari pagi hingga siang, gantian dengan operator lainnya. Menurutnya, uang sebesar itu sebenarnya cukup untuk menghidupi istri dan seorang anaknya. “Tetapi jika dibandingkan dengan saat masih bekerja di kayu, pendapatan ini tergolong kecil,” jelasnya. Kecilnya pendapatan itu juga dialami oleh para pekerja yang menaikkan pasir ke truk. Biasanya, satu truk pasir atau kerikil dinaikan oleh 2 atau tiga orang dengan upah Rp8-10 ribu per meter kubiknya. Biasanya, satu truk berisi 4-6 meter kubik. Upah angkut maksimal Rp60 ribu tersebut harus dibagi ke 2-3 orang pekerja. Beruntung kalau masing-masing pekerja bisa menaikkan lebih dari satu truk, karena memang harus bergiliran dengan pekerja lainnya. Kalau tidak, ya uang maksimal Rp30 ribu itulah yang dibawa pulang ke rumah untuk kebutuhan sehari-hari. “Alhamdullilah, dengan uang itu kami masih tetap bisa makan sehari-hari meskipun semua harga kebutuhan hidup naik semua,” kata Leman, sambil berusaha tersenyum. Yang menjadi persoalan adalah ketika hujan dari pagi hingga sore turun dan tak ada truk yang datang memberi kerikil, maka para pekerja tersebut hanya menganggur dan main domino atau duduk-duduk di kedai kopi tak jauh dari tempat pengumpulan kerikil itu. Seperti Jumat (11/1) lalu, hinggal pukul 12.00 WIB menjelang salat Jumat, baru empat truk yang datang mengangkut kerikil. “Ya beginilah, hidup dan pekerjaan ada siklusnya,” kata Dasril. Harga satu meter kubik kerikil saat ini mencapai Rp60 ribu. Ini sudah naik berkenaan dengan naiknya berbagai bahan bangunan akhir tahun 2007 lalu seperti semen, besi dan yang lainnya. Pemilik pertambangan terpaksa menaikkan harga karena kalau tidak, mereka juga akan rugi karena semua biaya, termasuk minyak dompeng, juga akan ikut naik. Tak jauh beda dengan penjelasan Dasri, Izul juga mengatakan, pihaknya terpaksa menaikkan harga pasir yang biasanya satu meter kubik Rp40 ribu, menjadi Rp43 ribu. Yang menjadi persoalan, melambungnya harga bahan bangunan ini, termasuk pasir dan kerikil, membuat permintaan di tempatnya berkurang. Di saat normal di tiga tenpat pengumpulan milik keluarga Nazir bisa menyuplai rata-rata 20 truk (rata-rata 4-6 meter kubik setiap truk). Namun sekarang omsetnya berkurang. “Dapat 15 truk per hari sudah lumayan,” kata lelaki berkumis ini. Baik Izul, Dasril dan ratusan orang yang bekerja di penambangan pasir dan kerikil di Kampung Pinang yang terletak di pinggir Sungai Kampar ini berharap kehidupan mereka bisa lebih baik lagi di masa depan. “Tapi kalau nanti pasir di Sungai Kampar sudah habis, entah dengan cara apa lagi kami harus mengepulkan dapur kami...” kata Leman yang diamini oleh beberapa pekerja angkut lainnya.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





