| Antre, Harga Beda dan Langka |
| Minggu, 13 Januari 2008 | |
|
Laporan Tim Riau Pos, Pekanbaru
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
RAUT wajah Anas (35), warga Jalan Limbungan memerah sambil berucap kesal. Sudah tiga hari berkeliling di daerah Rumbai dengan mengendarai sepeda motor dan membawa satu tabung gas elpiji kosong, namun belum mendapatkan gas. Padahal di rumahnya satu-satunya alat masak hanya menggunakan elpiji. Saat dijumpai Riau Pos, Rabu (9/1) lalu, dia mengenakan baju kaos oblong coklat dan celana kain hitam panjang, langsung menghentikan lanjut kendaraannya. Dia mengaku sudah putus asa mencari gas di daerah Rumbai, bahkan hari itu dia berencana ingin ke kota mencari gas. ‘’Ya, rencananya kalau tidak dapat juga saya mau ke agennya di Jalan Tuanku Tambusai,’’ ujarnya sambil menghembuskan nafasnya yang terengah-engah dan tangan kirinya memegang erat tabung gas elpiji khawatir terjatuh. Tapi, ketika Riau Pos memberitahu bahwa di salah satu toko di Jalan Yos Sudarso ada empat tabung gas yang masih berisi, raut muka Anas langsung berubah gembira. Meski tidak mengetahui secara pasti sebabnya, dia mengaku kelangkaan itu disebabkan permainan distributor gas. ‘’Ya, mungkin ada permainan yang dilakukan oleh agen, sehingga gas menjadi langka dan susah dicari,’’ ujarnya. Kesulitan Anas tersebut dialami hampir sebagian besar konsumen gas elpiji, khususnya di Pekanbaru, dalam beberapa waktu belakangan. Untuk mencari jawaban bagaimana gas tersebut bisa ‘’hilang’’ di pasaran dan harga melambung tinggi, Riau Pos mencoba menelusuri distribusi bahan bakar yang diproyeksikan untuk mengurangi ketergantungan dengan minyak tanah tersebut. Bermula Antrean di SPPBE Selama tiga hari, Senin-Rabu (7-9/1), Riau Pos, mencoba menelusuri proses distribusi gas elpiji mulai dari Stasiun Pengisian Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) milik Pertamina di Jalan Pasir Putih, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten kampar, tak jauh dari Perumahan Pandau Permai. Pagi itu, Senin (7/1) sekitar pukul 10.15 WIB, dua unit mobil truk colt diesel yang masing-masingnya bermuatan sekitar 250 tabung dan pick up yang bermuatan sekitar dan 50 tabung elpiji yang masih kosong parkir di seberang jalan di depan pintu gerbang SPPBE. Di tempat itu, beberapa orang buruh bongkar muat serta supir truk dan pick up duduk sambil minum secangkir teh di warung di depan pintu gerbang SPBE. Seorang laki-kali tua, mengendarai sepeda motor dari arah Desa Tanah Merah menuju ke arah SPPBE membawa satu tabung elpiji yang masih kosong dan berhenti pas di depan gerbang. ‘’Mau beli gas ya pak,’’ tanya Riau Pos. Laki-laki tua yang mengenakan baju kemeja panjang dan berjaket biru itu mengangguk lalu mengatakan, ‘’Ya pak’’. Lalu dia menambahkan, kalau beli di sini dapat murah, tapi harus pakai KTP’’. Selanjutnya sambil melepas helm, pria paruh baya yang mengaku bernama Amran (59) tinggal di Pandau itu kaget. Pasalnya, baru dua pekan pemakain gas elpiji di rumahnya, gas sudah habis. Padahal dua bulan sebelumnya pemakaian gas elpiji untuk keperluan memasak sehari-hari bertahan sampai dua bulan lebih. ‘’Sudah dua kali saya beli dalam sebulan ini, tapi gasnya cepat habis,’’ ujarnya sambil mengangkat tabung gas elpiji ke atas sepeda motor dan kemudian pergi berlalu pulang ke rumah. Di bagian lain, para supir truk pengangkut elpiji yang duduk-duduk di warung kopi di depan SPPBE sempat bercerita tentang lambannya pengisian elpiji di pangkalan. ‘’Ya, ini karena mobil kita antrean makanya jadi lambat. Apalagi yang mengantre di pangkalan ini bukan hanya dari satu agen di Pekanbaru, tapi semua agen yang ada di Riau,’’ sebut salah seorang supir truk dari salah satu agen di Jalan Tuanku Tambusai. Ketika melihat mobil truk bermuatan elpiji yang baru selesai melakukan pengisian keluar dari pangkalan, Riau Pos sempat bertanya mau dibawa kemana elpiji tersebut. Supir itu mengatakan, ‘’akan dibawa ke agen di Jalan Tuanku Tambusai’’. Melihat mobil truk bergerak lambat, Riau Pos, mencoba mengikuti perlahan dari belakang. Truk yang membawa elpiji tersebut bergerak menuju Jalan Tuanku Tambusai dengan melintasi Jalan Sudirman dan sekitar 30 menit mobil truk itu tiba di salah satu agen besar tersebut. Di sana, puluhan warga sudah antre panjang membawa tabung elpiji. Bahkan ada lima unit mobil pick-up yang juga ikut antre di pinggir jalan tak jauh dari agen yang melakukan bongkar muat. ‘’Bapak-bapak harus antre mendapatkan gas, karena stoknya sedang banyak,’’ ucap salah seorang karyawan agen dengan suara keras. Satu per satu gas diturunkan, ada yang dimasukkan ke dalam mobil pick-up ada juga yang langsung dibawa warga. Dan hanya dalam beberapa menit, muatan truk yang baru diambil dari pangkalan pengisian sudah kosong. Namun, di agen inilah mulai terlihat fenomena tentang distribusi gas. Baik masalah harga sampai kepada distribusinya kepada warga yang membeli maupun melalui mobil pick up. Beberapa orang warga yang sedang antre membeli gas di agen, ketika ditanya tentang harga elpiji yang mereka beli, umumnya mengatakan harga per tabung dengan berat 12 Kg adalah Rp55 ribu. Tapi, pihak agen sendiri ketika ditanya Riau Pos, bersikeras mengaku menjual gas sesuai HET, yakni Rp51 ribu. Hari itu, Riau Pos juga sempat mengikuti mobil pick up yang baru memuat elpiji untuk disalurkan ke konsumennya. Mobil tersebut melaju dari Jalan Tuanku Tambusai menuju Jalan Sudirman, sempat terperangkap kemacetan arus lalu lintas di sekitar bundaran depan Kantor Gubernur. Saat diikuti, mobil pick up bermuatan lebih kurang 50 tabung elpiji sesampainya di depan Vanholano, masuk ke basement salah satu hotel. Karena merasa gas yang dibawa mobil agen untuk hotel, akhirnya Riau Pos, kembali lagi ke agen. Sesampainya di agen dan mengikuti mobil-mobil pick up yang mengaku sub-agen, malah membawa mobilnya ke tempat yang sepi dari masyarakat, tepatnya di kompleks pertokoan depan Terminal Mayang Terurai. Ternyata, di sana belasan warga dengan menggunakan sepeda motor langsung menyerbu mobil-mobil pick up itu. Hanya dalam hitungan menit, puluhan tabung gas itu sudah berpindah dari pick-up ke motor yang dilengkapi dengan keranjang. Di tempat terpisah, sebelum mengantarkan pesanan gas ke toko-toko maupun ke rumah warga yang memerlukan gas, supir mobil pick up yang ditanya Riau Pos mengaku sudah sejak pagi antre di agen. ‘’Namanya cari makan kita harus sabar,’’ ujar Adi, supir pick up yang mengaku sudah lama mengambil gas dari agen yang ada di Jalan Tuanku Tambusai itu. Ketika ditanya tentang harga gas, Adi mengaku membeli dari agen seharga Rp55 ribu per tabung dengan berat 12 Kg. Setelah itu dijual lagi ke pengecer seharga Rp65 ribu. ‘’Belinya Rp55 ribu, tapi kami jual Rp65 ribu, jadi kami dapat untung Rp10 ribu. Tapi gasnya sedikit satu hari hanya dijatah 10 tabung,’’ ujarnya sambil melihat antrean warga membeli gas. Dari keterangan supir yang mengaku dari sub-agen elpiji yang selalu disebut mobil kampas inilah, Riau Pos terus mencoba menelusuri distribusi gas sampai ke toko dan pembelinya. Sementara pihak kedai yang membeli gas dari supir yang membawa mobil pick up berisi gas, mengaku menjual gas yang dibelinya itu dengan harga Rp75 ribu sampai Rp80 ribu. Sementara itu, ketika masyarakat sulit mendapatkan elpiji, agen mengatakan gas tidak langka. Karena setiap hari elpiji selalu tersedia di tingkat agen. Seperti yang dikatakan karyawan agen elpiji di Jalan Tuanku Tambusai, Rais, sebenarnya stok gas yang disediakan PT Pertamina cukup untuk Pekanbaru. Hanya saja, distribusinya di lapangan yang mengalami kendala. Ini disebabkan oleh libur bersama saat Hari Raya Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru. ‘’Ya, sebenarnya tidak langka, hanya saja terbentur hari libur, sehingga pegawai libur, pasokannya juga berhenti,'' ujarnya. Dia menambahkan, sistem antrean pengisian di SPPBE yang menyebabkan lambannya pasokan gas sampai kepada konsumen. Karena menurutnya, permintaan gas banyak, sedangkan gas yang sampai ke agen jumlahnya terbatas. Karena sistem antrean mobil yang mengisi gas di pangkalan menjadi lama. ‘’Di pangkalan pengisian gas itu bukan hanya satu atau dua mobil. Tapi semua agen yang ada di Riau ikut antre mengisi gas, sehingga pasokannya ke lapangan menjadi lambat,’’ ujarnya sambil mengaku menjual gas lepiji sesuai HET, Rp51 ribu per tabung ukuran 12 Kg. Beli dari Agen Rp55 Ribu, Jual di Toko Rp75 Ribu Sementara itu di tempat lain, beberapa mobil pick up yang di baknya tersusun tabung gas elpiji kosong dengan berat 12 kilogram, parkir di tepi jalan tidak jauh dari tempat agen membuka tokonya. Tidak hanya pemandangan itu saja yang terlihat, beberapa pengendara sepeda motor yang di kiri-kanannya ada keranjang dan di dalamnya ada tiga buah tabung gas kosong ikut dalam antrean tersebut. Ketika didekati, ternyata mereka adalah pemilik toko dan mereka sanggup antre karena stok elpiji tidak pernah lagi di antar oleh pihak agen sejak beberapa pekan terakhir. Selain pengendara sepeda motor berkeranjang, ada juga pengendara sepeda motor yang hanya membawa satu buah tabung gas dan mereka rela menunggu berjam-jam untuk mendapatkan gas. Ditanya berapa harga beli dari agen, pria paruh baya bernama Udin itu mengaku, harga gas elpiji itu satu tabung dibelinya dengan harga Rp55 ribu. Menurutnya, harga itu memang lebih mahal Rp4 ribu dari harga yang ditetapkan Pertamina. Tapi dia mengaku tidak terlalu memikirkannya, sebab jika beli di toko, harganya melonjak Rp75 ribu sampai Rp80 ribu. Lagi pula, menurutnya, karena sebulan sekali tidak masalah jika harus antre. ‘’Dari pada saya harus keluar uang sampai Rp75 ribu atau Rp80 ribu lebih baik saya antre beberapa jam tapi dapat membeli gas dengan harga Rp55 ribu,’’ ujarnya. Tidak hanya Udin saja yang mengaku membeli elpiji dengan berat 12 kilogram dari agen seharga Rp55 ribu, tapi pembeli lainnya juga mengatakan hal yang sama. Ketika hal itu ditanya kepada pengelola agen, baik agen elpiji yang ada di Jalan Tuanku Tambusai maupun di Jalan Pembangunan, mereka mengaku menjual gas elpiji seberat 12 kilogram tetap dengan harga sesuai putusan Pertamina yaitu Rp51 ribu. Rais yang bekerja di salah satu agen elpiji mengaku pihaknya menjual gas elpiji kepada masyarakat dengan harga Rp51 ribu. Demikian juga dengan seorang ibu yang mengaku hanya sebagai pekerja di agen Jalan Pembangunan, Sukajadi. Meski Riau Pos sempat langsung bertanya kepada pembeli berapa harga elpiji yang dibeli dan dijawab Rp55 ribu, tapi pekerja toko itu tetap mengatakan menjual elpiji dengan harga Rp51 ribu. Sementara mobil pick-up yang ternyata merupakan bagian dari agen-agen tersebut menjual langsung ke toko-toko dan hal itu memang diakui agen. Rais membenarkan pihaknya menjual elpiji ke toko-toko tapi hal itu mereka lakukan jika stok mereka banyak. Dari pada menumpuk di gudang mereka, mereka lebih memilih gas-gas itu dipasarkan di toko sehingga masyarakat lebih mudah mendapatkannya. ‘’Tapi dalam situasi seperti ini, ketika gas disebut masyarakat langka, tentu kami tidak berani melakukannya. Jangankan mengirimnya ke toko, di tempat kita saja sebagai agen, gas sangat cepat habisnya. Saat colt diesel membawa pasokan gas sebanyak 250 tabung tiba, langsung sudah diantre. Akibatnya, kita hanya mendapatkan beberapa tabung saja untuk dipasarkan, selebihnya habis dibeli warga dan pemilik toko,’’ sebut Rais. Hal itu dibenarkan ibu yang berada di agen Jalan Pembangunan. Di tempatnya memang masih terlihat belasan tabung elpiji siap jual. Gas tersebut tetap masih ada karena menurutnya pihaknya hanya menjual gas kepada masyarakat yang membeli per tabung. Jika ada yang datang hendak membeli dua tabung tidak dilayani. Hal itu mereka lakukan untuk pemerataan. Sering Kosong di Sub-Agen dan Toko Selain masalah harga, kekosongan stok di tingkat pengecer seperti penjualan di toko-toko maupun penjualan resmi seperti di SPBU sering juga terjadi. Dari penelusuran Riau Pos, sempat menemukan beberapa toko dan kedai yang menjual gas umumnya mereka mengatakan gas sedang kosong. Bahkan, ada kedai yang tidak mau menjual gas, karena harga yang ditawarkan oleh peyalurnya cukup mahal. ‘’Untuk sementara kita tidak jual. Meski ada beberapa unit tabung elpiji yang masih kosong. Karena kalau kita beli dan kita jual lagi dengan harga tinggi masyarakat marah,’’ ujar Amran (50), pemilik kedai di Jalan Umban Sari, Rumbai. Lain lagi penjual elpiji di toko elektronik milik Pohin (28) di Jalan Kartika Sari, Rumbai. Dia mengatakan, di tempatnya elpiji dijual seharga Rp75 ribu. Tapi, pasokannya dari sub-agen yang datang dengan menggunakan mobil kampas selalu terlambat dan jumlahnya juga terbatas. Dia mengaku, selama beberapa bulan ini gas langka makanya pasokan di tokonya dibatasi hanya beberapa unit tabung. Tapi, kalau gas sedang banyak, di tokonya selalu di antar oleh sub-agen mencapai 20 tabung. Pohin juga mengatakan tidak berani menjual gas dengan harga tinggi, karena pelangganya bisa komplain.‘’Kita beli dari mobil kampas seharga Rp65 ribu dan kita jual Rp75 ribu. Meski untungnya lumayan, tapi pasokannya sedikit,’’ ujarnya. Di tokonya terlihat tumpukan tabung gas yang masih kosong yang berjumlah 20 unit. Hari itu dia mengaku pasokan gas selalu telat dan datangnya siang hari sampai sore hari. Tapi begitu gas datang, masyarakat langsung menyerbunya. Lain lagi penjualan gas di SPBU di Jalan Yos Sudarso, Rumbai. Di dalam ruangan berukuran sekitar 3X6 meter persegi, terlihat 20 unit tabung gas kosong. ‘’Cari gas pak,’’ tanya karyawan SPBU ketika Riau Pos datang, Rabu (8/1). Karyawan SPBU bernama Anto mengatakan, begitu pasokan gas elpiji dari agen datang langsung diserbu masyarakat. Sehingga dalam waktu sekejap gas yang jumlahnya hanya 20 tabung habis terjual. Mengenai harga, Anto mengaku, sudah dinaikan menjadi Rp55 ribu. Karena dari agen, SPBU membeli dengan harga Rp51 ribu. Tapi, masyarakat yang membeli gas di SBPU ini harus menunjukkan KTP dan Kartu Keluarga. Ini gunanya untuk menghindari pembelian yang berlebihan dari konsumen. Sehingga masyarakat yang memerlukan elpiji dapat dilayani dengan baik. Dari penelusuran Riau Pos mengenai penjualan gas di toko-toko dan kedai dari Jalan Patin/Umban Sari, Jalan Yos Sudarso sampai akhirnya ke Jalan Sekolah, didapati toko yang menjual barang-barang keperluan harian menjual elpiji dengan harga Rp88 ribu. Meski ada dua tabung elpiji yang masih berisi, tapi petugas toko mengatakan sudah ada yang punya. ‘’Itu sudah ada yang punya, kemarin datang banyak tapi langsung habis,’’ ujar kasir toko di jalan sekolah yang letaknya tidak jauh dari Pasar Rumbai.(ksm/mng/fia) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





