| Pupuk Melangit, Petani Menjerit |
| Jumat, 11 Januari 2008 | |
|
Beras Kuala Kampar Dijual ke Luar
Laporan Bunyamin dan Idris Ali, Pangkalan Kerinci Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya PANGKALANKERINCI (RP) - Para petani di Kabupaten Pelalawan menjerit karena harga berbagai jenis pupuk yang dijual di pasaran melangit. Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Holtikutura H Taufik Nur SP menjelaskan beras hasil ladang para petani di wilayah Kabupaten Pelalawan sampai saat ini belum dapat dipasarkan di daerah sendiri, karena harganya mahal dibanding beras dari daerah lain. Jeritan petani itu tidak hanya disebabkan melambungnya harga pupuk di pasaran, tapi juag sulitnya mendapatkan pupuk urea yang merupakan pupuk laping diperlukan. ‘’Mahal mahal sekali harga pupuk saat ini. Uang Rp2 juta cuma dapat beli enam karung. Apa tak kasihan sama nasib petani, keluh Mulyono (47), seorang petani dari Desa Meranti Kecamatan Pangkalan Kuras kepada Riau Pos, saat keluar dari salah satu toko pertanian di Pangkalan Kerinci, Kamis (10/1). Dia menuturkan, kali ini terpaksa harus pergi ke Pangkalan Kerinci untuk membeli pupuk jenis KCL dan jenis Urea. Sebab, di kampungnya, Desa Meranti, tingkat harga pupuk yang disediakan sebuah Koperasi Unit Desa (KUD) tidak lagi terjangkau oleh petani. ‘’Di sini saya kira harga lebih murah, tapi rupanya mahal juga tak jauh beda dengan di trans. Selain itu saya belum dapat pupuk urea, di mana-mana kosong ‘’, keluhnya lagi dengan logat Jawanya yang khas. Dari pantauan Riau Pos, harga pupuk berbagai Jenis pada sejumlah pengecer di Pangkalan Kerinci dua hari ini relatif tinggi. Pupuk TSP dan pupuk KCL misalnya, para pengecer rata-rata mematok harga antara Rp345 ribu hingga Rp370 ribu per zak, variasi harga tersebut bergantung dengan merek dagang dan persentase kandungan unsur hara. Sedangkan harga pupuk NPK Mutiara kemarin adalah Rp390 ribu per zak. Sementara itu beberapa jenis pupuk tidak mengalami lonjakan harga, seperti pupuk Dolomit dan pupuk Rock Phospate. ‘’Semua pupuk sudah naik, kecuali dolomit dan rock phospate, ini daftar harganya pak. Kalau pupuk urea saya tak punya stok. Kalau mau bisa dicarikan dulu,’’ kata Edy, pengecer pupuk di jalan Maharaja Indera Pangkalankerinci, saat dikonfirmasi Riau Pos, Kamis (10/1) kemarin. Menurutnya, pekan lalu harga pupuk urea non subsidi Rp115 ribu. ‘’Sekarang saya belum tahu, mungkin di atas Rp140 per zak. Kalau mau urea subsidi, saya tak sanggup cari. Di mana-mana kosong’’, imbuhnya. Beras Mahal Dalam pada itu, Kepala Dinas Pertanian dan holtikutura H Taufik Nur SP menjelaskan beras hasil ladang para petani di wilayah Kabupaten Pelalawan hingga kini belum dapat dipasarkan di daerah sendiri, terutama yang dari Kuala Kampar. Tapi banyak dijual ke daerah lain seperti Bengkalis atau pun ke provinsi lainnya. ‘’Beras dari Kecamatan Kuala Kampar itu lebih mahal harganya kalau dibandingkan beras yang berasal dari Sumsel dan Sumbar. Ini akibat biaya produksi dan angkutnya lebih mahal,’’ katanya. Ia menjelakan, upah angkutnya saja sama dengan harga beras dari luar, karena itu menurut para pedagang tidak ada untungnya, sebab beras dari Kecamatan Kuala Kampar untuk sampai ke Pangkalan Kerinci menempuh beberapa tahapan. Di antaranya dari sentra produksi dibawa dengan spead boad ke Pangkalan Kerinci diangkat lagi ke mobil menuju gudang dari gudang naik mobil ke pasar sehingga memakan biaya tinggi. Sedangkan kalau beras yang dibawa dari Sumsel atau Sumbar prosesnya hanya dari gudang Sumbar atau Sumsel diangkut makai mobil ke gudang Pangkalan Kerinci, tidak begitu banyak melalui proses sehingga ongkosnya juga tidak tinggi. ‘’ Namun demikian pihak dinas Pertanian tetap melakukan perbaikan di bidang pertanian padi. Baik berupa penambahan areal tanam, maupun memperbanyak musim tanam dari satu tahun sekali menjadi dua kali setahun serta meningkatkan kualitas padi. Sehingga kalau biasanya satu hektare menghasilkan 3 ton, kini bisa sudah bisa 4,5 ton perhektare,’’ katanya.(ril) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|







