Kamis, 20 November 2008 || 22 Zulqaidah 1429 Hijriah
Total SportRebutan Kepentingan

Kamis, 20 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaPenginapan Jauh, JCH Terima 100 Riyal

Kamis, 20 November 2008

article thumbnail

Pakistan Tawarkan Hadiah Rp1,2 M
Selasa, 23 September 2008
Untuk Info Soal Pengeboman Hotel Marriott
Laporan JPNN, Islamabad
ADA perkembangan terbaru lagi terkait pengeboman Hotel Marriott di Islamabad, Pakistan. Ternyata, iftar alias berbuka puasa bersama yang dituanrumahi Perdana Menteri Yousuf Raza Gilani semula dijadwalkan dihelat di hotel bintang lima tersebut.

Menurut penasihat PM Gilani, perubahan tempat acara menjadi di rumah dinas Gilani yang hanya berjarak setengah kilometer dari Marriott dilakukan di saat-saat akhir. Perubahan mendadak itulah yang akhirnya menyelamatkan nyawa Gilani, Presiden Asif Ali Zardari, dan para undangan lain yang merupakan petinggi pemerintahan, parlemen, militer, dan diplomat asing.

Lalu, siapa yang punya ide untuk memindahkannya? Menurut Ketua Parlemen Fahmida Mirza yang juga menghadiri iftar itu, Zardari yang meminta acara tersebut dipindahkan ke rumah dinas Gilani.

Kabar terbaru itu memunculkan spekulasi kalau si pelaku bom bunuh diri itu tidak mengetahui soal perubahan tempat tersebut. Jadi, dia tetap meledakkan truk mini yang memuat 1.000 kilogram bahan peledak di dekat pintu masuk Marriott.

Sebelumnya, sejumlah sumber di kalangan intelijen Pakistan menyebutkan kalau si pengebom sejatinya mengincar kediaman Galiani. Namun, karena penjagaan yang sangat ketat, dia akhirnya membelokkan sasaran ke Marriott dan akhirnya menewaskan setidaknya 60 orang, termasuk Dubes Ceko untuk Pakistan Ivo Zdarek.

Entah skenario mana yang benar. Yang pasti, hampir bisa dipastikan kalau pengeboman terbesar di Pakistan itu ditujukan untuk membunuh Zardari dan Galiani yang dianggap pro-Amerika Serikat.

Agar kasus tersebut bisa segera terungkap, kemarin Gilani menawarkan hadiah 10 juta dolar AS (Rp1,2 miliar) kepada siapa saja yang bisa memberikan informasi tentang penyerangan yang disebut sebagai 9/11-nya Pakistan tersebut. Hingga tadi malam, memang belum ada satu pihak pun yang mengaku bertanggung jawab.

Pemerintah Pakistan juga belum melakukan penangkapan terhadap pihak-pihak yang dicurigai. Namun, menurut pejabat tinggi Kementrian Dalam Negeri Pakistan Rehman Malik, pemerintah menduga pengeboman itu dilakukan militan. ‘’Saya tidak mempunyai kapasitas untuk memberitahu kalian siapa pelakunya, tapi berdasar penyidikan awal, semua mengarah ke Waziristan Selatan,’’ ujar Malik.

Waziristan Selatan merupakan satu dari tujuh area yang diduga menjadi tempat milisi Taliban dan Al Qaida bersarang. Di wilayah tersebut, mereka disinyalir melakukan kegiatan secara aktif. Namun, dugaan Malik itu ditepis Amir Mohammad. Orang kepercayaan pemimpin Taliban Pakistan Baitullah Mahsud itu menampik keterkaitan kelompoknya dalam aksi yang membuat sekitar 266 orang luka-luka tersebut. Penegasan serupa juga datang dari Kamal Hyder, koresponden Al Jazeera yang punya akses langsung ke Mahsud. ‘’Mahsud tidak yakin kelompoknya telah menyebabkan kematian banyak penduduk lokal,’’ kata Hyder.

Hyder, mengutip Mahsud, mengingatkan, bahan yang digunakan dalam pengeboman Marriott adalah RDX. RDX merupakan bahan yang mudah menguap dan tidak bisa didapatkan di sembarang tempat. Apalagi, yang dipakai dalam pengeboman Sabtu (20/9) lalu itu cukup banyak, bahkan yang terbanyak sepanjang sejarah terorisme di Pakistan. Hal itu jelas mengundang tanda tanya besar.

‘’Di mana RDX bisa didapatkan dalam jumlah besar? Dalam penyerangan-penyerangan sebelumnya, militan tidak pernah menggunakannya,’’ imbuh Hyder.

Seorang pejabat keamanan menuturkan bahwa bahan peledak yang digunakan Sabtu lalu mirip dengan yang dipakai dalam ledakan di kamp ISI (Inter Services Intelligence, badan intelijen Pakistan) di Rawalpindi dua tahun silam. ‘’Kami masih mengumpulkan bukti. Bahan yang dipakai juga sama dengan ledakan di Kedubes Denmark yang saat itu diklaim dilakukan Al Qaida,’’ ujar pejabat tersebut. Tidak mengherankan bila pasca pengeboman tersebut memicu banyak spekulasi bahwa penyerangan didalangi Al Qaida. Sebab, terjadi persis setahun setelah pemimpin Al Qaida Osama bin Laden menyerukan kepada umat muslim untuk melakukan jihad melawan pemerintah Pakistan.

Sementara itu, pengeboman Marriott Islamabad tersebut tidak hanya mengundang kecaman para pemimpin dunia. Tawaran untuk membantu melakukan penyidikan juga datang dari luar negeri. Yaitu, dari Biro Investigasi Federal (FBI). Tap, tawaran itu ditampik pemerintah Pakistan. ‘’Kami tidak perlu bantuan. Kami mampu, kok. Jadi, (tawaran bantuan itu) kami tolak,’’ ujar Malik. (dia/azf)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org

Google
 

Ekonomi & Bisnis

article thumbnailSubsidi Bunga KPR Layak Diberikan

Kamis, 20 November 2008

JAKARTA (RP) - Pemerintah diminta lebih proaktif dalam menggerakkan sektor properti di tanah air untuk menghindari terjadinya krisis subprime mortgage seperti yang terjadi di Amerika...

Simak Juga

Metropolis

article thumbnail”Bukan untuk Dibanggakan”

Kamis, 20 November 2008

KOTA (RP) — Penganugerahan Pamong Award 2008, disampaikan Wali Kota Pekanbaru Drs H Herman Abdullah MM bukan untuk dibangga-banggakan. Penghargaan tersebut dikatakannya merupakan...

Simak Juga