| Islam dan Kemiskinan |
| Rabu, 17 September 2008 | |
|
ALANGKAH absurdnya persoalan Indonesia saat ini. Di saat Ramadan, bulan yang dalam ajaran Islam disebutkan penuh berkah, penuh pahala berlimpah bagi orang-orang yang menjalankan syariah Islam dengan baik, ketika Allah SWT menjanjikan pahala berlipat ganda bagi segala kebaikan yang dilakukan manusia, tetapi banyak persoalan yang muncul dan menjadi ironi yang luar biasa bagi kita. Dan semua itu berawal dari satu hal: kemiskinan. Kemiskinan sangat dekat dengan kekufuran...
“Kemiskinan yang membuat karakter awak menjadi keras seperti ini,” kata Asrul kepada Azam, dalam sebuah percakapan yang berkarakter di sebuah sinema televisi, Para Pencari Tuhan (PPT). Di scane lainnya, salah seorang tokoh ceritanya, Pak Jalal, yang selama ini dikenal sebagai orang kaya yang kikir, belakangan menjadi sangat ingin menzakatkan hartanya kepada fakir miskin. Dia sadar bahwa dalam harta yang dimilikinya, terdapat hak orang miskin dan anak yatim. Pak Jalal menjadi risau ketika dia susah menemukan orang miskin di kampungnya, karena menurut laporan perangkat RW, di kampung tersebut kemiskinan sudah mencapai titik nol (O). Bersama keponakannya, Kalila, Pak Jalal keliling kampung mencari orang miskin, namun semua orang miskin yang ditemuinya sudah banyak yang berubah. Misalnya, Asrul sudah bekerja pada Azam dan keluar dari kemiskinan yang menjeratnya selama sepuluh tahun. Beberapa penduduk desa yang selama ini punya utang kepadanya, lari ketika Pak Jalal memanggil, takut ditagih utangnya. Dan, akhirnya, Pak Jalal berkesimpulan, sebentar lagi dunia akan kiamat, karena dalam hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan, salah satu tanda akan datangnya hari kiamat adalah ketika orang-orang miskin tidak lagi mau menerima sedekah orang kaya. “Ya Allah, ke mana lagi aku akan membagikan hartaku ini ketika tak ada lagi orang miskin di sekelilingku? Tak bisakah aku beribadah dengan harta yang kumiliki?” kata Pak Jalal sedih karena terbayang neraka di akhirat nanti. Seandainya semua orang kaya di negeri ini berpikiran terbuka dan insyaf seperti Pak Jalal, mungkin problem kemiskinan di Indonesia bisa teratasi. Bayangkan, potensi zakat dari orang muslim di Indonesia, setiap tahunnya mencapai Rp1,9 triliun, dan jika ini dikelola dengan benar, bukan tidak mungkin lambat-laun problem kemiskinan itu bisa diatasi. Sayangnya, masyarakat muslim masih banyak yang tidak percaya dengan bakan zakat yang dibentuk oleh negara maupun LSM, karena banyak diselewengkan, atau tidak tepat sasaran. Dan inilah ironisme itu: 21 orang (prempuan) mati secara mengenaskan ketika antri zakat Rp30 ribu dari seorang saudagar kaya di Pasuruan (Jawa Timus), keluarga H Saichon. Beberapa hari sebelumnya, kita dibom berita lainnya ketika praktek penjualan daging sampah terkuak di kawasan Kapuk Jakarta Utara, dan sekian berita lainnya yang membuat kita bisa memahami bahwa problem kemiskinan sebenarnya berada di depan pelupuk mata kita. Banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan dari banyaknya kasus kemiskinan kita ini. Seperti disinginggung dalam PPT, bahwa laporan perangkat RW bahwa kemiskinan sudah berada di titik nol, adalah sindiran nyata kepada para birokrat kita dalam setiap pidato dan laporan akhir tahunnya bahwa telah terjadi pengurangan angka kemiskinan secara signifikan di kota Anu, kabupaten Anu dan sebagainya. Para pemimpin daerah malu kalau angka kemiskinan masih tetap sama dan tak ada penurunan ketika dia menjabat, padahal kenyataanya, kemiskinan di Indonesia tak pernah berkurang. Umat Islam, sebenarnya, bisa mengeluarkan umat dari kemiskinan dengan potensi zakat, baik zakat fitrah, zakat harta dan jenis zakat lainnya, tanpa harus menggantungkan kepada perangkat birokrasi yang hanya mengumbar janji saat kampanye Pilkada. Seandainya semua dari kita sadar, bahwa ada harta orang miskin dan anak yatim dari rezeki yang kita dapatkan, maka ironisme kemiskinan seperti kasus “daging sampah” dan “zakat maut” tak akan terjadi. Islam punya konsep untuk mengentaskan kemiskinan, tak harus ikut konsep Karl Marx dengan marxismenya. Kita umat Islam diberi tantangan di bulan Ramadan ini: mampukah kita membuka hati untuk berbagi, dan tidak hanya mengumpulkan semua energi untuk berburu harta, termasuk THR? Seandainya kita menyadari hal itu, bahwa Ramadan dan Idul Fitri bukan saat untuk berlebih-lebihan, tetapi untuk membangun keimanan kepda Allah SWT dan ukhuwah dengan sesama manusia.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




