| Razia Ramadan |
| Minggu, 14 September 2008 | |
|
APARAT kepolisian terus-menerus merazia tempat-tempat hiburan malam di kota-kota besar di tanah air. Bahkan, memasuki Ramadan ini, razia terus ditingkatkan. Yang perlu dicatat, dalam razia itu, ternyata polisi berhasil menangkap sejumlah pelaku mesum di sejumlah lokasi.
Apa yang dapat kita kemukakan atas banyaknya pelaku mesum yang tertangkap itu? Ternyata kampanye tentang Ramadan sebagai bulan suci yang harus lebih dihormati semua orang tidak diindahkan. Para penikmat seks bebas sama sekali tidak risi atau tidak merasa perlu mengurangi tindakan menyalahi hukum itu meski saat ini jelas-jelas bulan suci Ramadan. Mereka menganggap Ramadan yang sangat dihormati dan disucikan itu sama saja dengan bulan-bulan lain. Mereka pun melakukan tanpa harus peduli terhadap suasana bulan suci Ramadan. Kebebasan seks sama saja dengan tindak kejahatan lain. Para pelakunya tidak mengenal waktu, tidak mengenal hari, tidak kenal siang-malam, dan tidak kenal bulan apa pun. Oleh karena itu, siapa pun perlu memahami bahwa aktivitas mesum harus disikapi sama. Yakni, dikampanyekan terus-menerus, dilawan, dan diperangi bersama-sama. Kejahatan apa pun, menjamurnya aktivitas mesum, harus dianggap sebagai penyakit masyarakat yang harus dijadikan musuh bersama. Musuh semua orang di mana pun mereka berada. Memang aparat kepolisian harus berada di barisan terdepan dalam memberantas kejahatan, tetapi itu saja belum cukup. Sebab, selain tenaga polisi terbatas, tindak kejahatan yang merupakan penyakit masyarakat sering tertutup oleh kehidupan sosial yang seolah-olah bukan tindak kejahatan. Masyarakat harus saling bekerja sama, memberikan informasi tentang bahaya penyakit masyarakat (Pekat) tersebut. Dengan demikian, akan diperoleh kesamaan pandangan dan sikap dalam menghadapi meluasnya tindak Pekat di masyarakat. Selama ini sebagian besar orang berpandangan sama mengenai ancaman Pekat. Mereka menganggap hanya tindak kriminal dan narkoba yang mengancam kelangsungan hidup generasi muda, padahal masih banyak penyakit di masyarakat yang mengancam generasi muda. Misalnya, tidak semua orang sungguh-sungguh mau bertindak untuk turut memberantas Pekat meski berbagai praktik Pekat sering terjadi di lingkungan sekitarnya. Meski polisi sering menggerebek tempat-tempat tertentu, seperti tempat hiburan malam yang ditempati para pelakunya. Namun ada pula kelompok masyarakat yang sangat proaktif, sehingga terjadilah aksi anarkis, seperti menyerang tempat-tempat yang diduga menjadi sarang Pekat. Nah, di sinilah posisi pemerintah, bagaimana agar memahami kondisi masyarakat tersebut, sehingga tidak terjadi aksi anarkis. Pemerintah bersama aparat yang terkait proaktif melakukan razia. Kita akui bersama, selama Ramadan tahun ini, pemerintah sangat proaktif memberantas Pekat dan menertibkan hal-hal yang dianggap menggangu kenyamanan umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa. Tetapi hendaknya pemerintah melakukan hal yang sama di bulan lainnya, artinya razia tidak hanya di bulan Ramadan saja, sehingga tercipta masyarakat Riau yang aman dan tentram, bersih dari Pekat. Bukankah menjaga dari hal-hal yang mudarat itu lebih baik daripada memberantasnya? *** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|












