Menyisir Potensi Alami Rupat Utara, Bengkalis (1)
Kemolekan Alam yang Terabaikan
9 Februari 2010
858 klik
Laporan FEDLI AZIS, Rupat Utara fedliazis@riaupos.com
‘’Sejak belum tumbuh gigi ni, sampaikan gigi dah habis gugur semue, janji nak jadikan kampung kami ni sebagai objek wisata belum juge nampak nyate.
Tengoklah sendiri, sampai sekarang tak ada upaya serius mengarah ke sane,’’ gumam Muhammad Nur (pemuka masyarakat Kampung Teluk Rhu, Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis) sembari memperlihatkan giginya yang tinggal beberapa saja.
PEKERJAAN yang amat membosankan adalah menunggu. Kata usang itu seakan tak ada matinya dan masih dipercaya serta dirasakan banyak orang hingga hari ini. Lebih menjemukan lagi menanti sesuatu yang tak pasti, sesuatu yang diharap-harapkan namun tak kunjung terealisasi menjadi nyata.
Pernyataan itu pula dilontarkan M Nur (65) saat menjawab pertanyaan-pertanyaan soal niat pemerintah pusat, provinsi bahkan kabupaten yang berazam menjadikan kampung halaman orang tua itu sebagai kawasan wisata bahari. Bahkan dengan nada sedikit mengejek dia berujar mantap, ‘’alah, kelabu asaplah tu. Kalau iye tunggu ape lagi dah penat pulak kami menunggu.’’
Lelaki tua bertubuh kurus dengan rambut pendek, berhias kumis dan misai yang sudah memutih itu terlihat tengah bersantai. Duduk di kursi kayu panjang pekarangan wisma miliknya yang menghadap langsung ke hamparan pantai pasir putih dan laut Selat Melaka.
Kedua tangannya sibuk melinting sebatang rokok, sedang pandangannya bermain-main bersama debur ombak kecil yang berkejaran, saling mendahului, menyisir bibir pantai. Kerut-kerut di wajahnya yang membentuk garis mengikuti lekuk-lekuk parasnya terlihat jelas namun tetap saja lelaki itu terlihat bersahaja.
Siang itu, M Nur mengenakan baju warna biru bergaris-garis, dipadu celana panjang berwarna abu-abu yang bagian kirinya dibiarkan terlipat hingga ke lutut. Entah karena sudah terbiasa, atau karena pekarangan wisma itu ditumbuhi rumput taman, M Nur tidak memakai kasut alias alas kaki. Angin laut menderu kencang, menampar-nampar daun-daun pepohonan yang rindang di sekitar tempat itu. Melahirkan irama alam yang syarat dengan kedamaian. Sesekali, orang tua itu terpaksa menyalakan mancis/korek api untuk selinting rokoknya. Menghisap dalam dan menghembuskannya dengan leluasa.
Meski berkisah dengan nada pesimis, tak sedikit pun lelaki tua itu terlihat bermaksud meremehkan lawan bicaranya. Dia terus saja berkisah tentang asal muasal orang kampungnya, adat-istiadat, mata pencaharian, potensi wisata pantai yang bagus untuk dikembangkan, perhatian pemerintah sampai pada pendirian wisma miliknya tersebut.
Tak ada yang disembunyikan dan dia berkisah panjang lebar tentang impian, rintangan dan hambatan dalam perjalanan hidupnya sampai usia senja hingga berjam-jam lamanya. Lawan bicaranya siang itu, tepatnya siang Selasa (26/1) adalah anak-anaknya, istrinya, pemuda-pemuda kampung menemani Riau Pos yang sengaja datang ke pulau itu untuk bertandang, barang beberapa hari.
Sebenarnya, M Nur bukanlah orang yang pesimis. Paling tidak, itulah yang tertangkap sepanjang dirinya berkisah. Kenapa demikian? Sebab dia-lah orang lokal pertama yang optimis akan potensi besar kampungnya menjadi kawasan wisata.
Keyakinannya direalisasikan dengan membangun penginapan sederhana bernama Wisma Afira pada 1997 silam. Meski wisma berwarna biru muda bergaya rumah panggung Melayu Riau itu sudah lapuk di makan usia, namun terlihat masih bisa dimanfaatkan untuk menginap, sekadar melepas lelah usai menikmati panorama pantai yang memukau dan menggairahkan.
‘’Sebenarnya saya sudah jenuh mendengar wacana macam tu. Kalau anak ni nak tahu, wisma ini pun hendak saya jual dan sudah ada calon pembelinya. Ya, hitung-hitung untuk membiayai kuliah anak bungsu saya yang tak lama lagi akan tamat. Saya ni dah tua juga, jadi tak sanggup lagi memelihara dan mengembangkan wisma ini. Lagi pula, tak ada pengunjung yang datang ke kampung kami ni,’’ katanya sembari memutar-mutar rokok lintingannya di antara jari telunjuk dan jari tengah.
Pemandangan dari depan wisma M Nur itu saja, sudah cukup indah dengan lukisan hidup alam laut dan pantai yang memanjang di sisi kiri dan kanannya. Kicau burung, desau angin dan lantunan lagu Melayu yang diputar di wisma itu, menambah kegairahan suasana perkampungan nelayan.
Hanya sekitar 10 meter saja, di depan halaman wisma, kita bisa langsung memijak pasir pantai yang putih, pasir bulan yang teramat halus. Jauh di seberang Selat Melaka kita juga dapat pula menyaksikan perbukitan berbaris memanjang. Itulah tanah salah satu negeri jiran tetangga Malaysia. Jika ditarik garis lurus hingga ke Teluk Tuan (kawasan Negeri Sembilan-Malaysia) itu, hanya berkisar 50 Km dan bisa ditempuh menggunakan jasa speed boat selama 30 menit.
M Nur menuturkan, wisma yang didirikannya itu adalah hasil dari jerih payahnya selama bekerja di Malaysia yang dikumpul selama bertahun-tahun. Setelah melakukan diskusi dengan pemuka masyarakat, camat dan para penghulu/kepala desa, tak lupa keluarga, M Nur pun membangun impiannya.
Sayang, sejak wisma yang terdiri dari 20 kamar itu berdiri, tamu yang menginap hanyalah tamu pemerintah saat menggelar kegiatan-kegiatan di pulau itu.
Selebihnya, hanya orang-orang proyek pembangunan jalan atau apalah di kampungnya yang menyewa satu hingga dua kamar dengan tarif per kamar dan per harinya sebesar Rp100 ribu. Lebihnya, belum ada wisatawan dari luar pulau itu yang sengaja datang untuk menginap di wismanya.
Kurangnya minat wisatawan datang ke kawasan itu disebabkan minimnya informasi tentang potensi alam di sana. Selain tidak terpublikasi secara luas, untuk mencapai kawasan terindah di Riau tersebut juga tidak mudah.
Sebab hanya ada dua transportasi seperti speed boat dan pompong. Jalur air itu pun tidak tersedia setiap saat karena speed boat menuju ke sana hanya bertolak dua kali dalam sehari yakni pagi pukul 10.00 WIB dan sore harinya pada pukul 15.00 WIB dari pelabuhan sungai di Kota Dumai. Begitu pula dari Rupat Utara ke Kota Dumai.
Sedang pompong, hanya dimanfaatkan masyarakat kampung. Perjalanan menggunakan speed boat menghabiskan waktu kurang lebih dua jam sedang pompong tujuh jam. Begitu pula dari Bengkalis ke Rupat Utara, namun waktu tempuh dari Kabupaten Bengkalis lebih jauh dan lebih lama lagi.
Khusus untuk keberangkatan speed boat, tidak pula bisa dipastikan akan berangkat setiap hari, sebab jika penumpang tidak penuh maka keberangkatan pun dibatalkan.
Cara lain, namun jauh lebih rumit adalah menggunakan roro dari Kota Dumai yang berbatasan langsung dengan pulau itu. Menuju Kecamatan Rupat Selatan akan memakan waktu 30-45 menit.
Namun perjalanan darat dari Rupat Selatan ke Rupat Utara akan memakan waktu lebih dari enam jam karena tidak tersedianya jalan yang memadai. Infrastruktur seperti jalan penghubung dua kecamatan yang baru dimekarkan 2001 silam itu sangat buruk rupanya. Meski panjang jalan kurang lebih 75 Km namun masih berupa jalan tanah dan sebagian kecil telah disemenisasi.
Masyarakat tempatan mengatakan, jika ditempuh melalui jalur darat dari Rupat Selatan menuju Rupat Utara yang hanya bisa ditempuh dengan sepeda motor akan menyita waktu delapan hingga sembilan jam. Ini dikarenakan, jalan masih jalan tanah dan berlumpur jika musim penghujan serta berdebu saat musim kemarau.
Bagi yang berminat ke Rupat Utara, sebaiknya memulai perjalanan menggunakan speed boat Tanjung Medang yang bertolak pada pukul 10.00 WIB atau 15.00 WIB dari pelabuhan sungai kecil Kota Dumai. Sore itu, Riau Pos bertolak pada pukul 15.00 WIB. Syukurlah Senin (25/1) itu cuaca cukup bersahabat sehingga tidak ada gelombang ganas yang kabarnya kerap mengancam keselamatan.
Speed boat berukuran sedang dengan kapasitas 15 orang itu melaju kencang, memutari Pulau Rupat bagian barat (kiri pulau). Melewati selat sempit Dumai-Rupat, mata cukup dimanjakan dengan pemandangan yang menyegarkan. Susunan pohon cemara pantai (Rhu, sebutan orang Melayu) menambah keindahan pulau tersebut. Tidak hanya sampai di situ, pantai yang terputus-putus di pulau tersebut menjadi pengantar menjelang ke pantai pasir panjang Tanjung Medang dan Teluk Rhu, Rupat Utara.
Mendekati ke Kecamatan Rupat Utara, speed boat berlabuh di beberapa pelabuhan kampung-kampung kecil seperti Teluk Tungku, Titi Akar dan lainnya untuk menurunkan penumpang. Sedang kampung Tanjung Medang, merupakan pelabuhan terakhir dari rute speed boat. Menjelang tiba di Tanjung Medang, mata benar-benar disuguhkan pemandangan yang jauh lebih indah dari sebelumnya. Kenapa tidak, lima pulau kecil yang terletak di depan Rupat Utara seperti Pulau Beting Aceh, Pulau Beruk, Pulau Babi, Pulau Gajah, Pulau Kerimunting tercacak dengan gagahnya.
Namun percayalah, mata takkan berkedip saat menyaksikan kemolekan Pulau Beting Aceh yang berpantai memanjang melebih luas dan panjang pulau mungil itu. Pohon-pohon Rhu dan kelapa yang berjejer rapi di pulau itu memancing hasrat untuk mencapainya. Selang beberapa menit saja, speed boat berlabuh di pelabuhan Tanjung Medang, sebuah kampung kecil pusat kecamatan Rupat Utara.
Pantai Pasir Terpanjang di Indonesia
Camat Rupat Utara Radius Akima menjelaskan, potensi alam kawasan itu jauh lebih mempesona ketimbang Pantai Selat Baru (Bengkalis) maupun Pantai Solop (Kecamatan Mandah, Inhil).
Panjang pantai pasir putihnya saja diakui banyak pihak sebagai pantai pasir putih terpanjang di Indonesia, kurang lebih 12 Km dari kampung Tanjung Medang ke Tanjung Punak. Lebih indahnya, pantai Selat Melaka itu berbatasan langsung dengan Malaysia dan saat cuaca cerah mata kembali dilenakan dengan pemandangan perbukitan negeri jiran. Di malam hari, lampu pemancar, mercusuar Teluk Tuan (Negeri Sembilan, Malaysia) terlihat amat dekat.
Radius percaya, jika wisatawan sampai ke Rupat Utara, mereka tidak akan bisa melupakan pesona Pulau Beting Aceh. Sebuah pulau mungil berbentuk beting (onggokan pasir laut) yang sudah ditumbuhi berbagai pohon cemara pantai dan kelapa. Bahkan pantainya, menjorok jauh melebihi pulau itu sendiri sehingga saat air laut surut, dari kejauhan para wisatawan yang berada di pantainya tampak seperti berjalan di tengah lautan.
‘’Saya percaya jika potensi alam laut terindah ini digarap secara baik maka kami akan disibukkan dengan kegiatan penyambutan para wisatawan dari seluruh dunia. Hanya saja, upaya itu baru dimulai 2007, itu pun oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Bupar) Riau. Sekarang pun baru setakat pembangunan turap di Dusun Tanjung Jaya sepanjang 200 meter,’’ papar Radius.
Bayangkan saja, katanya, jika infrastruktur dibenahi, terutama jalan dan listrik maka potensi yang disediakan alam sudah dapat dinikmati wisatawan tanpa harus susah-susah datang ke lokasi ini.
Tapi keduanya belum juga dapat diatasi, padahal Peraturan Daerah (Perda) pembangunan jalan dari Rupat Selatan menuju Rupat Utara sudah di sahkan sejak 2006 silam (Bengkalis) dan Perda pengembangan kawasan pariwisata oleh Gubernur Riau (Riau) jauh-jauh hari. Sayangnya Perda itu tidak dilaksanakan sama sekali sehingga potensi dan keindahan negeri ini terbiar begitu saja.
‘’Kami sudah mengajukan setiap Musrenbang di kabupaten tapi belum ada tanggapan serius mengarah ke sana. Pembangunan hanya segelintir dari rencana besar yang mendunia. Mudah-mudahan saja, dengan adanya wacana Rupat dijadikan objek wisata nasional 2010, maka tidak lagi sekedar isapan jempol belaka,’’ tambahnya.
Kepala Desa/Penghulu Teluk Rhu Hamzah menegaskan, warganya yang berkisar kurang lebih 2249 jiwa dengan 466 Kepala Keluarga (KK) merasakan kekecewaan atas janji-janji yang tak pernah ditepati hingga bertahun-tahun lamanya.
Padahal pihak kelurahan telah melakukan pembinaan, baik untuk mempersiapkan diri sebagai tuan rumah kawasan objek wisata, juga menciptakan karya-karya kreatif, hasil dari turunan ikan yang menjadi sumber utama pendapatan masyarakatnya.
‘’Bukan cuma itu, masyarakat juga bersedia berkorban jika tanah yang dimilikinya dijadikan kawasan objek wisata, sebab memang kampung kami ini benar-benar terdapat di tepi pantai. Kalau janji-janji saja yang diucapkan tentu saja masyarakat merasa kecewa,’’ ulas Hamzah yang baru menjabat sebagai penghulu enam bulan terakhir.
Hamzah memaparkan, warganya juga sudah mengetahui akan rencana pembangunan Rupat Utara sebagai wisata bahari. Karenanya, sejak jauh-jauh hari, masyarakat yang 80 persen bermata pencaharian sebagai nelayan, sudah menangkap peluang yang terbuka jika rencana itu diwujudkan menjadi kenyataan.
Warganya yang juga memiliki kebun karet, sawit serta beternak sapi dan ikan itu sudah mendengar isu serupa sejak 1980-an silam. Setakad ini, ungkap Hamzah, turap sudah dibangun di dusun Tanjung Jaya sepanjang 200 meter dan akan dilakukan selama dua tahap. Bahkan telah diukur dan rencananya turap akan tuntas dalam tahun ini sepanjang dua kilometer.
‘’Walau pun kampung-kampung sudah lumayan tertata dengan perlengkapan pariwisata seperti warung-warung dan WC umum, namun yang namanya wisatawan sangat jarang datang ke sana. Hanya beberapa mahasiswa yang pernah datang untuk penelitian atau Praktek Kerja Lapangan (PKL) dan itu pun sangat jarang terjadi,’’ ujarnya panjang lebar.(bersambung)
|